Istriku, Ga!Rah Cintaku

Istriku, Ga!Rah Cintaku
Terusir


__ADS_3

"AAAHHHH..."


Reina berteriak histeris saat sebuah belati menancap tepat disamping kanannya. Nafas Reina naik turun tak beraturan, lalu dia memandang Vivian yang sedang menyeringai dengan tatapan menusuk.


Vivian menghampiri Reina masih dengan seringai yang sama. "Yakk!! Apa-apaan kau ini? Apa kau sengaja ingin membuatku mati jantungan, eo?!" Bentak Reina emosi.


"Kenapa marah-marah? Aku saja yang dihadang oleh para preman suruhanmu tidak marah sama sekali. Lagipula apa yang aku lakukan sama sekali tidak sebanding dengan apa yang kau lakukan padaku tadi," ujar Vivian dengan seringai yang sama.


Mata Reina membelalak, bagaimana dia bisa tau jika ia adalah orang yang mengirim preman-preman itu untuk mengganggunya? Reina menatap Vivian dengan pandangan menantang.


"Kalau menang aku yang melakukannya, lalu mana buktinya? Jangan asal menuduh jika kau tidak memiliki bukti sama sekali." Ucapnya dengan nada bergetar.


"Kau ingin bukti, semua ada disini!!" Vivian memperlihatkan rekaman di ponselnya pada Reina. Mata Reina lagi-lagi membelalak sempurna. "Masih mau bukti apa lagi? Sebaiknya sekarang kemasi barang-barangmu dan pergi dari rumah ini!!"


"Aku tidak mau!!"


"Oh, jadi kau tidak mau? Baiklah, sepertinya si putih memang harus turun tangan untuk membuatmu pergi dari sini."


Mata Reina memicing. "Si putih, maksudmu?"


"Tu," Vivian menunjuk dengan dagunya. Reina pun menoleh mengikuti arah tunjuk Vivian matanya membulat sempurna melihat seekor serigala putih yang sedang menatapnya dengan pandangan lapar.


"Jika kau tidak pergi sekarang, aku tidak bisa menjamin bahwa besok pagi sekujur tubuhmu masih dalam keadaan utuh, apalagi dia sedang sangat kelaparan sekarang!!" Ucap Vivian sambil memainkan kuku-kukunya yang terlapisi kutek merah muda.


"Oke, aku akan pergi. Tapi jangan kau pikir kau sudah menang, aku pasti akan merebut suamimu bagaimana pun caranya!!"


"Teruslah bermimpi, karena sampai monyet beranak serigala, Nathan tidak akan pernah jadi milikmu!!" Ucap Vivian menegaskan.


"Kita lihat saja!!" Ancam Reina.


Reina pergi ke kamar pembantu dan mulai berkemas. Dia tidak ingin mati konyol ditangan serigala putih milik Vivian. Tidak sia-sia Vivian meminta ibunya untuk membawa si putih datang ke Korea, ternyata serigala miliknya cukup berguna juga.


-


-

__ADS_1


Nathan memijit pelipisnya yang terasa pening. Kepalanya berdenyut sakit karena pekerjaannya yang tidak selesai-selesai. Padahal ayahnya sudah tiba tapi dia masih belum mau masuk kerja.


Decitan suara pintu dibuka menyita perhatiannya. Vivian datang membawakan makan siang untuknya. Wanita itu tersenyum lebar sembari menghampiri Nathan. Vivian memeluk leher suaminya dari samping lalu mencium pipinya.


"Datang kenapa tidak bilang-bilang?" Nathan meraih tangan Vivian lalu menuntun wanita itu untuk duduk di-pangkuannya.


"Karena ini mendadak, aku jenuh rumah makanya datang kemari. Apakah pekerjaanmu masih menumpuk?" Tanya Vivian memastikan.


"Lumayan, memangnya kenapa?"


"Artinya kau lembur lagi makan ini?"


Nathan mengangkat bahunya. "Aku sendiri tidak tau, tapi sepertinya begitu. Memangnya kenapa?" Tanya Nathan memastikan. Kemudian Vivian berbisik di telinga Nathan, dan pemuda itu terkekeh.


"Apa yang kau tertawakan? Memangnya ada yang lucu?" Vivian mempoutkan bibirnya.


Nathan menggeleng. "Tidak ada, cuma sedikit heran saja kenapa sekarang kau jadi begitu agresif, Sayang. Bagaimana kalau kau tetap disini, kita bisa melakukannya saat jam makan malam nanti." Vivian mengangguk dengan antusias, mana mungkin dia bisa menolaknya sementara miliknya terus berkedut karena ingin Nathan segera memasukinya.


