
Tao menangis tersedu-sedu. Hukumannya belum berakhir, padahal sudah menjelang senja, tapi Nathan belum mau mengakhiri hukumannya. Tao sudah memohon, tetapi Nathan tetap tidak mau mendengarkannya. Dan hukuman Tao baru berakhir ketika tengah malam nanti.
Nasib yang sama juga dialami oleh Rio, hampir setiap hari dia ditindas oleh istrinya yang sedang hamil, dan sekarang malah ditindas dan dikerjai habis-habisan oleh Nathan.
"Nathan, lepaskan Kakak ya," mohon Rio. "Di rumah kakak iparmu sedang menunggu. Dia pasti akan marah besar jika tidak pulang tepat waktu," rengeknya memohon.
"Kakak ipar sudah tau, pulang pun kau tidak akan selamat. Karena Kakak ipar sudah menyiapkan sebuah kejutan besar untukmu,"
Entah kenapa Rio merinding sendiri mendengar kata kejutan besar yang Nathan sampaikan padanya. Pikirannya mulai tidak tenang, entah kejutan besar seperti apa yang tengah Silvia siapkan untuknya.
"Tidak jadi, tidak jadi, besok saja aku pulangnya. Oke, lanjutkan hukuman saja," Rio pasrah.
Lebih baik dia melanjutkan hukumannya dari Nathan, dari pada kena amukan oleh Silvia. Karena Silvia lebih mengerikan dari seekor singa betina sekaligus.
Vivian menghampiri Nathan dan mengajaknya pulang. Sementara hukuman Rio dan Tao dilanjutkan oleh Marcell, Nathan meminta Marcell untuk mengawasi mereka berdua. Tentu saja Marcell melakukannya dengan senang hati, dia memiliki dendam kesumat pada Tao.
-
-
Semilir angin malam itu terasa lebih dingin dari malam-malam sebelumnya, namun hal itu tak lantas membuat Vivian meninggalkan suasana tenang di-balkon kamarnya. Tak ada suara bising apapun yang terdengar di-telinganya, selain suara binatang malam yang memecah dalam keheningan.
Vivian menoleh saat mendengar suara derap langkah kaki seseorang yang datang mendekat. Tak lama sosok Nathan muncul sambil membawa sebuah selimut yang kemudian dia tangkupkan pada tubuh Vivian.
"Udara malam ini sangat dingin, kenapa malah berdiri disini tanpa penghangat apapun,"
"Bukankah ada kau yang bisa menghangatkanku jika aku kedinginan," Vivian tersenyum lebar. Alhasil sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala coklat itu. "Yak!! Kenapa malah menjitakku?!" Keluhnya.
Vivian mempoutkan bibirnya, namun beberapa detik berikutnya bibirnya kembali mengukir sebuah senyuman. Vivian berpindah lalu berdiri disamping suaminya sambil memeluk lengan Nathan yang tersembunyi dibalik jaket hitamnya.
"Sepertinya anak ini ingin sekali berkenalan dengan Papanya, bagaimana kalau kita memperkenalkan dia padamu," Vivian mencoba memberi kode pada Nathan jika dia sangat-sangat ingin bercocok tanam.
Bukannya menolak, tapi Nathan tidak bisa mengabulkan permintaan, usia kandungan Vivian masih terlalu kecil. Dan itu sangat beresiko, Nathan selalu ingat apa yang dokter sampaikan padanya.
__ADS_1
Nathan menepuk kepala Vivian. "Tidak sekarang ya, janin di dalam rahimmu masih terlalu kecil. Ingat apa yang dokter katakan pada kita hari itu, kita harus menjaganya dengan baik. Kau mengerti kan," Vivian mengangguk.
Sepertinya Vivian harus menahannya lebih lama lagi, tetapi itu tidak masalah baginya, karena yang terpenting bagi Vivian adalah janin di dalam perutnya sehat dan baik-baik saja.
"Aku mengerti, itu juga demi kebaikannya. Aku lelah, ayo masuk dan kau harus memelukku sepanjang malam. Jangan sampai saat aku bangun esok pagi aku malah tidak ada di-sampingku,"
Nathan mengangguk. "Tentu, Sayang. Apapun yang kau minta pasti aku turuti, selama itu tidak bertentangan dengan kesehatan janin di dalam rahimmu. Karena jika bukan kita yang menjaganya, lalu siapa lagi?!"
