
Malam yang terasa dingin bagi orang lain. Justru terasa panas bagi pasangan muda ini. Di tengah cuaca yang cukup ekstrim malam ini, Nathan dan Vivian sedang bergulat dengan panasnya untuk saling berbagi kehangatan.
Mereka berdua dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun yang melapisi. Kilauan keringat membanjiri tubuh keduanya.
Jari-jari lentik Vivian meremas sprei yang ada dibawah tubuhnya. Dia mencoba mencari pegangan untuk mempertahankan posisinya ketika Nathan menusuknya semakin dalam. Des*han hebat dan erangan yang keluar dari bibir tipis itu terdengar bagaikan sebuah melody indah di telinga Nathan.
Pemuda itu menyeringai. Sekali lagi dia membenamkan bibirnya dibibir Vivian yang agak sedikit membengkak dan mel*matnya seperti tadi.
Tangan Vivian yang semula mencengkram sprei berpindah dan memeluk leher Nathan. Jari-jari lentiknya mencengkram helaian rambut pemuda itu dengan keras, namun tidak ada rasa sakit yang Nathan rasakan.
"Eungghh... Aaaahhh... Hhhmmm...!!!"
Kemudian Nathan melepaskan pagutan bibirnya dan memandang wajah cantik itu selama beberapa detik. Kali ini bukan bibir maupun leher Vivian, melainkan buah dari bukit kembarnya. Nathan menghisap dan memilin ujung p*tingnya sambil sesekali menghisapnya penuh nafsu.
Sementara itu, senjata tempur Nathan yang sudah berdiri tegak sedari tadi mencoba menerobos masuk ke dalam gua milik Vivian yang sudah basah sejak pertama kali dia mencumbunya.
Dan untuk yang kesekian kalinya, erangan liar keluar dari sela-sela bibir Vivian ketika Nathan menusuknya semakin dalam dengan tempo cepat.
Rasa dingin yang dihasilkan oleh udara malam ini pun tidak terasa sama sekali. Disaat orang lain merasakan rasa dingin yang menusuk, mereka justru merasa panas membara. Malam yang panjang untuk saling menghangatkan.
-
-
Jam menunjukkan pukul 6 pagi, matahari pun sudah menampakkan diri, cahayanya menerobos masuk melalui celah-celah jendela di sebuah kamar yang dihuni oleh dua makhluk berbeda gender yang meresmikan hubungannya dengan tali pernikahan beberapa tahun yang lalu.
Saat ini Vivian tengah asik memperhatikan lelaki tampan yang berbaring di sampingnya dengan senyumnya, ia tak pernah bosan dengan pemandangan indah ini setiap paginya. Dimana saat ia terbangun, selalu ada wajah lelaki tampan yang menjadi pemandangan pertamanya.
Setelah puas memandangi wajah rupawan suaminya, kemudian Vivian bangkit dari berbaringnya dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Sebelum pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
.
__ADS_1
.
Sepasang tangan kekar memeluk Vivian dari belakang ketika dia sedang sibuk membuat sarapan. Tanpa melihat pun tentu saja Vivian tau siapa yang memeluknya ini. Aroma tubuhnya begitu familiar begitupula dengan pelukannya.
"Aromanya sangat lezat, membuat lapar saja." Ucap Nathan kemudian mengecup tengkuk istrinya.
"Kau ingin mencicipinya?" Vivian menoleh dan menatap Nathan penuh tanya.
Nathan mengangguk. "Tapi aku ingin mencicipi ini terlebih dulu," dia mengangkat dagu Vivian lalu mengecup singkat bibirnya. Karena bibir Vivian lebih nikmat dari makanan pembuka apapun. "Manis, lebih manis dari gula dan madu," ucap Nathan sambil menyeka liur di bibirnya.
"Dasar tukang gombal. Dari pada kau terus menggangguku memasak, lebih baik bantu mencuci buah," Vivian menyerahkan buah-buahan segar pada Nathan dan memintanya untuk segera mencucinya.
"Hanya dicuci atau dikupas sekalian?"
Vivian menoleh. "Sekalian di kupas juga tidak apa-apa." Jawabnya dan kemudian di balas anggukan oleh Nathan.
