Istriku, Ga!Rah Cintaku

Istriku, Ga!Rah Cintaku
Telah Bertunangan


__ADS_3

Sejak dinyatakan hamil. Vivian memutuskan untuk mengambil cuti kuliah dan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Bukan apa-apa, hal itu semata-mata Vivian lakukan untuk melindungi janin di dalam perutnya karena dia tidak ingin kehilangan lagi untuk kedua kalinya.


Saat ini Vivian sedang menjahit pakaian untuk calon anaknya nanti. Dari pada beli diluar, dia lebih memilih membuatnya sendiri. Vivian pernah ikut les menjahit dan mendesain pakaian ketika masih duduk di sekolah menengah, jadi dia cukup mahir dalam hal menjahit pakaian.


Bukan hanya untuk bayinya. Vivian juga membuat untuk calon adik iparnya yang saat ini masih berada di dalam kandungan ibu mertuanya.


"Kakak, aku datang!!"


Teriakan dari teras mengalihkan perhatiannya. Vivian kemudian bangkit dari duduknya lalu melangkah keluar dari kamarnya. Dari tangga, dia melihat kedatangan Aiden dan Nathan. Vivian menghampiri mereka berdua.


"Aku bertemu dengan Aiden di jalan, motornya mogok ketika dalam perjalanan kemari, jadi aku memberinya tumpangan." Jelas Nathan yang seolah-olah mengerti apa yang Vivian pikirkan.


Vivian mengangguk paham. "Ya sudah, aku buatkan minum dulu." Kemudian dia beranjak dari hadapan Nathan dan Aiden, udara hari ini lumayan terik, membuat sesuatu yang segar mungkin tidak ada salahnya. Begitulah yang Vivian pikirkan.


Selang beberapa menit. Vivian datang membawa dua gelas jus segar untuk Nathan dan Aiden. "Dimana Tasya, kenapa tidak pernah kau ajak dia datang kesini lagi?" Tanya Vivian.


Raut muka Aiden tiba-tiba berubah sendu ketika Vivian membahas soal Tasya. "Dia sudah tidak dekat lagi denganku. Tasya menikah satu Minggu yang lalu. Ternyata selama ini dia sudah memiliki seorang tunangan," jelasnya.


Nathan dan Vivian saling bertukar pandang. Vivian mendekati Aiden lalu menepuk bahunya. "Tidak perlu bersedih, itu artinya dia bukan jodohmu. Kedepannya pasti aku akan mendapatkan yang lebih baik darinya." Ucapnya menasehati. Aiden mengangguk, ternyata patah hati sangat menyakitkan.


Meninggalkan Aiden di ruang keluarga. Vivian kembali ke kamarnya, sementara Nathan masih duduk diruang keluarga bersama Aiden. Vivian hendak melanjutkan menjahitnya yang sempat tertunda.


.


.


Vivian terkesiap saat merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang. Lalu jari-jari besar itu mengangkat dagunya dan mel*mat pelan bibir bawahnya.


Sebelah tangan Nathan menarik Vivian untuk berdiri tanpa melepaskan tautan bibirnya.


Nathan menarik pinggang Vivian dan membunuh jarak diantara mereka. Kedua tangan Vivian memeluk leher Nathan ketika pemuda itu memperdalam ciumannya. Membuat des*han beberapa kali lolos dari bibir ranum tipis itu.

__ADS_1


"Bibirmu sangat manis, aku menyukainya." Ucap Nathan sesaat setelah melepaskan tautan bibirnya. Hanya selang beberapa detik saja, bibir Vivian kembali berada di dalam pagutan bibir Nathan, dan dia ********** seperti tadi.


Namun ciuman itu berakhir kurang dari satu menit. Vivian sudah hampir kehabisan napas, nafasnya jadi lebih pendek setelah hamil. Entah dia sendiri tidak tau.


"Sekarang kau jadi begitu payah, Sayang." Cibir Nathan sambil menyeka liur dibibir Vivian.


Wanita itu berdecak sebal. "Berhenti mencibirku, kau menyebalkan!!" Nathan terkekeh. Dengan gemas dia menarik ujung hidung Vivian sebelum kembali membenamkan bibirnya pada bibir Vivian dan memagutnya seperti tadi.


