Istriku, Ga!Rah Cintaku

Istriku, Ga!Rah Cintaku
Relakan Dia


__ADS_3

Semakin hari keadaan Vivian sudah semakin membaik. Dia keluar dari rumah sakit sekitar dua Minggu yang lalu, dan Vivian mulai bisa merelakan kepergian calon anaknya, meskipun terkadang dia masih menangis setiap kali mengingatnya.


Selama dalam pemulihan, Nathan menjaganya dengan sangat baik. Tak sekalipun dia meninggalkan Vivian sendirian, dan Nathan selalu berada disampingnya selama 24 jam penuh, hanya ketika mandi dan mulas saja.


"Kau sedang apa?" Tegur Nathan melihat Vivian diam termenung di balkon kamar mereka. Wanita itu menoleh lalu menggeleng."Masuklah, udara disini sangat dingin. Kau bisa sakit jika terlalu lama berdiri disini."


"Sebentar lagi, aku masih ingin melihat bintang." Jawabnya tersenyum.


Nathan lalu meninggalkan Vivian sendiri di-balkon dan masuk ke dalam. Tak sampai satu menit Nathan kembali sambil membawa selimut yang kemudian dia tangkupkan pada tubuh wanita itu.


Vivian tersenyum simpul. Dia kemudian merapatkan selimut tersebut lalu menyandarkan kepalanya pada bahu kanan Nathan. "Kau lihat bintang diatas sana, satu bintang besar dan satu bintang kecil, pasti di Surga mama sedang menjaga anak kita." Ucap Vivian dengan suara parau-nya.


"Berhenti membahas hal-hal yang membuatmu sedih, Vi!! Sekarang dia sudah tenang di sana, jika kau seperti ini terus, itu hanya akan menghancurkan dirimu sendiri!! Aku tau kau sangat sedih dan kehilangan, aku pun sama, tapi kita tidak bisa seperti ini terus!! Jadi aku mohon, berhenti menyiksa dirimu sendiri lebih dari ini!!"


"Nathan, aku~"


"Masuklah, udara disini sangat dingin!!" Kemudian Nathan beranjak dari sisi Vivian dan pergi begitu saja.


Vivian menggigit bibir bawahnya. Air mata tampak menggenang di pelupuknya. Apakah Nathan marah padanya? Kenapa dia berkata begitu dan bersikap dingin padanya? Dan apakah salah jika ia bersedih dan berduka atas kehilangan janinnya?! Bukankah seharusnya Nathan menghiburnya, bukan malah memarahinya.


Wanita itu meninggalkan balkon dan masuk ke dalam. Nathan sedang berbaring dalam posisi terlentang. Sebelah lengannya menutupi wajahnya, dan matanya tertutup rapat. Vivian menatapnya, tapi Nathan tak bergeming sama sekali.


"Apa kau marah padaku? Nathan, maaf..." Lirih Vivian parau. "Aku tau kau sebal melihatku seperti ini. Tapi musibah ini terlalu menyakitkan untukku, kau tidak berada di-posisiku. Aku bersamanya selama hampir dua bulan, dan itu yang membuatku merasa sangat hancur,"


Nathan menurunkan lengannya dari wajahnya. Pemuda itu menghela napas panjang, Nathan kemudian beranjak dan merengkuh Vivian kedalam pelukannya. Dengan lirih dia berkata.


"Maaf, aku hanya terbawa emosi sesaat." Ucapnya penuh sesal. Kemudian Nathan melepaskan pelukannya. Matanya mengunci mata Vivian. "Aku hanya tidak ingin kau terlalu lama larut dalam kesedihan, meskipun sangat menyakitkan, tapi kita harus bisa merelakannya. Kasihan dia jika kita terus-terusan bersedih seperti ini." Ujar Nathan menasehati.


"Maaf," lirih Vivian berbisik.


Wanita itu membalas pelukan Nathan dan menenggelamkan dirinya di depan pelukan suaminya. Kedua tangan Vivian mencengkram pakaian yang Nathan kenakan, dia menggigit bibir bawahnya untuk meredam isakannya. Agar tidak sampai ke telinga Nathan.

__ADS_1


Setelah beberapa saat. Nathan melepaskan pelukannya. Dia melihat jejak air mata di bulu mata Vivian. Tapi Nathan tak berkata apa-apa dan memilih diam.


