
Vivian menatap Nathan yang masih bersantai dengan bingung. Bukankah mereka kau pergi ke Busan lalu berlanjut ke Jeju Island. Tapi kenapa suaminya ini masih santai-santai saja dan tidak bersiap-siap juga.
Wanita itu menghentakkan kakinya dengan kesal. Vivian menarik laptop yang ada dipangkuan Nathan, membuat pemuda itu mau tidak mau mengangkat wajahnya dan menatap sang istri penuh kebingungan. Seolah-olah bertanya 'Ada apa?'
"Nathan, kenapa kau begitu menyebalkan?! Bukankah kau sudah berjanji akan membawaku ke Busan lalu ke Jeju saat akhir pekan dan ini adalah hari Minggu!!"
"Lihat jam dinding, Sayang." Nathan menunjuk jam yang menempel di dinding dan waktu menunjuk angka 11 siang. "Jika pergi sekarang, waktunya tidak akan cukup."
"Benar juga, jika saja kita kemarin tidak berperang dingin mungkin tidak akan banyak waktu yang terbuang sia-sia begini." Vivian menghela napas.
Nathan menarik lengan Vivian dengan lembut lalu menempatkan sang-istri di-pangkuannya. Sudut bibir Nathan tertarik keatas. "Masih banyak hal menyenangkan yang bisa kita lakukan, bukan. Jadi kenapa harus merasa sedih," Nathan menatap langsung ke dalam manik mata Vivian dengan seringai tipis disudut bibirnya.
"Hal menyenangkan seperti apa?" Vivian menatap Nathan penasaran.
"Seperti ini," Nathan menangkup sisi wajah Vivian lalu mencium bibirnya dan sedikit mel*matnya.
Refleks Vivian mengangkat kedua tangannya dan memeluk leher suaminya ketika sebelah tangan Nathan berpindah dan menekan bagian tengkuknya. Ciuman Nathan berubah menjadi ciuman yang menuntut, French kiss.
French kiss sendiri adalah ciuman yang tidak hanya melibatkan kelihaian lidah saat menjelajah di dalam mulut. Ciuman ini juga menuntut kemahiran untuk memanipulasi bibir, lidah, gigi, dan seluruh tubuh. Persis seperti yang tengah Nathan lakukan saat ini.
Des*han yang keluar dari sela-sela bibir Vivian ia manfaatkan untuk mendapatkan lebih. Dan disaat ciuman mereka mencapai puncaknya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pada pintu, membuat Vivian dan Nathan harus merelakan ciumannya berakhir, meskipun pada kenyataannya mereka sama-sama tidak rela.
"Ck, siapa sih yang datang. Mengganggu saja," gerutu Vivian seraya bangkit dari pangkuan suaminya.
Nathan menarik ujung hidung mancung Vivian sambil tersenyum. "Tidak perlu kesal, nanti kita lanjutkan lagi. Biar aku lihat siapa yang datang." Ucap Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Vivian.
Mata Nathan memicing melihat seorang kurir mengantar bunga dan coklat untuk Vivian, karena seingatnya dia tdiak memesannya. Kurir itu lalu menyerahkan bunga dan coklat tersebut pada Nathan.
"Silahkan, Tuan, tanda tangan disini." Ucap kurir itu.
"Tunggu, siapa yang mengirim bunga dan coklat ini. Perasaan aku dan istriku tidak pernah memesannya."
__ADS_1
"Saya sendiri tidak tau, tapi ada kartu namanya disitu," si kurir menunjuk kartu nama di bunga tersebut.
Setelah kurir itu pergi. Nathan membawa bunga dan coklat itu masuk lalu menyerahkan pada Vivian. Wanita itu tampak kebingungan, tidak biasanya Nathan bersikap romantis seperti ini.
"Dari salah satu penggemarmu!!" Ucap Nathan dengan nada datar, sepertinya sedang cemburu.
"Dari penggemarku yang mana lagi?" Vivian menatap Nathan bingung.
Nathan mengangkat bahunya acuh. "Mana aku tau, bukankah kau yang punya penggemar!!" Jawabnya sinis.
Vivian tersenyum misterius. Sepertinya mengerjai Nathan akan sedikit menyenangkan. Vivian mengambil coklat dan bunga itu dan menatapnya dengan penuh makna.
