
Reina tengah sibuk mempercantik dirinya. Dia tidak bisa membuat Nathan kecewa dengan berdandan seadanya. Reina harus tampil secantik mungkin agar Nathan semakin terkesan padanya.
Perempuan itu memakai sebuah jeans panjang ketat dan kaos putih polos yang dibungkus Long Vest berwarna hitam yang senada dengan celananya.
Dibandingkan harus memakai dress dan gaun, Reina lebih memilih memakai celana dan t-shirt.
Setelah memastikan tak ada yang kurang pada penampilannya. Ia pun segera meninggalkan hotel tempatnya menginap selama beberapa hari ini, lebih tepatnya sejak Vivian mengusirnya keluar.
Reina segera menghentikan taksi yang akan membawanya ke cafe tempat dia janjian dengan Nathan. Dia tidak bisa terlambat dan membuat Nathan menunggu terlalu lama.
25 menit akhirnya dia tiba di cafe tempatnya dan Nathan akan bertemu. Reina memperhatikan penampilannya memastikan tidak ada yang kurang sebelum bertemu sang pujaan hati. Dan setelah semua aman, ia pun melenggang memasuki cafe tersebut.
"Nathan," seru Reina lalu menghampiri pemuda itu. "Maaf ya, sudah membuatmu menunggu lama." Ucapnya penuh sesal.
Reina duduk di kursi kosong disamping Nathan. Gadis itu terlihat malu-malu ketika Nathan menatapnya. "Langsung saja ya, aku juga menyukaimu dan aku mau menerima cintamu. Meskipun jadi yang kedua aku juga tidak apa-apa." Ucapnya.
Nathan hanya diam dan tidak memberikan respon apa-apa. Dia tidak tau apa yang Vivian obrolkan dengan perempuan disampingnya ini melalui chating. Karena memang bukan Nathan yang berkirim pesan dengan Reina melainkan Vivian.
"Nathan, kenapa kau diam saja? Kenapa tidak mengatakan apapun?"
"Kau sedang ngelindur ya?" Ucap Nathan dan membuat Reina kebingungan.
"Maksudmu apa? Kenapa bisa kau mengatakan jika aku sedang ngelindur?" Ucap Reina kebingungan.
"Memangnya siapa yang mengajakmu berkencan?"
"Bukannya kamu yang mengatakannya? Semalam kita saling berkirim pesan dan kau mengatakan menyukaiku, hari ini mengajakku bertemu disini. Nathan, kau jangan pura-pura lupa apalagi melupakan chating kita semalam. Ini aku memiliki buktinya," kemudian Reina menunjukkan isi chat di-ponselnya pada Nathan.
"Maaf mengecewakanmu. Tapi itu bukan nomor ponselku dan aku tidak merasa berkirim pesan semalam."
"La..lalu kenapa kau ada disini jika tidak mengajakku untuk bertemu?"
Nathan menatap datar wanita itu. "Aku datang karena ada janji dengan teman-temanku. Jadi sebaiknya kau pergi saja sebelum ada yang salah paham dengan hubungan kita. Dan sebentar lagi Vivian juga datang, aku tidak kau dia sampai salah paham dan mengira kita memiliki hubungan special!!"
"Na..Nathan, kau~"
Reina tampak berkaca-kaca. Dia nyaris tak percaya saat tau jika yang semalam bertukar pesan dengannya bukanlah Nathan melainkan orang lain. Tapi siapa orang yang begitu iseng dan tidak memiliki kerjaan itu.
"Sayang, maaf terlambat," seru Vivian lalu memeluk Nathan dari belakang. Lalu pandangannya bergulir pada Reina. "Kau, sedang apa disini?"
"Aku~"
"Aaah, pasti mau ketemu dengan Nathan ya, sayang sekali ya karena bukan dia yang sebenarnya berkirim pesan denganmu. Tapi aku, maaf sudah membuatmu salah paham dan mengira itu Nathan. Sudah jelaskan sekarang, jadi pergilah dan jangan ganggu suamiku lagi!!"
__ADS_1
Reina memperhatikan sekelilingnya. Orang-orang sedang membicarakan dirinya. Mereka berbisik-bisik dan tak sedikit dari mereka yang menyebutnya wanita penggoda, pelakor.
"Vivian, kau~!!"
Tak ingin semakin dipermalukan. Reina pun memutuskan untuk pergi dari sana. Sementara Vivian tampak mengurai senyum penuh kemenangan.
-
-
"Mi, aku ingin memiliki adik,"
Byurrr....
"Uhuk... Uhuk..." Luis menyemburkan air di dalam mulutnya dan terbatuk-batuk setelah mendengar permintaan putrinya. Lovely meminta adik pada Jesslyn.
"Daddy, kau kenapa? Aissh, kau ini sudah tua tapi kenapa masih saja seperti bocah. Minum air saja tidak hati-hati!!" Omel Lovely sambil memberikan beberapa lembar tisu pada ayahnya.
