
"Omo!! Luis, kau sedang apa?"
Jesslyn yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut melihat suaminya yang berbaring diatas tempat tidur dengan posisinya yang err, sangat menggoda. "Malam ini begitu dingin, bagaimana kalau kita saling menghangatkan. Sekaligus mengabulkan permintaan Lovely."
"Aku sedang datang bulan, jadi tidak bisa malam ini. Tamuku baru datang siang tadi." Ucap Jesslyn.
Luis mendesah kecewa setelah mendengar ucapan istrinya. Padahal dia sangat ingin melakukannya, tapi sialnya tamu bulanan Jesslyn malah datang diwaktu yang tidak tepat. Luis harus menahannya selama satu Minggu penuh sampai tamu itu pergi.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan tidur lebih awal." Ucapnya.
Luis kemudian berbaring dengan posisi yang benar. Keinginannya untuk bercocok tanam malam ini gagal total karena Jesslyn sedang kedatangan tamu bulanan.
-
-
"Nathan, lihat ada bintang jatuh!!" Seru Vivian dengan hebohnya. "Bagaimana kalau kita membuat permintaan?! Aku dengar saat ada bintang jatuh, maka permohonan kita akan langsung dikabulkan."
"Dan kau mempercayainya?"
Vivian menggeleng. "Percaya tidak percaya, tapi tidak ada salahnya kita mencobanya bukan,"
"Lalu apa yang kau minta?"
"Anak, aku ingin segera hamil lagi dan memiliki anak. Aku sangat mendambakan kehadiran seorang bayi mungil di pernikahan kita agar lebih sempurna."
Nathan mengusap kepala Vivian. "Jadi kau sudah tidak ingin menundanya lagi?" Vivian mengangguk. Lagipula tidak ada gunanya menundanya terlalu lama. "Baiklah jika itu yang kau inginkan, aku setuju untuk tidak menundanya lagi." Ucap Nathan dan membuat senyum Vivian mengembang lebar.
Vivian menghambur ke dalam pelukan suaminya dan memeluk Nathan dengan erat."Gomawo, kau memang yang paling mengerti aku. Aku beruntung memilikimu sebagai suamiku."
Nathan membalas pelukan Vivian sambil mengurai senyum tipis. "Aku jauh lebih beruntung memiliki istri sehebat dirimu." Balas Nathan sambil mengeratkan pelukannya.
Baik Nathan maupun Vivian tidak ada yang pernah menduga dengan takdir yang Tuhan tentukan untuk mereka. Berawal dari teman masa kecil, dan sekarang mereka malah menjadi suami-istri.
__ADS_1
"Sudah larut malam, ayo pulang." Nathan berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Vivian. Wanita itu mengangguk. Keduanya kemudian meninggalkan taman area Sungai Han.
Silau sinar lampu mobil yang melaju kencang membuat Nathan dan Vivian tersentak kaget. Mobil itu melaju kencang kearah mereka berada, padahal lampu lalu lintas sudah berganti warna untuk para pejalan kaki.
Dan mobil itu seperti sengaja mengincar mereka berdua.
Dengan sigap, Nathan membawa Vivian ke-tepi jalan, hingga mereka berdua terhindar dari kecelakaan. Sedangkan mobil yang mengincar mereka berdua hilang kendali dan terbalik sebelum akhirnya terperosot sejauh puluhan meter.
Sementara itu, orang yang mengemudikan mobil tersebut terlempar keluar ketika mobil terbalik. Tubuhnya berakhir di aspal dalam keadaan terluka parah dan bersimbah darah. Orang-orang pun langsung berhamburan dan mengerumuni si pengemudi yang ternyata adalah perempuan.
"Reina?!" Seru Vivian setelah melihat wajah orang itu.
"Nona, Anda mengenali orang ini?" Salah satu warga yang ada di lokasi bertanya pada Vivian.
Wanita itu mengangguk. "Ya, saya mengenalnya. Sebaiknya segera hubungi polisi, perempuan ini sudah tidak bergerak dan kemudian meninggal di tempat." Ujar Vivian.
Dalam hatinya dia berharap supaya Reina mati saja agar tidak ada lagi orang menyebalkan yang mengganggu rumah tangganya dengan Nathan. Dan apa yang menimpa Reina bagaikan sebuah karma yang dibayar dengan kontan.
