
"Papa...."
Nathan yang baru saja pulang bekerja langsung di sambut oleh putri kecilnya. Bocah mungil itu berlari dan menghambur kedalam pelukan sang ayah. Nathan mengangkat kedua malaikat kecilnya kedalam gendongannya. "Papa lelah?" tanya si bungsu Hanny dengan suara cadelnya khas anak kecil.
"Hum," Nathan menggumam lalu mengangguk.
Menggendong buah hatinya dan membawanya masuk ke dalam. Sudut bibir Nathan tertarik ke atas melihat Vivian yang tengah sibuk menyiapkan makan malam.
Menurunkan Hanny dari gendongannya dan memberikan pada pengasuhnya lalu menghampiri sang Istri. "Apa yang sedang kau masak, sayang? Kelihatannya lezat." Bisik Nathan sambil memeluk Vivian dari belakang dan mencium singkat pipi kirinya.
"Kau sudah pulang?"
"Hum, aku merindukanmu baby." bisik Nathan lalu menyandarkan dagunya pada bahu Vivian. Vivian tersenyum tipis, melepaskan pelukan Nathan kemudian berbalik dan mencium singkat bibir kemerahan suaminya.
"Kau sudah bertemu, Hanny? Dari pagi dia rewel terus minta di antar menemuimu. Sepertinya putri kecil kita benar-benar tidak ingin jauh dari papanya." ujar Vivian.
Nathan terkekeh. "Ya aku rasa begitu. Tapi aku bahagia karena dia lebih menyayangi papanya dari pada mamanya, kekeke."
"Yakkk... mana boleh begitu." Vivian mencerutkan bibirnya kesal dan yang terjadi selanjutnya adalah bibirnya sudah berada dalam pagutan bibir Nathan. Wajah murung Vivian cerah seketika karena ciuman itu.
Wanita berparas barbie tersebut mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan dan membalas ciuman sang suami
"Aku sudah menyiapkan makan malam. Sebaiknya kau mandi dulu setelah ini kita makan malam sama-sama." tutur Vivian sesaat setelah Nathan. mengakhiri ciumannya.
"Dimana Steve? Aku tidak melihatnya dari tadi,"
"Dia di rumah nama, katanya kangen dengan bibi kecilnya."
"Hm, begitu. Aku mandi dulu." Vivian mengangguk.
Hanny adalah anak kedua Nathan dan Vivian. Usianya baru tiga tahun, tetapi dia sangat pandai dan aktif. Dibandingkan kakaknya, Hanny lebih menurun sifat Vivian, sedangkan Steven lebih ke Nathan.
Sembari menunggu Nathan selesai mandi, Vivian menghampiri kedua buah hatinya yang tengah di suapi oleh pengasuhnya. Wanita itu tersenyum sambil membuka lebar kedua tangannya ketika si bungsu berlari menghampirinya sambil mencerutkan bibirnya
"Mama. Kenapa kakak belum pulang juga, padahal aku sangat merindukannya."
"Besok kita jemput kakak ya, sekarang Hanny makan dulu saja dengan Bibi kemudian tidur lebih awal. Bukankah Hanny juga merindukan kakek dan nenek," ucap Vivian.
__ADS_1
Bocah perempuan itu mengangguk. "Benar, benar, Hanny memang sangat merindukan Nenek dan Kakek. Sudah beberapa hari tidak bertemu mereka rasanya sangat rindu sekali."
Vivian tersenyum lebar, di usapnya kepala Hanny penuh sayang. Kemudian dia berdiri saat melihat kedatangan Nathan. Dan keluarga kecil itu pun menyantap makan malamnya dengan tenang.
-
-
"Nenek, Kakek, Hanny datang!!"
Jesslyn sedang merangkai bunga di ruang keluarga ketika terdengar suara teriakan keras dari teras depan. Ibu tiga anak itu tersenyum lebar mendengar suara siapa yang datang. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri cucu kesayangannya itu.
Bocah perempuan itu berlari menghampiri Neneknya dan langsung memeluk Jesslyn. Mereka memang sangat dekat. Jesslyn sangat menyayangi Hanny dan selalu memanjakannya, itulah kenapa gadis kecil itu selalu merindukan neneknya.
