
Jantung Aiden berdegup kencang saat melihat kedatangan Nathan dan Vivian. Tatapan tajam Vivian yang penuh dengan kebencian membuat Aiden langsung menundukkan kepala, dia tidak berani membalas apalagi menatap langsung ke dalam mata itu.
Dengan wajah setengah menunduk, Aiden menghampiri pasangan suami-istri tersebut. Dia sudah memantapkan hatinya untuk meminta maaf pada Nathan dan Vivian. Terutama pada Vivian.
"Mau apa kau mengajak Nathan untuk bertemu?" Tanya Vivian tanpa basa-basi.
"A..Aku~" Aiden berkeringat dingin melihat tatapan Vivian dan sorot matanya yang serasa menel*njanginya.
"Kami tidak memiliki banyak waktu, kadi cepat katakan!!" Pinta Vivian dengan nada yang sama, dingin dan penuh intimidasi.
Aiden menunduk dalam. Kedua tangannya saling mengepal, dan kedua matanya tertutup rapat. Dengan lirih dia bergumam. "Maaf," ucapnya lirihnya. Tapi masih bisa di dengar dengan baik oleh Nathan dan Vivian.
Vivian menyeringai sinis. "Apa kau bilang, maaf?! Apa kau pikir kata maafmu bisa mengembalikan calon anakku yang mat! Karena dirimu. Apa kau pikir kata maafmu bisa mengembalikan kebahagiaanku yang hancur? Apa kau pikir kata maafmu bisa mengembalikan harapanku sebagai seorang Ibu?!" Air mata Vivian jatuh tanpa bisa dia cegah. Emosi tengah menguasai dirinya.
Vivian menggeleng sambil menatap Aiden yang lagi-lagi menundukkan kepala. "Tidak Aiden, jangan kau pikir karena kau dan aku terlahir dari rahim yang sama, tumbuh dan lahir bersama, maka aku akan memaafkanmu dengan mudah!! Bahkan sampai kuda beranak gorila, aku tidak akan pernah memaafkanmu, tidak akan pernah!!" Vivian menyeka air matanya dan pergi begitu saja.
"Vivian, tunggu!!" Seru Nathan.
Nathan hendak pergi namun dicegah oleh Aiden. Aiden yang berlinangan air mata berlutut dan memohon supaya Nathan mau memaafkannya. "Nathan, aku mohon, maafkan aku. Aku tau aku bersalah dan apa yang sudah kulakukan tidak akan termaafkan, tapi tolong maafkan aku." Pinta Aiden memohon.
"Aku sudah terlanjur kecewa dan sakit hati padamu. Kau dengan gampangnya mengatakan maaf tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang-orang yang telah kau sakiti. Asalkan Vivian bisa memaafkanmu, aku baru mau memaafkanmu!!" Nathan menyentak tangan Aiden dari kakinya dan pergi begitu saja.
Marah, sedih dan kecewa, siapa pun pasti akan merasakannya ketika berada diposisi Nathan. Orang yang sangat dia percayai, orang yang sudah dia anggap sebagai saudara sendiri, dengan kejinya membuat luka menganga dihatinya.
Nathan mungkin memang bisa memaafkan Aiden mengingat mereka dulu pernah berteman baim, tapi sulit baginya untuk melupakan apa yang telah pemuda itu lakukan padanya dan Vivian.
.
.
__ADS_1
Nathan menarik lengan Vivian dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Dalam pelukan Nathan tangis Vivian semakin pecah, isakan pilu dan jeritan menyayat hati seolah-olah mengoyak hati Nathan. Betapa hancur hati dan perasaan wanita itu.
"Aku membencinya, aku sangat-sangat membencinya, dan sampai matipun aku tidak akan pernah memaafkannya!!"
Nathan mengusap kepala Vivian dengan gerakan naik turun. Dagunya bertumpuh di-kepala coklat Vivian. Sangat sit berada diposisi Nathan saat ini, tidak mudah baginya untuk menghadapi Vivian yang telah berubah 180° sejak tragedi itu terjadi.
Mungkin bagi sebagian orang apa yang Vivian alami adalah hal yang biasa dan terlalu berlebihan, karena mereka tidak berada di-posisinya dan merasakan bagaimana sakitnya kehilangan calon buah hatinya.
