
"Presdir, tamu Anda sudah tiba."
"Persilahkan dia masuk,"
"Baik, Presdir."
Nathan meninggalkan meja kerjanya dan menyambut kedatangan rekan kerjanya yang dari Jepang. Seharusnya itu menjadi tugas ayahnya, tapi sayangnya Luis masih di luar negeri dan belum kembali.
Dua pria dan seorang gadis muda memasuki ruang kerja Nathan. Rona merah muncul di kedua pipi gadis itu ketika berhadapan dengan Nathan. Sosoknya yang begitu tampan membuatnya tidak berkedip selama beberapa detik.
"Selamat datang, Tuan Yamanaka, silahkan duduk." Nathan mempersilahkan.
"Ternyata Anda adalah putra, Tuan Luis. Seperti yang dirumorkan, Anda memang sangat tampan dan berkharisma, Tuan Muda Qin." Ucap tuan Yamanaka memberikan pujiannya.
"Anda terlalu berlebihan, Tuan Yamanaka. Silahkan duduk," Nathan mempersilahkan.
Sepanjang Nathan dan ayahnya membahas soal kerjasama, tak sedikit pun putri Tuan Yamanaka yang bernama Reina meloloskan pandangannya dari sosok tampan yang ada di depannya. Dari cara Reina menatapnya saja, sudah bisa dipastikan jika dia tertarik dan jatuh hati pada Nathan.
Menyadari hal tersebut. Sang asisten pun segera memberi tahu Tuan Yamanaka. Tuan Yamanaka mengangguk mendengar apa yang dibisikkan oleh asistennya tersebut.
Jika Nathan dan Reina bisa bersatu, tentu saja hal tersebut bisa sangat menguntungkan perusahaannya.
"Bagaimana menurut Anda, Tuan Muda Qin? Apakah Anda merasa tertarik dengan rencana kerjasama kita?" Ucap Tuan Yamanaka.
"Maaf, Tuan. Tapi saya tidak bisa memutuskannya sendiri. Harus menunggu persetujuan dari papa, karena dia yang layak mengambil keputusan apakah perusahaan kita bisa mengadakan kerjasama atau tidak." Tutur Nathan.
"Tidak masalah, kami bisa menunggu. Dan kebetulan sekali kami agak lama disini, Reina bilang dia ingin sekali liburan di kota ini, karena datang ke kota Seoul sudah menjadi impiannya sejak lama. Dan jika Tuan Muda tidak keberatan, bisalah menemaninya jalan-jalan berkeliling kota."
Pintu ruang istirahat terbuka lebar. Dan sosok jelita keluar dari dalam sana dengan tatapan dinginnya. "Maaf sekali, Tuan. Saya rasa tidak bisa, karena suami saya terlalu sibuk. Dia memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, jadi sebaiknya menyewa jasa pemandu saja." Saran wanita itu yang pastinya adalah Vivian.
__ADS_1
Tuan Yamanaka menatap Nathan tak percaya. Sementara Reina langsung memasang wajah kecewa. "Tuan Muda Qin, jadi Anda telah menikah?" Ucapnya memastikan. Nathan mengangguk.
"Memangnya kenapa kalau sudah menikah!!" Ucap Reina tiba-tiba. Gadis itu berdiri dari duduknya dan menatap Vivian dengan tatapan tajam. "Raja saja bisa memiliki lebih dari satu istri, lalu kenapa Tuan Muda Qin tidak bisa? Nona, sebaiknya Anda harus berlapang dada untuk berbagi suamimu dengan orang lain!!"
"Nona Muda yang terhormat. Tapi sayangnya ini bukan era kerjaan, dimana seorang raja harus memiliki lebih dari satu istri. Dan sebagai seorang istri, tentu saja saya tidak mau dan tidak sudi jika harus berbagi suami dengan orang lain termasuk anda!!"
"Kau~"
"Reina, cukup!! Benar apa yang dikatakan Nyonya Muda Qin, jadi jangan mempermalukan dirimu sendiri. Nyonya Muda, maafkan atas kelancangan putri saya. Tuan Muda Qin, kalau begitu kami permisi dulu,"
Tuan Yamanaka menarik putrinya keluar dari ruangan Nathan. Reina memberontak dan berusaha untuk melepaskan cengkraman ayahnya. Dan tuan Yamanaka baru melepaskan cengkramannya setibanya mereka di luar gedung perusahaan Qin Empire.
