
"Uhhh, Sial!!"
Nathan mengeram pelan sambil menekan mata kanannya yang sejak semalam berdenyut nyeri. Mata bionik miliknya memang sering terasa nyeri apalagi jika terkena sinar lampu maupun matahari, dan itu membuatnya tidak nyaman.
Setelah meminum obat dan hendak keluar. Tapi tiba-tiba Vivian masuk dan langsung menubruknya. Hampir saja mereka berdua jatuh bersamaan jika saja Nathan tidak bisa menjaga keseimbangannya dengan benar.
"Vivian, apa yang kau lakukan?! Itu sangat berbahaya!!" Omel Nathan sambil memperkuat sanggahannya pada kedua paha Vivian yang melingkari pinggulnya.
"Nathan, ayo keluar." Rengek Vivian sambil mengunci mata suaminya.
"Kemana? Ini tengah hari dan cuaca diluar sangat terik,"
"Aku tidak mau tau, pokoknya keluar!! Aku ingin makan es kacang merah," rengek Vivian sambil mempoutkan bibirnya.
Nathan menghela napas. Kemudian pemuda itu menurunkan Vivian. Dia mengambil rompi bertudungnya lalu memakainya sebagai luaran singlet hitamnya.
Mata Vivian memicing ketika melihat Nathan mengeluarkan sebuah benda hitam bertali dari dalam laci meja riasnya.
"Natha, untuk apa eyepacht itu?" Vivian menunjuk benda di tangan suaminya dan menatap Nathan dengan bingung.
Nathan mengangkat eyepach itu. "Ini?! Mataku bermasalah lagi, aku akan menutupnya untuk sementara waktu. Seperti yang disarankan dokter Andre," jelasnya. Kemudian Nathan memakai eyepach itu pada mata kanannya lalu menutupinya dengan poni rambutnya. "Ayo,"
.
.
Mereka baru saja meninggalkan kedai ice cream. Entah karena benar-benar ingin atau sedang kalap, Vivian sampai menghabiskan 3 cap ice cream berukuran jumbo. Sedangkan Nathan hanya makan satu cap dan itu pun yang berukuran kecil.
"Ah, kenyangnya." Vivian mengusap perutnya yang terasa penuh karena kekenyangan.
"Kau mau kemana lagi setelah ini?"
Wanita itu tampak berpikir. "Ke rumah mama, aku rindu mama sama Lovely, terutama masakannya."
Nathan mengangguk. "Baiklah,"
-
-
__ADS_1
Jesslyn mengedipkan matanya dan memandang testpack di tangannya dengan pandangan tak percaya. Garis dua yang menandakan jika dia sedang hamil, antara percaya dan tak percaya.
Wanita itu berlari keluar dan menunjukkan hasil testpack tersebut pada Luis. "Lu, lihat ini. Aku hamil." Sontak Luis menoleh lalu mengambil testpack tersebut dari tangan Jesslyn.
"Ini sungguhan?! Kau sungguh-sungguh hamil?" Jesslyn mengangguk menyakinkan. Luis berteriak heboh dan langsung mengangkat Jesslyn lalu membawanya berputar-putar. "Luis, apa yang kau lakukan? Kau membuatku pusing!!"
"Hahaha, maaf Sayang. Aku terlalu bahagia dan bersemangat saat tau jika kau hamil lagi. Ini sungguh berita yang sangat menggembirakan, Lovely pasti bahagia mendengarnya. Dan bukankah sangat luar biasa kau dan Vivian sama-sama memiliki bayi?!"
Jesslyn mengangguk. "Kau benar, Oya anak-anak datang sebentar lagi. Ayo turun untuk menyambut mereka." Jesslyn beranjak dari hadapan suaminya dan pergi begitu saja.
"Sayang, tunggu aku!!" Seru Luis
-
-
Sekali lagi Gio mematut dirinya di depan cermin. Memastikan apakah ada yang kurang pada penampilannya atau tidak.
Hari ini adalah hari pertamanya berkencan dengan Sania, gadis itu akhirnya mau menerima cintanya dan itu membuat Gio sangat gembira.
Karena ini kencan pertamanya, makanya Gio tidak ingin jika sampai ada yang kurang pada penampilannya. Dia harus terlihat sempurna dimata pujaan hatinya.
Gio mengambil kunci mobilnya lalu melenggang pergi meninggalkan kamarnya. Jangan sampai Sania tiba lebih dulu dan menunggu. Karena seharusnya dialah yang menunggu.