.


.


Jam dinding baru menunjuk angka 7 malam, tapi suasana di kantor milik Luis sudah mulai sepi. Sudah banyak karyawan yang pulang dan hanya menyisakan tak lebih dari 50 orang yang kebetulan sedang lembur.


Di ruangan CEO, lebih tepatnya di dalam ruang istirahat. Sepasang anak manusia sedang bergulat dengan panasnya. Erangan dan ******* memenuhi setiap inci ruangan yang di dominasi warna putih tersebut.


Siapa lagi mereka jika bukan Nathan sam Vivian. Seperti yang Nathan katakan tadi siang, mereka benar-benar melakukannya.


Tubuh Vivian tersentak-sentak ketika Nathan menusuknya semakin dalam. Erangan liar dan des*han hebat berkali-kali keluar dari bibirnya yang agak membengkak karena ciuman Nathan.


"Uhhh, Nathan..lebih cepat lagi, ahhh... Lebih cepat lagi,"


"Kenapa, Sayang? Apa kau kurang menikmatinya? Milikku bisa keluar jika terlalu cepat temponya,"


"Ta..Tapi saat cepat aku bisa merasakan dirimu seutuhnya, ahhh...Nathan, i...ini sangat uhhh.. luar biasa."

__ADS_1


"Kau sangat menikmatinya, hm?" Vivian mengangguk. "Mend*salah terus, Sayang. Des*hanmu membuatku semakin ahhh...bern*fsu."


Kurang lebih 20 menit waktu yang sudah mereka habiskan, naik Nathan maupun Vivian sama-sama enggan ada yang mau mengakhirinya. Mereka sama-sama menikmati permainan panas ini, dan Vivian masih belum merasa puas sama sekali.


"Aaahhh, Vi.. milikku sudah hampir keluar, kita keluarkan sama-sama." Ucap Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Vivian.


Setelah pelepasan. Nathan ambruk diatas Vivian. Napas mereka sama-sama memburu karena rasa lelah dan juga n*fsu yang sama-sama mengambil alih.


Nathan mengecup bibir Vivian kemudian beranjak dan meninggalkannya begitu saja. Nathan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang penuh oleh keringat. Dia tidak mungkin lanjut bekerja dengan tubuh yang terasa tidak nyaman.


Sementara Vivian yang merasa lelah memutuskan untuk tidur sebentar setelah memakai kembali pakaiannya. Dia hanya menggunakan tisu basah untuk membersihkan area sensitifnya. Vivian terlalu malas untuk pergi ke kamar mandi.


-


-


Semakin hari hubungan Aiden dan Tasya semakin baik. Bahkan dia tak ragu untuk membawa dan mengenalkan gadis itu pada teman-temannya. Aiden mendapatkan pujian karena memiliki kenalan seorang gadis yang sangat cantik.


Dan disini mereka sekarang. Aiden membawa Tasya untuk bertemu Arya cs di tempat mereka biasa nongkrong bersama, dan Tasya disambut baik oleh mereka. Kebetulan ada Sania juga yang datang bersama Gio, jadinya Tasnya tidak terlalu canggung.


"Bro, dimana kau bisa bertemu dengan gadis secantik itu?" Tanya Arya setengah berbisik.


"Club' malam, dia bekerja di sana tapi sekarang sudah berhenti dan berkerja di koto bunga."


"Kau, Nathan dan Gio sangat beruntung. Kalian sudah menemukan pujaan hati, sedangkan kita bertiga masih begini-begini saja. Padahal muka kami lebih tampan jika dibandingkan dengan kalian bertiga." Ujar Sean panjang lebar.


"Itu masalah keberuntungan, karena jodoh sudah ada yang mengatur. Dikejar sampai ke ujung dunia pun akan sia-sia jika Tuhan masih belum mengijinkan kalian menemukan jodoh yang tepat." Sahut Gio menimpali.


"Sepertinya kita bertiga butuh mandi dari 7 sumur dan bunga 7 rupa deh, untuk membuang sial. Siapa tau setelah melakukan ritual buang sial, kita bertiga bisa segera dapat jodoh." Ujar Dio menimpali.


"Itu cara sesat. Jika belum berjodoh, mau mandi air dari tujuh lumpur sekalipun kalian juga tidak akan mendapatkannya. Dari pada berpikiran sesat, sebaiknya pesankan makanan untuk kita semua. Aku sudah sangat lapar." Ucap Sania menyahuti.


Dan bukan trio ajaib namanya jika tidak memiliki ide konyol yang bisa membuat orang lain menggelengkan kepala karena ide-idenya yang gila.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2