Bagaimana tidak terkejut. Tiba-tiba saja Lovely meminta adik sementara usianya dan Jesslyn sudah tidak muda lagi. Ya, meskipun tidak menutup kemungkinan mereka masih bisa memiliki momongan tambahan.
Lalu pandangan Luis bergulir pada Jesslyn, memberi isyarat supaya dia yang berbicara pada putri mereka.
"Lovely, jangan meminta yang aneh-aneh. Mami dan Daddy-mu sudah tidak mungkin memiliki anak lagi. Usia kami juga sudah tidak muda, tapi kalau kau ingin adik kecil, Mami bisa mengadopsi dari panti asuhan."
Jesslyn menghela napas. "Lain kali saja kita bahas ini lagi. Akan Mami pikirkan, sebaiknya bantu Mami merangkai bunga-bunga ini. Mami mau mengantar ke rumah Kak Silvia."
"Baiklah, Mi."
-
-
Vivian dan Nathan menyusuri jalanan kota Seoul sambil bergandengan tangan. Mereka sengaja berjalan kaki dan meninggalkan mobilnya di cafe tempat karena makan tadi.
Susana kota saat sore hari memang sangat ramai, banyak warga kota yang memadati trotoar, mereka ada yang baru pulang kerja ada pula yang baru pulang sekolah.
Selain itu, banyak kedai-kedai yang menjual makanan, aksesoris dan lain sebagainya.
"Nathan, ada gelang bagus. Bagaimana kalau kita melihat sebentar?" Vivian menarik Nathan ke sebuah kedai aksesoris saat melihat sebuah gelang cantik yang terbuat dari mutiara laut asli.
"Kau menyukainya?" Vivian mengangguk."Pilih apapun yang kau suka." Pinta Nathan, Vivian mengangguk serius. Memang bukan hanya gelang itu saja yang menarik perhatian. Karena banyak aksesoris lain seperti anting, pin rambut dan kalung, dan semua begitu indah.
"Bibi, tolong bungkus sekalian sama yang ini juga ya." Vivian menyerahkan beberapa pasang anting, beberapa pin rambut sebuah kalung dan gelang pada Bibi pemilik kedai.
__ADS_1
"Ini, Nona. Totalnya 35 ribu won," kemudian Vivian memberikan sejumlah uang pada Bibi pemilik kedai.
"Ini, Bibi."
"Terimakasih, Nona."
Setelah dari kedai aksesoris. Vivian menarik Nathan menuju kedai es cream. Meskipun sudah sore hari, tapi Vivian tetap tidak bisa melewatkan makanan favoritnya tersebut.
"Bibi, ice cream dua ya. Satu rasa macha dan satu lagi rasa coklat vanilla."
"Baik, Nona. Silahkan ditunggu."
Nathan dan Vivian duduk di meja kosong dekat jendela, supaya bisa menikmati pemandangan kota saat sore hari.
Banyak mobil yang hilir mudik, orang-orang yang berjalan di trotoar.
Brakkk...
Vivian terlonjak kaget karena pukulan keras pada meja. Beberapa preman memasuki kedai dan meminta uang keamanan pada Bibi dan paman pemilik kedai. "Apa ini? Kenapa hanya segini?! Apa kau ingin aku hancurkan kedainya ini?!" Bentak bos preman itu.
"Maaf, tapi kedai ini sedikit sepi jadi tidak banyak uang yang kami dapatkan!!"
"Aaarrrkkhhh!! Itu bukan urusanku. Berikan uangnya atau~"
Bruggg...
Tubuh pria itu tersungkur ke lantai setelah mendapatkan tendangan telak pada ulu hatinya. Vivian berdiri didepannya dengan tatapan membunuh.
"Yakk!! Apa yang kau lakukan?! Apa kau sudah bosan hidup, hah?!" Bentak preman itu. Lalu dia menatap anak buahnya. "Apa yang kalian lihat? Jangan diam saja, cepat habisi wanita ini!!"
Nathan berdiri di depan Vivian dengan tatapan membunuhnya. "Kalian tidak bisa menyentuhnya. Aku akan memberi kalian dua pilihan, rumah sakit atau kuburan?! Silahkan pilih dengan bijak sebelum pukulanku meremukkan tengkorak kepala kalian semua!!"
"Bo..Bos, dia adalah Nathan Qin. Se..Sebaiknya kita jangan cari masalah dengannya. Ayo pergi saja." Ucap salah seorang anak buah preman tersebut yang ternyata mengenali Nathan.
"Jangan berulah lagi disini, jika kalian tidak ingin aku habisi!!"
"Ba..Baik,"
Tak ingin mati konyol di tangan Nathan, mereka pun memilih pergi. Dan pemilik kedai sangat berterimakasih pada pasangan muda itu. Karena jika tidak ada Nathan dan Vivian pasti mereka sudah kehilangan banyak uang.
-
-
__ADS_1
Bersambung.