"Benar-benar penggemar yang pengertian, tau saja jika suamiku tidak romantis, makanya dia mengirim bunga dan coklat untukku. Bunganya sangat cantik dan coklatnya juga manis. Sepertinya aku harus mentraktirnya makan malam."
Nathan menoleh dan menatap Vivian dengan sinis. Wanita itu tertawa geli melihat ekspresi suaminya yang sangat menggemaskan itu. Vivian mengambil satu lalu menyorotkan pada Nathan. "Kau mau mencobanya? Ini sangat manis loh,"
"Ck, apa sih bagusnya bunga dan coklat itu?! Nanti aku akan membelikan satu pabrik coklat dan satu toko bunga untukmu!! Awas kalau tidak kau habisnya. Ck, dasar penggemar menyebalkan, apa dia tidak bisa mencari yang masih singel!!" Nathan terus saja menggerutu seraya bangkit dari duduknya.
Vivian meletakkan bunga dan Coklat itu diatas meja. Inisial pada kartu membuat pikiran Vivian langsung tertuju pada satu orang, Aiden.
Dan sepertinya dia masih belum sadar dan mengerti juga. Tentu saja Vivian tau apa alasan Aiden mengirim bunga dan Coklat tersebut. Vivian tidak akan membiarkan rencana Aiden berhasil, dan sebaiknya Nathan tidak tau, karena Vivian sudah memiliki cara untuk mengatasinya.
-
-
Aiden menutup ponselnya dan meletakkan diatas meja. Bunga dan Coklat yang dia kirimkan telah diterima oleh Vivian, dan yang lebih menyenangkan lagi, yang menerimanya adalah Nathan.
Otak dan hatinya sudah dikuasai kebencian, apa yang disampaikan oleh Vivian pun tidak bisa membuatnya sadar. Dan sekarang Aiden malah ingin menghancurkan hubungan mereka berdua. Dia ingin membuat Nathan terpuruk karena kehilangan seseorang yang teramat dicintainya.
"Kau terlihat senang, apa yang membuatmu tersenyum selebar itu?"
__ADS_1
Aiden menoleh dan menatap pemuda yang duduk di depannya itu. Dia menyerahkan sebungkus rokok dan pamatiknya. "Tanpa aku jelaskan pun seharusnya kau sudah paham, cepat atau lambat aku akan segera melihat kehancurannya."
"Kenapa kau begitu percaya diri dan yakin jika rencanamu itu akan berhasil?"
"Tentu saja aku yakin, karena Dewi Fortuna sedang berpihak padaku."
Pemuda itu menepuk bahu Aiden. "Aku doakan rencanamu berhasil kawan, tapi jangan terlalu percaya diri. Karena sesuatu yang berlebihan itu tidaklah baik. Aku pergi dulu."
Selepas kepergian pemuda itu. Di ruangan tersebut hanya menyisakan Aiden seorang diri. Masa bodoh dengan yang Vivian katakan, masa bodoh dengan hubungan darah antara dia dan wanita itu. Karena sejak awal ia sendirian dan sampai kapanpun juga ia tetap sendirian.
-
-
"Apa-apaan ini?!"
Vivian memekik sekencang-kencangnya saat melihat beberapa truk memasuki halaman rumahnya. Nathan keluar dari dalam dan menghampiri Vivian. "Bunga dan Coklat untukmu, semoga kau puas!!"
Wanita itu menatap Nathan tak percaya, suaminya benar-benar membelikannya coklat satu pabrik dan bunga satu toko. Apa Nathan sudah gila?! Dia tau jika uang bukan masalah bagi Nathan, tapi yang menjadi masalahnya, bagaimana mungkin dia bisa menghabiskan coklat sebanyak itu.
"Kau gila ya, aku hanya bercanda dan kenapa kau menanggapinya dengan begitu serius?!"
Nathan mengangkat bahunya. "Kau bilang aku adalah suami yang tidak romantis bukan? Jadi aku ingin membuktikan padamu jika sebenarnya diriku juga bisa romantis seperti para penggemarmu yang fanatik itu!!"
"Iya, tapi tidak begini juga, astaga Nathan, aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranmu!!" Kemudian Vivian menghampiri truk-truk itu. "Kalian salah alamat, sebaiknya bawa pergi coklat dan bunga-bunga ini."
Vivian tidak mungkin menerima semua coklat dan bunga-bunga tersebut, dan dia menganggap jika Nathan sedang kurang kerjaan.
-
-
__ADS_1
Bersambung.