"Hoam, aku lelah. Mataku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi, ayo kita tidur. Aku akan memelukmu sepanjang malam,"


Vivian menatap Nathan kemudian mengangguk mengiyakan. Ia memilih mengalah.


-


-


Arya, Sean dan Dio menatap sebal Aiden yang selama beberapa hari ini terus mengurung diri di dalam kamar. Sejak kejadian yang menimpa Vivian, Aiden memutuskan untuk kembali pada teman-temannya.


Tapi untuk kembali dan mendapatkan maaf dari mereka, tentu bukan perkara yang mudah. Aiden harus memohon sampai berlutut sambil menangis, namun hal itu tidak bisa membuat hati mereka luluh. Sepanjang malam Aiden berlutut sambil kehujanan baru mereka mau mempertimbangkan dan mengijinkan Aiden untuk masuk ke dalam.


Arya menatap makanan yang masih utuh diatas meja, Aiden belum menyentuhnya sama sekali. "Ck, apa kau mati kelaparan, kenapa makanannya tidak kau sentuh sama sekali?!" Tanya Arya.


"Aku tidak lapar."


"Aku takut untuk menghadapi mereka, terutama Vivian. Dia pasti sudah sangat membenciku." Aiden menekuk kakinya dan menyembunyikan wajahnya.


"Bagaimana kau bisa tau, sementara kau belum mencobanya. Pergi dan temui mereka, bagaimana mereka nanti setidaknya kau sudah mengambil inisiatif untuk meminta maaf pada Nathan dan Vivian!!"


Aiden menggeleng. "Entahlah, akan aku pikirkan dulu. Bisakah kalian pergi, aku ingin sendiri." Aiden mengangkat wajahnya dan menatap mereka bertiga penuh harap. Ketiganya berdecak sebal, kemudian mereka meninggalkan Aiden sendirian di kamarnya.


-


-


"Vivian?!"


Nathan terkejut saat bangun dan tidak mendapati sang-istri berbaring disampingnya. Pemuda itu turun dari tempat tidurnya dengan cepat untuk mencari Vivian. Kamar mandi kosong, balkon kosong, lalu Nathan pergi keluar dan mendapati Vivian sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan.

__ADS_1


Pemuda itu menghela napas lega. Dengan tenang Nathan menghampiri Vivian yang sepertinya belum menyadari kedatangannya. Sampai pelukan hangat membuatnya sedikit terlonjak kaget.


"Hampir saja aku memukulmu dengan spatula. Kau mengejutkanku!!"


"Siapa suruh kau tiba-tiba menghilang dan membuatku takut saja, aku pikir kau pergi kemana," ujarnya.


"Bukankah kau sendiri yang memintaku supaya tidak terlalu larut dalam kesedihan, dan sekarang aku sedang mencoba untuk bangkit lagi. Sebaiknya segera mandi setelah ini kita sarapan sama-sama, kita sudah harus kembali ke kampus. Masa skorsingmu sudah berakhir, papa juga sudah kembali, jadi kau tidak perlu memimpin perusahaan lagi," ujar Vivian panjang lebar.


Nathan mengangguk. Dia memegang wajah Vivian lalu mencium keningnya. "Baiklah kalau begitu aku mandi dulu." Ucapnya dan kemudian dibalas anggukan oleh Vivian.


-


-


Semakin hari Sania dan Gio semakin dekat, meskipun hubungan mereka masih sebatas teman. Karena Gio belum mengungkapkan isi hatinya pada gadis pujaannya tersebut.


Hampir setiap hari mereka selalu datang dan pergi bersama, dan itu membuat panas hati Reno.


"Aarrkkhh, sial!! Bagaimana cara memisahkan mereka berdua, bikin sakit mata saja!!" Reno mengeram kesal. Sakit hati melihat kedekatan mereka berdua, ia pun memilih pergi.


Disaat bersamaan, sebuah mobil sport hitam metalik memasuki parkiran. Mata Sania berbinar-binar melihat siapa yang turun dari mobil tersebut.


"VIVIAN!!" Tubuh wanita itu terhuyung kebelakang karena pelukan Sania. "Akhirnya kau kembali juga. Aku merindukanmu, banyak sekali hal yang ingin aku ceritakan padamu. Ayo kita ke kelas duluan. Nathan, Vivian-nya aku pinjam dulu ya."


"Sania, pelan-pelan, jangan sembarangan menariknya!!" Seru Nathan.


"Iya, iya, dasar bawel!!"


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2