-
-
Gubrakk...
Aiden jatuh dari tempat tidurnya setelah dia bermimpi basah. Dia bermimpi sedang bercinta dengan Tasya, gadis itu begitu agresif sampai-sampai mereka jatuh bersamaan dari tempat tidur. Tapi sialnya, hal indah yang dia alami hanya mimpi saja.
Mendengar suara keras itu membuat Nyonya Rossa terbangun dari tidur lelapnya. Dia pergi ke kamar Aiden dan mendapati pemuda itu sedang berbaring di lantai.
Aiden menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pemuda itu tersenyum tiga jari."Hehehe," bukannya menjawab, Aiden malah tersenyum seperti orang bodoh. "Bibi, aku tadi mimpi dan malah terjatuh," ucapnya.
"Dasar kau ini!! Cepat naik dan tidur di karus, kau bisa sakit jika terlalu lama berbaring di lantai." Ucap nyonya Rossa yang kemudian dibalas anggukan oleh Aiden.
"Hehehe, oke Bibi."
Rossa menggelengkan kepala melihat tingkah pemuda itu. Kemudian ia meninggalkan kamar Aiden dan kembali ke kamarnya untuk melanjutkan yang sempat tertunda karena ulah keponakannya.
Malam ini Rossa harus tidur sendirian karena Kris masih belum pulang dari dinasnya di luar kota. Dia memang sangat sibuk akhir-akhir ini. Sebagai seorang dosen, pekerjaannya jauh lebih memusingkan daripada ketika masih menjadi Asisten Luis. Tetapi mau bagaimana lagi, itu sudah menjadi pilihan Kris sendiri.
-
-
Jam dinding baru menunjuk angka 03.00 dini hari. Vivian tiba-tiba terbangun dan mendapati Nathan sedang tertidur pulas, mau membangunkannya tapi dia tidak tega. Padahal Vivian ingin sekali memakan mie pedas.
__ADS_1
Kruyuk... Kruyuk... Kruyuk...
Perutnya berbunyi. Dan akhirnya Vivian memutuskan untuk membangunkan suaminya itu. "Nathan, bangun." Vivian mengguncang lengan Nathan, memaksa pemuda itu untuk bangun.
"Ada apa, Vi? Ini masih malam, cepat tidur lagi."
Vivian menggeleng. "Aku tidak bisa tidur, cepat bangun dan temani aku membuat mie pedas. Aku ingin sekali makan pedas," rengeknya sambil mengundang lengan Nathan.
Nathan mendesah berat. Dengan kesal dia menyibak selimutnya lalu turun dan melenggang keluar. Vivian tersenyum lebar, ia pun segera menyusul suaminya yang sudah keluar terlebih dulu. Meskipun kesal, tapi Nathan tetap menuruti kemauannya.
Dari jarak 5 meter, Vivian melihat Nathan yang sedang sibuk membuatkan mie untuknya. Dia baru menyalahkan kompor untuk memasak air yang nantinya akan Nathan gunakan untuk merebus mie-nya. Vivian menghampiri Nathan lalu berdiri disampingnya.
"Sebaiknya duduk dan tunggu saja, biar aku yang menyiapkan mienya." Ucapnya.
Vivian mengangguk sambil tersenyum lebar. Dia pergi kemeja makan dan menunggu Nathan di-sana.
Tak sedikit pun Vivian meloloskan pandangannya dari Nathan yang sedang memasak mie untuknya. Dan Vivian akui, pria yang jago memasak itu memang sangat keren.
"Ini mienya. Tidak perlu terburu-buru, pelan-pelan saja ini masih panas," Nathan meletakkan semangkuk mie pedas dimeja.
Wanita itu tersenyum lebar lalu mulai menyantap mie yang dibuatkan oleh suaminya dengan sepenuh hati. Nathan tersenyum, dia hanya diam sambil memperhatikan Vivian yang sedang menyantap mienya. Nathan hanya membuat satu mangkok saja karena dia memang tidak lapar.
"Kau ingin mencobanya?" Tawar Vivian.
Nathan menggeleng. "Aku masih kenyang, kau saja yang makan. Setelah ini tidur lagi," ucapnya yang kemudian dibalas anggukan oleh Vivian.
"Em, baiklah."
-
-
Bersambung.
__ADS_1