Istriku, Ga!Rah Cintaku

Istriku, Ga!Rah Cintaku
Cinta Sejati


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 12 tengah malam namun Vivian masih tetap terjaga.


Ckelkkk..!!


Wanita itu membuka pintu kaca yang menghubungkan kamarnya dengan balkon. Wanita itu berjalan menuju balkon dalam keadaan kaki tel*njang, udara malam yang dingin langsung menyambutnya. Vivian merapatkan piama tidur yang membalut tubuh rampingnya.


Wanita itu terkekeh pelan mengingat masa kecilnya yang menurutnya begitu menyenangkan. Setiap malam ia selalu menjerit ketakutan karena ulah Silvia. Saat masih kecil, Silvia sangat jahil dan suka menakut-nakutinya.


Dengan wajah meyakinkan, dia mengatakan jika ada monster besar dan berwajah mengerikan di setiap sudut kamar yang Vivian tempati, di bawah tempat tudurnya, di dalam laci atau di balik cermin. Sampai suatu hari Silvia mengatakan jika Monster itu suka sekali makan ice cream kesukaan Vivian dan akan menghabiskan semua ice cream yang wanita itu miliki. Alhasil Vivian kecil pun menangis saking takutnya dan tidak jarang sampai terkencing di celananya.


Pernah saat malam tiba, Vivian sampai mengambil semua ice cream miliknya yang tersimpan di lemari pendingin dan membawanya ke dalam kamarnya. Semua ice cream itu pun akhirnya mencair dan mengotori pakaian serta spreinya. Memang dasarnya cengeng, Vivian kecil pun hanya bisa menangis di tengah malam.


Ada malam-malam di mana Vivian yang saat itu duduk di bangku sekolah dasar dan mulai mengenal dunia baru. Banyak kecemasan dan ketakutan yang ia fikirkan, mulai dari nilai ulangannya yang jelek atau tidak mendapatkan hadiah yang begitu ia inginkan.


Vivian selalu memikirkan diam-diam sampai tidak bisa tidur.


Wanita itu tersenyum tipis mengingat semua kenangannya di masa lalu. Di mana ia masih begitu kekanakan dan cenggeng, tapi siapa sangka jika wanita yang dulu sangat cenggeng dan penakut itu kini menjadi seorang Ibu dan istri.


Rasanya masih tidak percaya sampai ia melihat sosok tampan yang sedang terlelap di ranjang king size miliknya. Pandangan Vivian kembali berpusat pada langit gelap berbintang.


Bulan sabit melengkung cantik dengan di temani bintang di langit kelam yang sedikit berawan. Ranting-ranting pohon meliuk seirama dengan gugurnya daun-daun kering dari tempatnya yang kemudian jatuh menghantam tanah yang lembab.


Pandangan Ellena kemudian teralihkan saat ia merasakan ada sepasang tangan kekar yang memeluknya dari belakang serta seseorang menyandarkan dagunya di atas bahu kanannya. Vivian tersenyum tipis, dari aroma tubuhnya saja dia sudah tau siapa orang yang tengah memeluknya itu.


"Kenapa kau ikutan bangun?" tanya Vivian kemudian berbalik badan, posisinya dan Nathan kini saling berhadapan.


"Bagaimana aku bisa tidur dengan tenang jika tiba-tiba saja istriku menghilang di tengah malam."

__ADS_1


Vivian terkekeh. "Aku tidak menghilang, sayang. Aku hanya mencari udara segar," jawabnya.


Vivian mengalungkan kedua tangannya pada leher suaminya, matanya menatap liar pria tampan yang menjulang di depannya. "Apa kau tidak berfikir untuk membuat anak lagi? Aku rasa dua tidak cukup. Bagaimana kalau membuat adik untuk Steven dan Hanny?" Usul Vivian lalu mencium singkat bibir Nathan.


Nathan menyeringai tipis "Kau mencoba menggodaku, eh?" Pria itu memandang Vivian nakal. "Bagaimana jika malam ini kita buatkan adik untuk mereka?"


Kemudian Nathan mengangkat tubuh Vivian ala bridal style dan membawanya masuk kembali ke dalam kamar mereka kemudian membaringkan tubuh sang istri ke atas tempat tidur.


Nathan menyergap bibir Vivian dan jari-jarinya sibuk membuka gaun tidur yang membalut tubuh sang istri dan melemparkan begitu saja menyisakan br* dan cel*na d*lam berenda yang menutupi bagian int*mnya.


Nathan melepaskan kaitan br* hitam itu dan melemparkan ke sembarang tempat "Aaah..." Vivian mend*sah saat bibir Nathan mengul*m payud*ranya dan menggigit pelan p*tingnya."Aahhh... Nathan, jangan di tunda lagi. Aku sudah tidak tahan." rancau Vivian memohon.


"Kau sudah tidak tahan, eh?"