Refleks, Vivian mengangkat kedua tangannya dan memeluk leher Nathan. Ciuman mereka kembali memanas ketika Nathan menelusupkan lidahnya ke dalam mulut Vivian.


Dan lagi-lagi Nathan harus mengakhiri ciuman tersebut karena Vivian mulai kehabisan napas. "Maaf, mungkin ini efek dari kehamilanku," ucap Vivian penuh sesal.


Nathan menggeleng. "Tidak apa-apa, hanya masalah kecil saja, tidak perlu meminta maaf. Sebenarnya apa yang sedang kau kerjakan?" Nathan menatap Vivian penasaran.


"Aku sedang membuat baju untuk calon anak kita dan juga calon anak mama. Aku rasa membuat sendiri lebih menghemat biaya daripada membelinya di toko. Asalkan menggunakan bahan terbaik, buatan sendiri pun akan terasa lebih nyaman ketika dipakai." Ujarnya.


Nathan mengusap kepala Vivian. "Kalau begitu kau lanjutkan saja. Aku keluar dulu, kasihan Aiden sendirian diluar." Vivian mengangguk. Dan selepas kepergian Nathan, Vivian pun melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda.


-


-


Tak hanya Tao, nasib serupa juga dialami oleh Rio. Meskipun tak separah Tao, mereka sudah mencari masalah dengan orang yang salah. Dan untungnya hanya hukuman ringan saja yang Nathan berikan pada mereka berdua.


"Minum teh jahe ini. Ini bisa sedikit menghangatkan tubuh kalian berdua," Mia menghampiri Tao dan Rio sambil membawa dua cangkir teh jahe.


Jesslyn datang dan mengomeli mereka berdua."Makanya jangan cari gara-gara sama singa jantan yang sedang kelaparan. Sudah tau Nathan seperti apa orangnya masih berani mengerjainya. Kalian benar-benar sudah bosan hidup!!"


Tao dan Rio mempoutkan bibirnya. Bukannya prihatin, Jesslyn malah mengomeli mereka. Belum lagi Lovely yang sedari pagi terus mencibir mereka berdua. Dan sementara itu, Silvia baru saja tiba dikediaman Qin, dia mencari suaminya dengan wajah memerah seperti hendak menelan orang secara bulat-bulat.


"RIO QIN, KELUAR KAU!!"

__ADS_1


Rio membelalakkan matanya mendengar suara yang sangat familiar itu. Baru juga mendengar suaranya, tapi sudah membuat bulu kuduk Rio berdiri, itu belum melihat seperti apa ekspresinya.


"Alamak, mati aku. Bagaimana ini, Silvia bisa menggantungku hidup-hidup kalau begini." Ucapnya panik.


Tak ingin mendapatkan masalah dari istrinya. Rio pun bergegas pergi dari kediaman Qin sebelum Silvia menyadari keberadaannya. Tapi sialnya Silvia melihat ketika Rio hendak memanjat tembok untuk melarikan diri.


"Yakk!! Rio, mau kemana kau?! Jangan kabur kau bajingan!!"


"Sayang, maaf. Tapi aku harus menyelamatkan diri. Sebaiknya jangan lari-lari. Pikirkan janin di dalam perutmu itu!!" Serunya dengan keras.


"Rio Qin, aku pasti akan membunuhmu!!"


-


-


Gio dan Sania berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Pasangan kekasih yang baru saja memulai hubungannya itu begitu mesra seperti dunia hanya milik mereka berdua.


Melihat sikap Sania yang begitu manja padanya membuat Gio semakin mencintainya. Dan mereka sama-sama tidak ada yang ingin saling berjauhan. Benar-benar pasangan bucin.


"Sayang, nanti setelah pulang kuliah bagaimana kalau kita pergi menonton?" Usul Sania sambil menatap Rio penuh harap.


"Nonton ya, aku rasa bukan ide yang buruk. Kebetulan aku memang berencana mengajakmu pergi jalan-jalan. Sejak jadian, baru satu kali kita pergi berkencan." Ujar Rio, dan Sania mengangguk membenarkan.


Arya, Sean dan Dio hanya bisa gigit jari melihat bagaimana mesranya pasangan baru itu. Mereka begitu serasi dan selalu terlihat mesra setiap detik menitnya. Dan itu membuat mereka bertiga menjadi sangat iri dan makan hati.


Melihat orang lain berpasangan, mereka juga ingin memiliki kekasih juga.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2