
Waktu berjalan dengan cepat. Tidak terasa dua bulan telah berlalu dan Vivian sudah bisa melupakan kesedihannya pasca kehilangan calon buah hatinya. Wanita itu kembali menjalani hidup normal dan sudah beraktivitas seperti biasa, kuliah dan melakukan berbagai kegiatan lainnya.
Vivian sedang berada di kantin bersama Sania dan yang lain. Nathan tidak ikut karena dia memang masuk hari ini, Luis sedang ada urusan di luar negeri jadi Nathan harus menggantikan posisinya di kantor selama satu Minggu penuh.
"Kau mau makan apa?" Tanya Sania, mereka sedang memilih menu makan siang. Vivian tampak kebingungan karena banyaknya menu-menu lezat yang ada di daftar menu.
Wanita itu mengangkat bahunya. "Entah, aku sendiri tidak tau. Bagaimana kalau samakan saja denganmu?" Ucap Vivian pada akhirnya. Sania mengangguk menyetujui. Dan setelah memesan dan mendapatkan makan siangnya, mereka berdua segera bergabung dengan Arya cs.
Suasana kantin memang tidak pernah sepi apalagi ketika jam istirahat tiba. Semua meja pasti penuh oleh para mahasiswa dan mahasiswi yang hendak menyantap makan siangnya. "Vi, bagaimana rasanya kuliah tanpa suami tercintamu itu?" Tanya Arya dengan mulut masih penuh makanan. Alhasil makanan itu menyembur kemana-mana.
"Yakk!! Tiang gila, setidaknya telan makanan dimulutmu itu baru bicara!!" Protes Sean sambil mengusap mukanya dengan tisu basah.
"Salah sendiri kenapa mukamu tidak kau tutup dengan dolar-dolarmu yang menyebalkan itu!!" Balas Arya tak mau kalah.
"Aisshh, kalian berdua ini. Kenapa malah ribut, kita sedang makan siang. Nanti lagi saja kalau mau ribut ya!!" Dio buka suara kemudian menengahi perdebatan Arya dan Sean.
Mengabaikan Sean dan Dio. Kembali Arya bertanya pada Vivian. Karena dia belum menjawab pertanyaannya. "Vi, bagaimana tidak ada Nathan, nyaman atau tidak?" Tanya Arya penasaran.
"Tentu saja tidak, tapi mau bagaimana lagi. Nyaman tidak nyaman, aku harus tetap bisa memahami posisinya." Jawabnya.
Ponsel Vivian tiba-tiba berdering menandakan ada panggilan masuk. Nama Nathan tertera menghiasi layar ponselnya yang menyala terang.
Malas jika teman-temannya yang super duper menyebalkan itu sampai menguping pembicaraannya dengan Nathan, akhirnya Vivian memilih mengangkatnya di luar agar dia bisa lebih bebas ketika berbicara dengan suaminya tercinta tersebut.
Dan disini dia sekarang. Vivian berada dibelakang kampus. Segera Vivian menerima panggilan suaminya. "Halo, maaf lama angkatnya, tadi aku di kantin dan teman-temanmu pada ribut. Ada apa? Sudah rindu ya?"
"Hm, pulang kuliah langsung ke kantor saja. Aku kesepian dan sedikit bosan,"
"Baiklah, see you," kemudian Vivian memutuskan sambungan telfon itu begitu saja.
Baru juga dia hendak kembali pada teman-temannya. Beberapa mahasiswi tiba-tiba menghampirinya dan menghadangnya. "Ada perlu apa kalian denganku?" Tanya Vivian pada ketiga mahasiswi itu.
__ADS_1
"Sebenarnya apa hubunganmu dengan, Nathan? Kenapa kalian begitu dekat dan tidak seperti sepasang kekasih?"
Vivian menyeringai sinis. "Kau ingin tau apa hubunganku dengan Nathan? Memangnya apa urusannya denganmu?"
"Karena aku menyukai dia, dan aku tidak suka melihatmu selalu dekat dengannya!! Bukankah di kampus ini banyak yang suka dan tergila-gila padamu. Lalu kenapa kau tidak memilih salah satu dari mereka saja dan tinggalkan Nathan?!"