"Nenek, dimana kakak dan bibi Jessica? Hanny rindu mereka,"
"Kakakmu itu kakek ke kantor, sedangkan Bibimu pergi les,"
Wajah Hanny berubah murung. "Ya, sayang sekali. Padahal aku sangat merindukan mereka berdua. Tapi gak apa-apa deh, yang penting aku bisa bertemu dengan Nenek. Nenek, Hanny lapar, bisakah Nenek memasak makanan yang lezat untukku?"
"Tentu, Sayang."
"Biarkan saja, kan jarang-jarang dia makan disini, ayo masuk." Vivian mengangguk.
Hanya Vivian dan Hanny yang pergi ke kediaman Qin. Nathan tidak ikut karena dia sedang bekerja. Jesslyn dan Vivian keduanya kemudian beriringan masuk ke dalam, sedangkan Hanny sudah berlari duluan.
Meskipun baru berusia 3 tahun. Tetapi Hanny begitu aktif dan lincah, bahkan dia tidak takut ketika bersosialisasi dengan orang-orang baru dan lingkungan baru.
-
-
Siang yang terik perlahan menyingsing. Sang Surya mulai tenggelam di ujung barat sana. Di sebuah gedung perkantoran yang memiliki puluhan lantai, terlihat seorang bocah laki-laki berusia 8 tahun tengah mendengarkan penjelasan dari sang ayah dengan serius.
Meskipun usianya baru 8 tahun. Tetapi dia sudah menunjukkan minatnya di dunia perbisnisan. Baik sang ayah maupun kakeknya sering membawanya ke kantor ketika sekolah libur untuk belajar langsung.
"Bagaimana, apa kau sudah mengerti?" Tanya sang ayah pada bocah laki-laki itu.
__ADS_1
"Em, aku sudah mengerti. Pa, kapan kita pulang? Aku dengar mama dan Hanny ada di rumah nenek. Bagaimana kalau kita ke sana jemput mereka?" Usul bocah laki-laki itu yang pastinya adalah Steven.
"Ya, Papa juga berencana pergi ke rumah nenekmu."
"Aku ke ruangan kakek dulu. Nenek bilang aku harus mengawasinya, kakek suka mencuri waktu untuk merokok secara diam-diam. Dan nenek bilang kakek harus diawasi dengan ketat."
Nathan mengusap kepala putranya dan mengangguk. Sudut bibir Nathan tertarik keatas. Dia menatap kepergian putranya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Meskipun Steven sedikit banyak mewarisi sifatnya, tetapi setidaknya dia tidak mewarisi mulut tajamnya. Karena saat seusia putranya dulu, Nathan memiliki mulut yang tajam dan kata-kata menusuk.
.
.
"Hayo, kakek merokok lagi ya? Mau aku adukan pada Nenek?"
Buru-buru Luis membuang rokoknya saat melihat kedatangan cucunya. Lelaki tua itu menggeleng sembari tersenyum kaku. "Aduh, Sayang. Siapa juga yang merokok, itu tadi Kakek tidak sengaja menemukannya di atas lantai, jadi Kakek ambil untuk dibuang. Tadi ada tamu dan mereka merokok." Ujar Luis memberi penjelasan.
"Aku tidak bodoh, Kakek. Dan kau tidak bisa mengibuliku." Jawab Steven menimpali.
"Hahaha, aduh bagaimana ya Kakek mengatakannya. Prince, jangan kasih tau nenekmu ya. Kakek nanti bisa dihukum berat kalau dia sampai tau. Oh, begini saja. Bagaimana kalau Kakek memberimu jabatan bagus di kantor ini. Kau kan sangat cerdas,"
"Tapi aku masih terlalu kecil."
"Kita beli es krim,"
"Aku tidak suka manis,"
"Atau begini saja. Kakek akan memberimu uang supaya kamu bisa membeli apa pun yang kau mau, bagaimana?"
"Tapi aku tidak kekurangan uang dan lagipula aku tidak mata duitan!!"
"Lalu apa?!"
"Tau ah, sebaiknya Kakek berdoa saja supaya aku lupa dan tidak mengadu pada nenek. Aku mau santai dulu," Steven naik ke atas sofa lalu berbaring dengan nyaman di-sana.
Luis sedang memutar otaknya supaya cucunya itu tidak sampai mengadu pada neneknya. Karena akan panjang urusannya jika Jesslyn sampai tau jika dia diam-diam merokok. Bisa-bisa Luis tidur di teras selama.7 hari 7 malam.
-
__ADS_1
-
Bersambung.