Sania menggeleng. "Tidak apa-apa, aku juga baru tiba. Ayo, bukankah ini kencan pertama kita." Sania memeluk lengan Gio membuat senyum pemuda itu mengembang lebar. Dengan semangat dia mengangguk.
Hati Gio berbunga-bunga, sungguh kebahagiaannya tak bisa diutarakan dengan kata-kata. Dan Gio tidak menduga, jika gadis yang dulu merupakan musuh bebuyutannya kini malah menjadi kekasih hatinya.
"Gio, ayo pergi ke wahana bermain. Aku ingin kencan pertama kita dimulai di sana, kau tidak keberatan bukan?" Tanya Sania memastikan.
Gio menggeleng. "Tentu saja tidak, kenapa masih bertanya? Ayo kita pergi." Sania mengangguk sambil tersenyum. Mereka pun pergi ke taman bermain seperti permintaan Sania.
-
-
"MAMA, KAMI DATANG!!"
Vivian meninggalkan Nathan yang sedang memarkirkan mobilnya. Hubungan Jesslyn dan Vivian terjalin begitu baik sehingga mereka berdua sangat akrab, layaknya putri dan ibu kandung.
__ADS_1
"Sayang, kenapa hanya sendirian? Dimana suamimu?"
Vivian menoleh kebelakang. "Aku meninggalkannya, Ma. Dia masih dibelakang," jawabnya. Dan tak lama berselang orang yang mereka bicarakan pun datang.
Jesslyn terkejut melihat benda hitam bertali menyembul dari balik poni putranya. "Nathan, ini kenapa lagi?!" Jesslyn menyibak poni Nathan dan mendapati sebuah eyepacht melekat pada mata kanan Nathan.
"Tidak apa-apa, Mi. Aku sengaja menutupnya, akhir-akhir ini mata bionik-ku sering mengalami masalah lagi," jelas Nathan.
"Bagaimana kalau lakukan operasi sekali lagi? Kita cari dokter dan rumah sakit terbaik di luar negeri?" Usul Jesslyn. Dia benar-benar mencemaskan keadaan putranya.
"Aku setuju dengan usulmu, Ma. Sebaiknya kau saja yang menasehatinya, dia tidak akan mendengarkanku jika aku yang memberitahunya!!" Ujar Vivian.
Nathan mendengus. "Kalian berdua tidak usah berlebihan, nanti juga akan membaik sendiri. Ngomong-ngomong dimana, Daddy?"
"Daddy-mu ada di dalam." Jawab Jesslyn.
"Ya sudah aku masuk duluan." Jawabnya.
Kemudian Nathan meninggalkan Jesslyn dan Vivian berdua di teras depan. Keduanya masuk setelahnya.
.
.
Jesslyn dan Luis menyampaikan sebuah kabar baik pada putra-putrinya. Mereka tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan itu dari semua orang. Terutama Lovely yang sudah sejak lama ingin memiliki seorang adik.
"Apa?! Jadi Mami hamil?!"
Lovely memekik sekencang-kencangnya saat tau jika saat ini ibunya sedang berbadan dua. Yang artinya dia akan segera mendapatkan seorang adik. Kedua mata jernihnya tampak berbinar-binar mendengar apa yang baru saja dia sampaikan.
"Kak, kau dengar itu. Mami kita hamil, kau dan aku akan segera memiliki adik lagi. Mami hamil, Kak Vivian hamil. Huaa, keluarga kita akan semakin ramai nantinya. Aku jadi tidak sabar menunggu mereka lahir kedua!!" Ujarnya bersemangat.
Luis mengusap kepala Lovely. Bukan hanya Lovely yang bahagia tak terkira, tapi Luis juga. Sudah sejak lama sekali dia ingin memiliki anak lagi, hanya untuk memastikan apakah dia masih bisa berproduksi dengan baik atau tidak.
"Ini adalah berita besar dan layak untuk dirayakan. Ma, bagaimana kalau akhir bulan ini kita kita undang semua keluarga dan teman terdekat, kita buat jamuan makan malam. Bagaimana, Mama setuju kan?"
Jesslyn mengangguk. "Bukan ide yang buruk. Baiklah, ayo kita membuat jamuan besar-besaran untuk merayakan kehamilan ini." Vivian mengangguk dengan mantap. Sedangkan Nathan dan Luis tak berkomentar apapun, mereka hanya menurut saja dengan keputusan pada wanitanya.
-
__ADS_1
-
Bersambung.