Vivian melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap perempuan itu dengan seringai yang sama, sinis. "Kalau aku tidak kau bagaimana? Dan...meskipun aku mau meninggalkannya, belum tentu Nathan yang mau karena dia sangat mencintaiku. Jika kau ingin tau apa hubunganku dengannya, kau benar, aku dan Nathan memang bukan sepasang kekasih melainkan suami-istri. Jadi berhenti berharap mulai sekarang sebelum kau semakin terluka!!" Vivian menepuk bahu perempuan itu dan pergi begitu saja.
"Enak saja memintaku menjauhi Nathan. Dia pikir dia siapa, dasar menyebalkan!!" Vivian terus menggerutu di tengah langkahnya.
Ada orang yang seenak jidat memintanya untuk menjauhi Nathan. Tentu saja Vivian tidak mau. Karena dia teramat sangat mencintai suaminya itu.
-
-
"Presdir, ini adalah beberapa dokumen yang harus segera tandatangani." Seorang wanita mendatangi ruangan Nathan sambil membawa beberapa dokumen yang kemudian dia berikan padanya.
"Tapi, Presdir. Ini dokumen penting dan Anda harus menandatanganinya sekarang juga!!"
Nathan mengangkat wajahnya dan menatap wanita itu. Kemudian Nathan membuka dokumen tersebut lalu membacanya, membuat keringat dingin mengucur deras dari keningnya. Dia menggigit bibir bawahnya dengan gugup.
"Surat pernyataan yang menyatakan jika aku harus mau menjadi kekasihmu?!" Nathan kembali mengangkat wajahnya dan menatap karyawannya itu dengan sinis.
"A..Ano, Presdir. Se..sebenarnya itu bukan saya, ta..tapi ibu Maya dari departemen pemasaran. Beliau sangat menyukai Anda, dan dia ingin menjadi pasangan Anda." Jelasnya.
Nathan melempar dokumen itu ke atas meja dan menatap karyawannya itu dengan tajam."Jangan campurkan masalah pribadi dengan masalah kantor. Dan katakan pada orang yang kau maksud itu, sebaiknya jangan bermimpi terlalu tinggi. Karena aku sudah memiliki pasangan!!"
"Ba..Baik Presdir, akan saya sampaikan." Ia membungkuk dan segera meninggalkan ruangan Nathan.
Tak berselang lama terlihat sosok Vivian memasuki ruangan Nathan. Wanita itu menghampiri meja kerja suaminya yang sepertinya belum menyadari kedatangannya.
__ADS_1
"Kenapa dengan karyawanmu itu? Wajahnya terlihat pucat," ucap Vivian setibanya dia dimeja Nathan.
Pemuda itu mengangkat wajahnya dan mendapati Vivian berdiri didepannya. "Kau sudah datang," alih-alih menjawab pertanyaan istrinya. Nathan malah balik bertanya. Kemudian dia mengulurkan tangannya pada Vivian. "Kemarilah," lalu menuntun Vivian untuk duduk di-pangkuannya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa dengan karyawanmu itu? Wajahnya terlihat pucat, kau memarahinya?"
"Hm, hanya sedikit menegurnya." Jawab Nathan seraya mengangkat dagu Vivian lalu mengecup singkat bibir tipisnya.
Vivian mengangkat kedua tangannya lalu memeluk leher Nathan. "Banyak hal yang terjadi di kampus. Beberapa fansmu menghadang ku dan memintaku untuk menjauhimu. Jadi aku beritahu saja dia mereka kalau kau adalah suamiku."
"Lalu bagaimana dengan tanggapan mereka?"
"Tentu saja mereka terkejut. Seenaknya saja memintaku untuk menjauhimu, mereka pikir mereka itu siapa?! Sangat menyebalkan!!"
"Bagus sekali, ini baru istriku!!" Nathan kembali mencium bibir Vivian dan kali ini diiringi lum*tan dan pagutan.
"Kenapa kau bilang begitu? Bukankah selama ini kau tau jika istrimu ini adalah wanita tangguh dan tidak mudah ditindas?! Jadi tidak akan mudah bagi mereka untuk menindasku,"
"Baiklah aku salah, maaf."
"Oya, kau sudah makan siang belum? Aku membawakanmu buah dan cake rasa green tea, bagaimana kalau setelah ini kita makan cake ini sama-sama." Usul Vivian yang kemudian dibalas anggukan oleh Nathan.
"Baiklah,"
Vivian tau jika Nathan tidak menyukai makanan manis, jadi dia membeli cake rasa green tea untuknya, sementara dia yang menyukai rasa manis membeli rasa coklat dan tiramisu.
-
-
Bersambung.
__ADS_1