
BRAKK...
Nathan dan Steven terlonjak kaget karena ulah Vivian yang tiba-tiba menggebrak meja cafe dengan keras. Bukan hanya mereka berdua, tapi juga para pengunjung yang lain. Dan semua mata kini tertuju padanya.
"Apa kalian lihat-lihat, apa ingin kucolok mata kalian satu persatu?!" Bentak Vivian emosi.
Nathan pun segera menarik istrinya untuk duduk. Lalu dia meminta maaf pada pengunjung lain karena kelakuan istrinya, dan menjelaskan jika dia sedang kesal. Untung saja mereka bisa mengerti dan tidak mempermasalahkan keributan yang Vivian ciptakan serta ancamannya tadi.
"Kau ini apa-apaan, ini tempat umum!!" Nathan mengomeli Vivian. Namun tak dihiraukan olehnya, dan Vivian malah menatap Nathan dengan sinis.
"Kau juga diam!!" Lalu pandangan Vivian bergulir pada Steven. "Katakan dimana dia saat ini? Aku ingin membuat perhitungan dengannya!!"
"Dia ada di~"
"Tidak perlu!!" Nathan menyela cepat. Dia menatap Vivian dengan dingin. "Sebaiknya kau tidak usah ikut campur. Ini masalahku dan biarkan aku sendiri yang menyelesaikannya!!"
"Nathan!!" Bentak Vivian.
Nathan menggenggam pergelangan tangan Vivian lalu menariknya meninggalkan cafe. Tapi sebelum pergi tak lupa dia berterimakasih pada Steven karena sudah memberikan informasi yang begitu penting.
Vivian terus meronta dan menuntut supaya Nathan melepaskan cengkraman. Tapi Nathan tetap tidak mau melepaskannya, kemudian Vivian menyentak tangan suaminya hingga cengkraman itu terlepas.
"Apa-apaan kau ini? Apa kau sengaja ingin mematahkan tanganku?!" Bentak Vivian kesal.
"Kau yang apa-apaan, kenapa kau membuat keributan di cafe dan untuk apa juga kau menanyakan keberadaan Aiden? Apa yang ingin kau lakukan? Menghampirinya lalu membuat perhitungan dengannya dengan mengatakan kau adalah kakaknya?! Kau ingin mempermalukan dirimu sendiri?!"
"Aku~"
"Yang ada dia hanya akan menganggapmu gila dan tidak waras, jika tiba-tiba datang lalu mengatakan padanya kalau kalian berdua bersaudara."
Vivian menundukkan wajahnya. "Aku hanya kesal dan marah karena dia memperlakukanmu seperti ini. Apalagi dia dan aku berhubungan darah, jujur saja Nathan, sebagai istrimu tentu saja aku tidak terima kau diperlakukan seperti ini olehnya."
Nathan menghela napas panjang. Dia mendekati Vivian lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Aku tau niatmu baik, tapi segala sesuatu yang diselesaikan dengan emosi tidak akan berakhir baik, justru malah berdampak buruk." Ucapnya.
Vivian mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Nathan. "Maaf, aku tidak akan seperti ini lagi. Aku terbawa emosi sesaat," ucapnya penuh sesal.
__ADS_1
Nathan melepaskan pelukannya. Bibirnya mengukir senyum tipis. "Jangan cemberut lagi, kau terlihat sangat jelek. Ya sudah ayo pulang, ini sudah larut malam." Vivian tersenyum kemudian mengangguk. Keduanya masuk ke dalam mobil dan dalam hitungan detik kendaraan roda 4 itu meninggalkan parkiran cafe.
-
-
Malam sudah semakin larut, namun Nathan masih terjaga. Dia begitu sulit untuk menutup matanya. Fakta yang baru saja dia ketahui membuat hati Nathan seperti terhantam batu besar, orang yang begitu dia percayai dan sudah dianggap saudara ternyata malah mengkhianatinya.
Nathan tersenyum miris. Dosa apa yang pernah dia lakukan dimasa lalu sampai-sampai harus menerima penghianatan yang begitu menyakitkan.
"Dan tragedi malam itu dia sendiri yang merencanakannya. Dia sengaja menjebakmu dengan mengorbankan dirinya, tujuannya adalah untuk membuatmu hancur dan selamanya dihantui rasa bersalah karena menyebabkan dia meninggal."
Kata-kata itu masih begitu membekas di-ingatannya. Apa sebesar itu rasa benci yang Aiden miliki untuknya, sampai-sampai dia menciptakan sebuah drama kematian yang begitu dramatis dan menyesakkan.