-
-
Perhatian Aiden segera terlaihkan. Terlihat sebuah mobil sport memasuki halaman rumah yang memiliki dua lantai tersebut. Aiden tersenyum melihat siapa yang datang, akhirnya yang ditunggu-tunggu menampakkan batang hidungnya.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Vivian sedikit tidak bersahabat.
"Aku datang untuk mengantarkan ini. Hari ini aku mendapatkan gaji pertamaku, dan aku lihat dress ini terpajang disebuah boutique. Aku rasa dress ini sangat cocok untukmu." Aiden memberikan sebuah paper bag pada Vivian. Namun dia tak lantas menerimanya.
Vivian menatap Aiden datar. "Kenapa kau harus menghamburkan uang untuk hal seperti ini. Lagipula aku memiliki banyak dress yang belum terpakai. Tapi karena sudah terlanjur dibeli, aku akan menyimpannya." Kemudian Vivian meninggalkan Aiden begitu saja.
Nathan menepuk bahu Aiden. "Dia sepertinya sudah mulai membuka hatinya sedikit demi sedikit untukmu. Jangan menyerah, teruslah berusaha. Disini sangat dingin, ayo masuk." Aiden mengangguk.
Diatas meja sudah ada dua cangkir teh hangat. Dan tanpa bertanya pun tentu mereka berdua sudah tau untuk siapa dua cangkir teh hijau itu. "Minumlah, selagi masih panas. Aku ke kamar dulu." Vivian beranjak dan pergi begitu saja.
__ADS_1
"Kakak, terimakasih. Aku pasti akan membuatmu memaafkanku!!" Seru Aiden namun tak digubris oleh Vivian.
Ini adalah awal yang baik dan Aiden tidak akan menyia-nyiakannya. Cepat atau lambat dia pasti akan mendapatkan kasih sayang dari Vivian. Seperti dia mendapatkan kasih sayang dari Silvia dan Nyonya Rossa.
.
.
Vivian terbangun ditengah malam karena haus. Pandangannya lalu bergulir pada jam yang menggantung di dinding dan waktu menunjuk angka 02.00 dini hari. Disampingnya Nathan sedang tertidur pulas, dan Vivian tidak tega untuk membangunkannya.
Perempuan itu menyibak selimutnya lalu berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Namun langkahnya terhenti saat mata Hazel-nya tanpa sengaja melihat Aiden yang tertidur meringkuk di sofa ruang keluarga tanpa selimut.
Vivian mendesah berat. Dia menghampiri Aiden lalu membangunkannya. "Bangunlah, disini sangat dingin. Sebaiknya tidur di kamar tamu." Ucap Vivian dan meninggalkannya begitu saja.
Sebenci apa pun Vivian pada Aiden, tapi dia masih memiliki rasa simpatik sebagai seorang kakak. Dan Vivian tidak ingin dianggap jahat karena membiarkan Aiden meringkuk kedinginan di sofa ruang keluarga.
Setelah dari dapur. Vivian kembali ke kamarnya. Dia masih mengantuk dan hendak melanjutkan tidurnya. Ia tidak boleh bangun terlambat karena besok ia mulai masuk kuliah lagi.
.
.
Cicit burung gereja yang bertengger diatas dahan pohon menyambut datangnya pagi. Seorang wanita muda tengah memagut dirinya di depan cermin. Tubuh rampingnya dalam balutan sebuah dress putih bermotif mawar, rambut panjangnya tergerai dan jatuh diatas punggungnya.
"Dress itu sangat cocok untukmu. Ternyata Aiden memiliki selera yang bagus juga." Ucap Nathan sekeluarnya dia dari kamar mandi.
"Biasa saja. Aku hanya menghargai pemberiannya. Aku tidak ingin disebut sombong dan tidak tau berterimakasih, sudah diberi tidak mau memakainya. Sebaiknya." Ucap Vivian menimpali.
Nathan tersenyum tipis. Dia tau jika rasa sayang dihari Vivian untuk Aiden belum hilang. Cepat atau lambat, hubungan kakak beradik itu pasti akan segera membaik.
-
-
__ADS_1
Bersambung.