"Baiklah,"
Aiden mengetuk pintu. Tak lama kemudian pintu terbuka dan Nathan berdiri di depannya, pemuda itu tersenyum lebar. "Pagi, Kakak Ipar. Aku membawakan banyak makanan untuk kalian berdua, dimana kakakku?"
"Dia ada di dapur, masuklah." Pinta Nathan.
Aiden mengangguk. "Baik,"
Nathan menatap punggung Aiden yang semakin menjauh dan menghela napas. Sebenarnya dia merasa kasihan pada Aiden, dia berjuang begitu keras untuk mendapatkan maaf dari Vivian. Tapi memang dasarnya hati Vivian sekeras batu, jadi sulit untuk mendapatkan maafnya.
"Kakak, aku datang!!" Seru Aiden dari ruang keluarga. Namun tidak ada sahutan dari Vivian. Wanita itu menoleh sekilas dan kembali fokus pada pekerjaannya. "Ada yang bisa ku bantu?"
"Tidak!! Pergilah, jangan menggangguku!!"
Aiden mempoutkan bibirnya. "Ayolah, Kak. Jangan seperti ini. Aku cuma ingin membantumu saja kok. Dan kau jangan terlalu dingin juga padaku, kita kan keluarga."
__ADS_1
Vivian membanting spatulanya dan menatap Aiden dengan tajam. "Apa kau tidak mengerti bahasa manusia?! Sudah aku bilang tidak, tapi kenapa kau tidak mengerti juga. Dan jangan kau pikir dengan bersikap seperti ini, maka aku akan memaafkanmu, karena sampai kapan pun aku tidak akan memaafkanmu, tidak akan pernah!!" Kemudian Vivian melewati Aiden dan pergi begitu saja.
Aiden menundukkan kepalanya. Setetes kristal bening mengalir dari sudut matanya. Ternyata begini rasanya di jauhi oleh saudaranya sendiri, dan mungkin ini adalah harga mahal yang harus dia bayar atas semua kesalahannya dimasa lalu.
-
-
Dua orang pria dewasa terlihat duduk dibalik semak-semak di depan sebuah cafe yang letaknya bersebelahan dengan Qin Empire. Mereka sedang menunggu dan mengintai seorang wanita yang akhir-akhir ini selalu menghantui pikiran Marcell setiap detik menitnya.
Beberapa Minggu yang lalu. Marcell bertemu seorang wanita di sebuah pusat perbelanjaan. Dan setelah mencari tahunya, ternyata dia adalah pemilik Green Cafe.
Karena dasarnya memang pemalu dan sedikit pengecut, jadinya Marcell tidak berani menemuinya secara langsung, face to face.
"Cell, kenapa hidupmu ribet amat sih. Tinggal temui dia, terus ajak kenalan minta nomor ponselnya, beres kan!!"
"Masalahnya tidak sesederhana itu, Hyung. Kau tau sendiri bukan jika aku tidak memiliki pengalaman apapun tentang wanita, jadi aku tidak berani menemuinya secara langsung."
Tao menjitak kepala Marcell saking gemasnya kemudian menariknya keluar dari semak-semak. "Ayo, kita pergi ke cafe miliknya. Aku akan menemanimu dan membantumu untuk berkenalan dengannya!!"
Marcell menggeleng. "Aku tidak mau!! Aku takut, Hyung. Bagaimana jika dia malah tidak mau dan menolakku?!"
"Kau ini kolot sekali. Pertama-tama kenalan dulu, kemudian minta nomor ponsel, saling tukar pesan, jalan bareng, dan saat sudah saling cocok baru nyatakan perasaanmu!!" Geram Tao sedikit gemas.
Marcell menggeleng untuk kedua kalinya."Tidak mau!! Aku takut, mungkin lain kali saja. Ayo kita pulang saja sekarang, kapan-kapan kita datang lagi saat aku sudah siap mental, jiwa dan raga," Marcell keluar dari persembunyiannya kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Tao mendengus sebal. Kenapa ada manusia sebodoh Marcell yang tidak paham sama sekali soal percintaan. Sepertinya dia memang harus turun tangan atau Marcell selamanya akan membujang.
-
-
__ADS_1
Bersambung.