Istriku, Ga!Rah Cintaku

Istriku, Ga!Rah Cintaku
Baik-Baik Saja


__ADS_3

Vivian yang sedang sibuk menyiapkan makan malam di dapur menoleh setelah mendengar suara deru suara mobil memasuki halaman rumahnya. Tak berselang lama, Nathan masuk sambil memegangi mata kanannya.


"Nathan," seru Vivian. "Apalagi ini? Kenapa sampai diperban lagi?" Vivian menatap suaminya dengan cemas.


"Tidak apa-apa. Sedikit masalah pada mata bionikku, jadi aku pergi ke rumah sakit untuk operasi ulang." Jelasnya.


"Lalu, bagaimana kata dokter? Matamu baik-baik saja bukan?"


Nathan mengangguk meyakinkan pada Vivian jika kondisi matanya baik-baik saja. "Tidak perlu cemas, Sayang. Semua baik-baik saja, dalam tiga pekan mataku bisa kembali normal." Ujarnya menuturkan.


"Syukurlah kalau begitu. Lalu kenapa pergi sendiri dan tidak mengajakku? Aku kan bisa menemanimu,"


Nathan mengusap kepala Vivian penuh sayang. "Kau tadi sedang tidur siang jadi aku tidak tega untuk membangunkanmu. Aroma apa ini, lezat sekali. Apa kau sedang menyiapkan makan malam?" Tanya Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Vivian.


"Mandilah dulu, setelah ini kita makan malam sama-sama." Ucapnya. Nathan mengangguk, dia mengecup kening Vivian dan pergi begitu saja.


Wanita itu menatap punggung Nathan yang semakin menjauh dengan sendu. Seberapa banyak dia telah membuat cemas suaminya itu, mungkin sudah saatnya ia bangkit dari keterpurukannya dan membuat Nathan tidak sedih lagi.


Vivian kembali ke dapur dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Masih ada setengah jam lagi sebelum jam makan malam. Dan dia hanya tinggal menyiapkan menu terakhir untuk makan malam mereka berdua.


Tepat saat Vivian menyelesaikan masakan terakhirnya, Nathan datang dengan pakaian yang berbeda. Celana panjang hitam dan baju atasan lengan terbuka. Vivian tersenyum lebar menyambut kedatangan sang suami.


"Ayo, makan sekarang," ucap Vivian tanpa melunturkan senyum menawan itu dari bibirnya.


"Tapi setelah aku mendapatkan makanan pembukaku!!" Ucapnya menyeringai.


Kemudian Nathan menarik pinggang Vivian lalu mencium bibirnya dengan brutal. Memagut, menghisap dan mel*mat bibir ranum itu dengan penuh nafsu. Entah sudah berapa lama Nathan tidak mencium Vivian seperti ini, lebih tepatnya sejak tragedi menyakitkan yang menimpa keluarga kecilnya.


"Eeeungghh..."


Lengkungan panjang yang keluar dari bibir Vivian, Nathan manfaatkan untuk mendapatkan lebih. Lidahnya menelusup masuk ke dalam mulut wanita itu dan mulai mengobrak-abriknya.


Lidah Nathan menyapu dinding-dinding mulut Vivian, mengabsen satu persatu barisan gigi putihnya dan membawa lidahnya untuk menari bersama.

__ADS_1


Namun ciuman tersebut tak lebih dari satu menit, Nathan mengakhiri ciuman itu ketika Vivian mulai kehabisan napasnya.


"Ini lebih manis," Nathan mengusap sisa liur di-bibirnya.


"Lebih manis dari cake ya," wanita itu tersenyum sambil memandang wajah tampan suaminya. Meskipun perban membebat mata kanannya, tapi hal itu tak mengurangi sedikit pun ketampanannya.


"Tentu saja," Nathan menarik ujung hidung Vivian lalu merangkulnya menuju meja makan.


Selanjutnya makan malam mereka lewati dengan tenang. Tak ada lagi perbincangan, hanya terdengar suara sendok dan piring yang saling berdentingan.


.


.


Usai makan malam dan mencuci semua piring serta wadah-wadah yang kotor. Vivian dan Nathan memutuskan untuk pergi ke kamar mereka yang berada di lantai dua.


Nathan mengeluhkan nyeri dan ngilu pada mata kanannya pasca operasi kecil tadi. Dan hal itu membuat Vivian menjadi sangat cemas, tapi Nathan meyakinkan pada istrinya jika ia baik-baik saja.