"Ayah, sakit!!"
"Reina, apa-apaan kau ini? Bukan begitu cara mainnya, jika menggunakan cara seperti itu, bukannya mendapatkan hati Tuan Muda Qin melainkan dia malah membencimu. Jika kau memang menyukainya, kau harus mengejarnya dengan cara halus. Pertama-tama buat dia dan istrinya menjadi jauh, dalam kata lain buat konflik diantara mereka." Ujar Tuan Yamanaka memberi saran.
Reina tidak akan menyerah begitu saja. Dia pasti akan mendapatkan Nathan bagaimana pun caranya. Karena cinta itu layak untuk diperjuangkan.
-
-
Vivian menekuk mukanya dan membuang muka, dia tdiak mau menatap Nathan sama sekali. Sepertinya wanita cantik itu sedang dilanda cemburu berat karena kehadiran seorang wanita asing di perusahaan suaminya.
Nathan mendengus geli. Dia menghampiri Vivian yang masih tidak mau memandangnya itu. "Cemburu, eh?" Nathan menyeringai. Vivian sontak menoleh dan menatap suaminya itu.
"Menurutmu? Dan bagaimana mungkin aku tidak cemburu saat melihat ada wanita cantik yang terang-terangan ingin menjadi maduku!! Itukan sangat menyebalkan, apalagi kau seolah tidak peduli dan diam saja melihat dia menggodamu seperti wanita murahan. Bukan seperti lagi, tapi dia memang murahan!!"
"Memangnya aku tergoda? Tidak kan, lagipula aku sudah memilikimu, jadi untuk apa lagi aku mencari yang lain apalagi penggantimu. Jangan berpikir yang tidak-tidak, dan berhenti mengabaikan ku."
__ADS_1
"Kalau begitu bujuk aku supaya tidak kesal dan marah lagi."
Nathan mendengus geli. Dia menarik Vivian dan menempatkan wanita itu di-pangkuannya. Kedua tangan Nathan memeluknya. "Kau ingin ku bujuk seperti apa supaya tidak marah lagi? Dengan cara lembut atau...."
"Mana aku tau, pikirkan sendiri saja caranya!!" Vivian menyela ucapan Nathan.
"Dasar kau ini!!" Nathan menarik tengkuk Vivian dan mencium bibirnya.
Nathan menurunkan tangannya dari punggung Vivian, kemudian melingkarkannya di pinggang rampingnya, kini dia semakin dalam menarik wanita itu dalam dekapannya, hingga tak ada jarak lagi diantara mereka berdua.
Kedua mata Vivian terpejam menikmati lum*tan dan pagutan bibir Nathan, sesekali ciuman hangatnya pindah ke leher jenjangnya dan meninggalkan beberapa jejak merah tanda kepemilikan di-sana.
Nathan dan Vivian tampak saling menikmati ciuman mereka, saling berbalas lum*tan, pagutan dan saling menghisap satu sama lain.
Dan setelah pergulatan bibir mereka selama lebih dari satu menit, tampak mulai kehabisan asupan oksigen, ia terlihat ingin melepaskan ciumannya, namun dicegah oleh Nathan. Nathan masih menuntut Vivian untuk terus membalas lum*tan ciuman yang ia berikan untuknya.
“Eumm… Na...Nathan..” ucap Vivian disela-sela ciumannya, ia sudah nyaris kehilangan asupan oksigennya. Hingga terdengar bunyi kecupan, bibir mereka sudah tidak saling bertautan.
Mereka saling menatap dalam pada bola mata masing-masing seraya mengatur nafas mereka yang tidak beraturan belum lagi detak jantung mereka yang berdebar-debar. Sudut bibir mereka sama-sama tertarik keatas. Kemudian Vivian menghambur ke dalam pelukan suaminya.
"Aku sangat mencintaimu, itulah kenapa aku tidak rela jika harus membangimu dengan yang lain. Karena kau hanya satu-satunya untukku," ucap Vivian sambil mengeratkan pelukannya.
Nathan menggeleng. "Kau tidak perlu mencemaskan apapun, karena aku hanya milikmu, dan selamanya akan begitu. Aku juga sangat-sangat mencintaimu," jawab Nathan dan membalas pelukan Vivian.
-
-
Bersambung.
__ADS_1