Istriku, Ga!Rah Cintaku

Istriku, Ga!Rah Cintaku
Iri Dan Dengki


__ADS_3

Nathan duduk termenung di kamarnya. Pikirannya membawanya kembali pada kejadian beberapa jam yang lalu. Dimana tanpa sengaja dia melihat seseorang yang wajahnya sangat mirip dengan Aiden. Nathan tidak mungkin salah lihat, dan dia sangat yakin itu adalah Aiden.


"Apa yang sedang kau lamunkan?"


Nathan mengangkat wajahnya dan mendapati Vivian berdiri di depannya sambil membawa beberapa cemilan di pelukannya. Nathan menggeleng. "Tidak ada. Untuk apa cemilan sebanyak itu?" Pemuda itu memicingkan matanya.


"Temani aku nonton, kebetulan di bioskop ada film baru dan aku ingin sekali menontonnya." Rengek Vivian memohon.


"Tapi apa perlu membawa Snack sebanyak itu dari rumah? Bukankah di sana juga ada yang menjualnya, kenapa harus repot-repot membawanya dari rumah?"


"Inilah perbedaan antara pria dan wanita. Jika membeli di sana, itu harganya bisa dua kali lipat. Jadi lebih irit jika kita membelinya sendiri dari luar,"


"Bukannya dilarang membawa makanan sendiri dari luar?"


"Memangnya siapa yang bisa melarangku?! Apa dia sudah bosan hidup, sudahlah jangan cerewet lagi, ayo berangkat sekarang sebelum kehabisan tiket karena filmnya sangat banyak diminati."


Nathan menyeringai. "Sebenarnya ada hal yang lebih penting yang perlu kita lakukan dari pada pergi ke bioskop." Ucapnya dan membuat Vivian memicingkan mata.


"Apa?"


Tanpa mengatakan apapun, Nathan mengangkat tubuh Vivian lalu membaringkan di tempat tidur. Dengan brutal dia mencium dan mel*mat bibir istrinya tanpa ampun. Membuat kedua mata Vivian membelalak saking kagetnya.


Vivian mencoba berontak tapi cengkraman Nathan pada pergelangan tangannya terlalu kuat sehingga dia hanya bisa pasrah dibawah Kungkungan tubuh suaminya. "Aaahhh," ******* keluar dari sela-sela bibirnya ketika bibir Nathan menghisap lidahnya.


Meskipun awalnya merasa terancam dengan apa yang Nathan lakukan, tapi Vivian juga tidak bisa menolaknya, ini terlalu nikmat. Kemudian dia mengangkat kedua tangannya dan memeluk leher suaminya, meremas bagian belakang kepala Nathan.


Vivian mendongakkan kepalanya ketika ciuman itu turun menuju leher jenjangnya, beberapa tanda kepemilikan Nathan tinggalkan di sana.


Lalu ciuman itu terus turun dan turun lagi sampai di bukit kembarnya, Nathan meng*lum salah satu put*ng Vivian dan mengerakkan lidahnya dengan gerakan melingkar. Membuat wanita itu semakin terbuai dan menginginkan lebih.


"Nathan, ahhh..." D*sah Vivian kenikmatan.

__ADS_1


"Bagaimana, Baby, bukankah ini lebih menarik daripada film yang kau maksud itu?" Nathan menatap Vivian dengan seringainya dan wanita itu mengangguk membenarkan. Memang apa yang mereka lakukan saat ini jauh lebih menarik dari apapun itu.


"Jangan ditunda lagi, aku tidak bisa menahannya," ucap Vivian membuat seringai Nathan semakin lebar.


"Kau ini kenapa tidak sabaran sekali, hm. Kau akan segera menikmatinya, Sayang." Nathan kembali mencium bibir Vivian tapi lebih singkat.


Dan selanjutnya tanpa dijelaskan pun tentu semua orang sudah pasti tau apa yang terjadi. Karena bukan hanya bibir mereka yang menyatu, tapi juga tubuh dan jiwanya. Melewatkan malam yang dingin ini untuk saling menghangatkan.


-


-


Menghadapi istri yang sedang hamil memang bukan perkara yang mudah bagi Rio. Kesabaran Rio sering kali diuji oleh tingkah dan sikap Silvia yang berubah drastis sampai 90°. Saat siang hari, dia begitu manja dan tidak pernah mau jauh darinya, tapi ketika malam hari Silvia tidak mau dekat-dekat dengannya.