"Kita ke rumah sakit lagi saja ya, mungkin saja ada kesalahan saat operasi tadi." Vivian menatap Nathan dengan cemas.


Kedua tangan Nathan memeluk pinggang rampingnya. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Vivian sambil mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan.


"Memangnya kenapa? Yang aku tatap adalah istriku sendiri, apa tidak boleh?"


"Toh, tidak ada undang-undangnya jika seorang suami dilarang menatap istrinya sendiri," jawab Vivian menimpali.


Nathan menyibak rambut panjang Vivian ke samping. Dikecupnya leher wanita itu sambil sesekali menghisapnya dan meninggalkan jejak kepemilikan di-sana. "Kenapa kau begitu cantik, Baby. Kau benar-benar membuatku bergairah saat bersentuhan denganmu,"


Sekali lagi Nathan mengecup leher Vivian, dan sedikit menjepit kulitnya di antara dua belah bibirnya. Vivian mendongakkan kepalanya agar Nathan lebih leluasa, jari-jari lentiknya meremas rambut belakang Nathan ketika dia menyesap lehernya lebih dalam.


"Uhhh,,," Vivian kembali mengeluarkan des*han.


Tubuh Vivian memberikan respon yang luar biasa pada setiap sentuhan Nathan. Bibir dan lidah pemuda itu terus menyusuri di beberapa titik sensitif Vivian, membuat des*han hebat berkali-kali lolos dari bibir ranumnya.

__ADS_1


Nathan menjauhkan wajahnya dari leher Vivian dan kembali mencium bibirnya seperti tadi. Tapi ciuman kali ini lebih singkat dari ciuman mereka sebelumnya. "Kenapa tidak diteruskan?" Nathan menatap Vivian dengan kecewa.


Pemuda itu tersenyum. Sebelah tangannya menangkup sisi wajah Vivian. "Lain kali saja ya, aku tau kau lelah. Tidak perlu memaksakan diri hanya untuk membuatku senang. Sebaiknya sekarang kau tidur, jangan tidur terlalu malam. Tidak baik untuk kesehatan." Kemudian Nathan mengecup kening Vivian lalu membantunya berbaring.


"Kau juga harus segera tidur, jangan tidur terlalu malam apalagi begadang sambil minum-minum."


Nathan menggeleng. "Sebentar lagi aku juga tidur." Ucapnya menimpali.


Kondisi Vivian belum benar-benar stabil saat ini, dan Nathan tidak ingin membuatnya tertekan dengan mengajaknya berhubungan bad*n. Sebenarnya sah-sah saja dan tidak ada larangan dari dokter, tapi Nathan sendiri yang memutuskan untuk tidak melakukannya untuk sementara waktu.


-


-


Aiden mengangkat wajahnya menyadari kedatangan seseorang. Seorang gadis cantik berambut panjang berpakaian sedikit minim duduk disampingnya.


"Aku lihat kau hanya sendirian saja, boleh aku temani? Kau baru ya, aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Oya, perkenalkan, aku Tasya," gadis itu mengulurkan tangannya pada Aiden dan memperkenalkan diri.


Aiden menatap gadis itu. "Maaf, tapi bisakah kau meninggalkanku sendiri? Aku sedang ingin sendirian." Ucapnya datar.


Gadis itu mengangguk. "Ya, baiklah. Maaf sudah mengganggumu, tapi jika kau butuh teman untuk mengobrol, cari saja aku." Tasya bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja .


Hanya melihatnya sekilas. Semua orang pasti tau jika Tasya adalah salah satu wanita yang bekerja di club' tempat Aiden berada saat ini. Baju yang minim, wajah yang cantik dan kulit putih serta bentuk tubuh yang nyaris sempurna.


Tasya meninggalkan Aiden dan bergabung dengan teman-temannya yang lain. Dia menatap pemuda itu dari kejauhan dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Sebenarnya Tasya sudah memperhatikan Aiden sejak dia datang tadi, tapi dia baru berani menghampirinya.


"Tasya, ayo turun. Sudah waktunya kita membuat pertunjukan." Ucap salah satu teman Tasya.


Gadis itu mengangguk. Sebelum pergi Tasya menyempatkan diri untuk memandang Aiden, pemuda itu masih dalam posisi yang sama. Melamun sambil menundukkan kepala. Tasya tidak tau apa masalahnya, tapi sepertinya pemuda itu memang tidak dalam keadaan baik-baik saja.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2