Nathan kemudian melepas celana yang masih menggantung di pinggangnya dan membuangnya begitu saja. Kini mereka sama-sama bulat. Vivian sedikit mengangkat pinggulnya, salah satu tangannya meraih kej*ntanan Nathan lalu meng*lumnya dengan mulutnya, membuat des*han panjang keluar dari bibir lelaki itu.


Vivian mel*mat bibir Nathan dengan ganas, mengalungkan kedua tangannya pada leher sang suami. Bibir mereka berg*lat panas, lidah mereka saling melilit dan bertukar sal!va di dalam mulut hangat Vivian. Setelah puas, Nathan menurunkan bibirnya pada leher jenjang Vivian mengecupnya dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana.


"Ayo Nathan, jangan di tunda lagi." Lirihnya memohon.


"Hm, kau sudah tidak tahan eh?" Nathan kemudian mel*mat kembali bibir Vivian.


"Ngghhhh...!!" lengkungan panjang keluar di sela-sela ciuman itu saat Nathan memasukkan kejant*nannya pada miss-nya yang telah basah. Tubuh Vivian sedikit berguncang seiring dengan pergerakan pinggul Nathan yang semakin liar.


Kemudian Nathan mengangkat sedikit pinggul Vivian agar kej*ntanannya masuk semakin dalam ke dalam liang kewa*nitaan milik istrinya.


Kakinya meng*ngkang agar mempermudah gerakan sosis berurat Nathan yang semakin dalam memasuki dirinya. Nathan terus mendorong sosis itu hingga menyentuh rah*m Vivian.

__ADS_1


"Ssshhhtttt.. Aaahhhhh...!" des"han panas mengiringi semakin liar permainan mereka. Nathan mendesis, merasakan bagaimana nikmatnya saat sosis beruratbya di pijit oleh dinding Miss milik Vivian.


"Lebih dalam lagi, uhhhhh....." Vivian mengimbangi gerakan Nathan dengan menggerakkan pinggulnya "Aahhhh... lebih cepat, aku.. ahhhh.. hampir keluar." rancau Vivian yang hampir mendekati org*smenya.


Menyadari hal itu, Nathan semakin mempercepat gerakan p!nggulnya dan beberapa detik kemudian mereka mengeluarkan bersama-sama. Tubuh Nathan menggeliat di atas Vivian, wajahnya sedikit mendongak dipertopangan leher sang istri, menumpahkan semua miliknya di dalam rah*m Vivian.


Nathan mencium bibir Vivian singkat kemudian bangkit dari posisinya. "Hari ini aku sangat lelah, maaf jika tidak terlalu memuaskanmu." Sesalnya.


Vivian menggeleng. Seperti halnya Nathan, sebenarnya Vivian sendiri pun merasa sedikit lelah. Wanita itu bangkit dari posisinya dan melesat masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Nathan langsung berpakaian dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang sprei-nya sudah di tarik turun oleh Vivian.


Selang beberapa saat, Vivian keluar dengan baju tidur yang berbeda. Wanita itu menghampiri Nathan kemudian berbaring di samping sang suami. Tangan Nathan melingkari pinggang Vivian. Mereka berdua saling menatap selama beberapa menit tanpa bicara.


Mata Nathan mengunci mata Vivian dan begitu pun sebaliknya. Nathan mendekatkan wajahnya lalu mengecup singkat bibir Vivian, sedikit ******* dan memagutnya penuh kelembutan.


"Kau tau, kau adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan padaku. Dan seumur hidupku aku hanya akan mencintaimu." Bisik Nathan tanpa melepaskan pandangannya.


Vivian menangkup wajah suaminya dan tersenyum lembut. "Begitu pula denganku. Kau adalah hadiah terindah yang Tuhan persembahkan padaku. Dan aku tercipta dari tulang rusukmu yang hilang satu. Nathan, kau memang bukan cinta pertama di dalam hidupku. Tapi percayalah, jika kau adalah cinta terakhir yang Tuhan kirimkan padaku. Aku mencintaimu." Ujar Vivian sambil menatap mata itu.


Kemudian Nathan memeluknya dengan erat. Menyandarkan dagunya pada kepala coklat Vivian.


Betapa beruntung ia memiliki istri seperti Vivian yang bisa menerima segala macam kekurangan dan kelebihan. Dan Vivian adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan padanya. Sebuah berlian yang tak ternilai harganya. Karena Vivian adalah berlian yang sesungguhnya.


Perjalanan cinta yang panjang dan tak mudah. Mengajarkan mereka berdua menjadi lebih dewasa. Ikatan cinta yang kuat dan saling terbuka serta saling percaya adalah kunci dari keharmonisan rumah tangga mereka. Dan tak ada cinta yang sempurna, kecuali cinta sejati.


-


-

__ADS_1


TAMAT.


__ADS_2