Rio menghentikan mobilnya di halaman luas mansion mewah Qin. Dia diusir lagi oleh istrinya dan dilarang tidur di rumah mereka. Dan daripada tidur di teras, lebih baik dia pergi ke rumah pamannya.


"Diusir keluar lagi oleh istrimu?" Tebak Marcell 100% benar.


"Tidak perlu diambil hati. Bawaan bayi itu berbeda-beda. Kau hanya perlu bersabar menghadapinya, dan semua pria pasti pernah merasakan bagaimana repotnya menghadapi wanita ketika sedang hamil." Ujar Jesslyn menuturkan.


Dan seketika Rio ingat saat Jesslyn hamil Nathan dulu. Luis pernah berada di posisinya, dan nasibnya 11-12 dengannya. Tapi bedanya Luis tidak pernah terusir keluar dari rumah, tidak seperti dirinya.


"Sebaiknya kau pergi beristirahat. Ini sudah larut malam," ucap Jesslyn yang kemudian dibalas anggukan oleh Rio. Dia memang lelah dan ingin segera tidur. Bukan hanya tubuhnya yang lelah, tapi juga otak dan batinnya.


-


-


Seorang pemuda menghentikan motor besarnya di halaman sebuah rumah sederhana yang berada di pinggiran kota. Rumah itu sebenarnya tidak layak disebut sebagai rumah, tapi lebih tepat disebut tempat uji nyali.


"Kau darimana saja?" Tegur seorang pemuda lain pada pemuda yang baru datang itu.

__ADS_1


"Hanya jalan-jalan cari udara segar." Jawabnya acuh tak acuh. Kemudian dia mendaratkan pantatnya di sofa dan tangan kirinya bergerak untuk mengambil botol Soju yang ada diatas meja.


"Apa tidak terlalu berbahaya kau kelayapan diluar, bagaimana jika orang-orang sampai tau jika sebenarnya kau belum mati?"


Pemuda itu lantas menoleh dan menatap datar pemuda yang berbicara itu. "Sudah bertahun-tahun, orang-orang juga pasti sudah melupakanku. Lagipula aku tidak bisa selamanya terus bersembunyi seperti cacing yang tidak berdaya. Sudah saatnya aku kembali untuk membalas dendam padanya."


"Apa tidak cukup rasa bersalah yang kau tinggalkan padanya malam itu? Sebenarnya apa yang membuatmu begitu membencinya, padahal dia selalu baik padamu,"


Pemuda itu menyeringai. "Karena kau tidak berada diposisi ku. Menjadi yang kedua itu tidak enak, apalagi selalu dibanding-bandingkan dengan orang lain. Awalnya aku memang respek padanya, tapi lama-lama aku muak. Kenapa selalu dia, dia dan dia. Itu yang akhirnya membuatku membencinya!!"


"Alasan yang tidak masuk akal!! Iri dan dengki bukanlah sifat yang terpuji, hanya karena alasan sepele saja kau mengkhianati orang yang begitu peduli padamu. Jangan sampai kau menyesalinya suatu saat nanti. Aku hanya mengingatkanmu, terserah kau mau memakainya atau tidak. Aku lelah, aku tidur dulu." Pemuda itu bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.


-


-


Vivian merasakan ngilu yang luar biasa pada paha dalamnya. Dia sangat merutuki kegilaan Nathan ketika menggempurnya. Nathan benar-benar ingin membuatnya tidak bisa berjalan.


"Aaahhh," Vivian meringis karena rasa perih dan ngilu ketika dia hendak p!p!s. Air yang menyentuh bagian Miss-nya terasa seperti jarum yang menusuk ke dalam daging. "Dasar rusa menyebalkan!! Dia benar-benar ingin membuatku tidak bisa berjalan. Uhh, perih."


"Kenapa jalanmu aneh begitu?" Heran Nathan melihat Vivian yang baru keluar dari kamar mandi.


"Masih tanya lagi, jelas-jelas ini hasil dari gempuranmu tadi. Kau benar-benar keterlaluan, aduh sakit.."


Nathan terkekeh. Kemudian ia bangkit dari duduknya lalu menghampiri Vivian dan menggendongnya bridal style. "Aku bisa menjadi kakimu, jadi kalau mau pergi kemana-mana beri tahu aku saja. Dengan senang hati aku akan membantumu."


"Ya, kau memang harus bertanggung jawab penuh!!"


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2