"Tenangkan dirimu, jangan seperti ini. Kau tidak perlu memaafkannya dan aku tidak akan pernah memaksamu ataupun memintamu untuk memaafkan Aiden, tapi sudah cukup kau menyiksa dirimu sendiri. Karena aku lebih tersiksa melihatmu seperti ini." Ujar Nathan sambil menutup matanya.
"Nathan, aku ingin pulang," ucap Vivian sambil melepaskan pelukan Nathan.
Nathan mengangguk. "Baiklah, ayo kita pulang,"
.
.
Keadaan Vivian sungguh sangat menghawatirkan. Dan tidak menutup kemungkinan jika dia akan mengalami depresi berat jika hal seperti ini terus berlanjut.
Dan dokter juga menyarankan pada Nathan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya Vivian dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa untuk mendapatkan perawatan. Tapi Nathan langsung menolaknya dengan tegas. Karena yang Vivian butuhkan sekarang adalah dukungan, bukan tekanan.
"Nathan, bagaimana keadaan Vivian?" Silvia menghampiri adik iparnya itu setelah melihat Nathan keluar dari kamarnya.
Nathan mendesah berat. "Semakin buruk, sekarang dia sedang beristirahat setelah diberi obat penenang oleh dokter."
"Lalu apakah dia bisa kembali normal seperti dulu?"
Nathan mengangguk. "Bisa, tapi butuh sedikit waktu dan saat ini Vivian sangat membutuhkan dukungan dari kita semua, keluarganya. Agar dia bisa keluar dari ujian ini." Tutur Nathan.
__ADS_1
"Jujur saja, Nathan. Aku sedih dengan keadaan Vivian saat ini. Anak itu yang selalu ceria sekarang menjadi sosok yang berbeda. Rasanya seperti melihat orang lain,"
"Ya, itu juga yang aku rasakan. Tapi mau bagaimana lagi. Ini adalah ujian dan cobaan dari Tuhan. Dan hanya kita, keluarganya, yang bisa menguatkannya." Tutur Nathan.
Silvia mengangguk. "Kau benar, dia memang membutuhkan kita semua."
"Aku titip Vivian sebentar," ucap Nathan dan berlalu.
Kemudian Nathan meninggalkan Silvia begitu saja. Kepalanya sedikit pusing dan Nathan hendak pergi ke halaman belakang untuk menenangkan diri sebentar. Dia bisa meninggalkan Vivian karena ada Vivian yang bisa menggantikan dirinya untuk menjaga istrinya.
-
-
Aiden meneguk kembali minumannya yang tinggal tersisa beberapa tetes lagi. Sedikitnya sudah lebih dari lima botol Soju yang sudah ia minum selama satu jam ini.
Pemuda itu memukul dadanya yang terasa sesak dengan sedikit brutal. Berharap apa yang ia lakukan bisa mengurangi rasa sesak di dadanya meskipun kenyataannya hal itu tidak berpengaruh sama sekali.
Aiden mengangkat wajahnya karena kedatangan Arya cs. Ketiga pemuda itu mendengus melihat wujud berantakan Aiden. Dia seperti anak jalanan yang tidak terurus selama berbulan-bulan.
"Mereka tidak mau memaafkanku, terutama Vivian, dia sudah sangat membenciku!!" Aiden menundukkan kepalanya.
"Apa yang mau kau sesali, bukankah itu adalah buah dari benih yang kau tabur sendiri. Jika saja sejak awal kau tidak bersikap menyebalkan, pasti hal semacam ini tidak akan terjadi."
Kemudian mereka bertiga meninggalkan Aiden begitu saja. Mereka sendiri terlalu malas untuk berurusan dengan pemuda satu ini, terlalu sakit hati dengan apa yang sudah Aiden lakukan pada Nathan selama ini.
Apakah mereka membenci Aiden? Maka jawabannya adalah tidak, mereka hanya sulit untuk bersikap baik padanya karena apa yang telah Aiden lakukan. Dan disisi lain, apa yang mereka lakukan semata-mata agar Aiden bisa menyadari semua kesalahannya selama ini.
-
__ADS_1
-
Bersambung.