Tidak bisa, Nathan tidak mungkin bisa diam saja dan berpura-pura tidak mengetahui apapun. Ia harus segera menemui Aiden, Nathan ingin tau apa alasan Aiden sampai tega membohonginya selama ini.
Nathan menyambar Vest demin-nya yang ada di belakang pintu kamarnya dan pergi begitu saja. Dia tidak bisa menunggu lagi, ia harus menemui Aiden sesegera mungkin.
"Nathan, kau mau kemana?" Tanya Vivian yang kebetulan terbangun karena haus. Dia melihat suaminya yang sedang mengikat tali sepatunya di ruang keluarga. Singlet putih yang dia pakai tertutup oleh Vest demin, dan sudah bisa dipastikan jika Nathan hendak pergi.
"Aku pergi sebentar, sebaiknya kau tidur lagi. Aku akan kembali dengan cepat."
"Bertemu seseorang, aku pergi dulu." Nathan mengecup kening Vivian dan pergi begitu saja.
"Tapi, Nathan~" Vivian mendengus berat. Nathan benar-benar tidak mengijinkannya untuk ikut.
Dan hanya satu cara untuk mengetahui kemana Nathan pergi, yakni dengan meminta bantuan pada Gio. Vivian hanya ingin tau kemana Nathan pergi.
Demi menghindari Vivian menyusulnya, Nathan mengunci pintu rumah mereka dari luar dan membawa kunci cadangannya juga. Nathan tidak ingin jika Vivian sampai terlibat, masalah Aiden akan dia selesaikan sendiri tanpa bantuan siapapun termasuk Vivian.
-
-
Aiden meletakkan satu krat minuman keras diatas meja. Malam ini dia akan mengajak teman-temannya untuk berpesta. Dia adalah seorang pemimpin, menyenangkan mereka sudah menjadi tugasnya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Steven, Ai? Apa kau benar-benar akan membiarkan dia pergi dari geng ini?"
"Itu adalah keputusannya dan aku tidak bisa menahannya, lagipula dia tetap disini tidak ada untungnya juga bagiku. Yang ada aku tersulut emosi terus menerus karena dia." Jawab Aiden.
"Lalu bagaimana bila dia sampai memberitahu Nathan jika sebenarnya kau ini masih hidup?"
Aiden meneguk minumannya dan mengangkat bahunya acuh. "Itu bukan masalah bagiku. Karena memang lebih baik dia tau. Lagipula aku sudah lelah bersembunyi terlalu lama." Tuturnya.
Tak ada penyesalan sedikit pun Dimata Aiden meskipun dia telah mengkhianati Nathan dan membohonginya selama ini. Karena yang Aiden inginkan adalah kehancurannya, untuk itu dia akan menghancurkan Nathan sehancur-hancurnya.
"Tidak perlu membahas dia lagi. Sebaiknya nikmati malam ini dan kita bersenang-senang."
"Ayo bersulang!!"
-
-
Sudah lebih dari satu jam Nathan berkeliling kota. Tapi batang hidung Aiden juga tidak bisa dia temukan. Nathan sudah bertanya pada beberapa orang yang memiliki keterikatan dengan geng Aiden, tapi mereka tidak tau karena bukan lagi bagian dari mereka.
Nathan mencoba menghubungi Steven, tapi ponselnya malah tidak bisa dihubungi. Dan Nathan tidak tau kemana lagi harus mencari. Karena ia sendiri tidak tau dimana selama ini Aiden tinggal.
Dua motor yang saling beriringan di belakang menyita perhatiannya. Nathan melihat dari spion dan ternyata Arya, Sean dan Dio. Nathan menepikan mobilnya dan mereka pun langsung berhenti saat melihat sahabatnya itu.
"Kau darimana? Kenapa malam-malam begini masih kelayapan di luar, apa Vivian tidak kedinginan sendirian di rumah?" Tanya Arya.
"Aku sedang mencari seseorang, tapi jejaknya tidak bisa aku temukan."
Sean memicingkan matanya. "Memangnya siapa yang kau cari?" Tanyanya penasaran. Nathan membalas tatapan Sean yang menatapnya dengan serius.
"Aiden, ternyata selama ini dia masih hidup."
"APA?! JADI AIDEN MASIH HIDUP DAN SELAMA INI TIDAK MATI?!"
-
__ADS_1
-
Bersambung.