
"Aaaahhh..."
Des*han keluar dari sela-sela bibir Jesslyn saat Nathan mencubunya dengan keras. Di tengah malam yang dingin ini, terlihat sepasang anak manusia yang sedang bergulat panas diatas tempat tidurnya yang sudah tidak berbentuk lagi. Bantal yang tidak lagi pada tempatnya, selimut, seprei dan pakaian yang berserakan dimana-mana.
Tubuh mereka berdua yang penuh dengan keringat tampak berkilau dibawah sinar lampu kamar. Tub*h itu tersentak-sentak manakala Nathan menusuknya semakin dalam dan cepat.
"Aaahhh... Nathan," des*h Vivian untuk yang kesekian kalinya.
Ujung senjata tempur Nathan mulai terasa geli dan berkedut yang menandakan jika dia sudah mau pelepasan. "Baby, kita keluarkan bersama-sama." Ucap Nathan diiringi des*han. Vivian mengangguk.
Dan setelah melakukan pelepasan, Nathan ambruk diatas Vivian dengan napas tersengal-sengal. Mereka kemudian saling menatap dan sama-sama tertawa pelan. "Kau sangat luar biasa, Sayang," bisik Nathan di depan bibir Vivian lalu mengecupnya singkat.
Vivian menangkup wajah Nathan dan mengukir senyum tipis. "Kau juga luar biasa," ucapnya menimpali.
"Kau lelah?" Vivian menggeleng. "Kalau lelah pergilah tidur. Aku mau membersihkan tubuhku dulu."
Alih-alih pergi tidur. Setelah berpakaian dan membereskan tempat tidurnya yang tak ubahnya kabar pecah. Vivian pergi ke dapur untuk memasak Ramyun, dia lapar, apa yang ia lakukan bersama Nathan beberapa waktu lalu membuatnya kelaparan setengah mati.
Vivian memasak dua Ramyun untuk dirinya sendiri dan juga Nathan. Sama sepertinya, Nathan juga pasti merasa lapar setelah semua tenaganya terkuras diatas ranjang. Tepat setelah ramen yang Vivian masak sudah matang, Nathan datang menghampirinya.
"Kau membuat Ramyun?" Vivian mengangguk.
"Duduklah, kita makan sama-sama. Kau juga pasti lapar," kata Vivian seraya meletakkan dua mangkuk Ramyun yang masih mengepul itu diatas meja. Nathan menyukai pedas, itulah kenapa kuah milik suaminya jauh lebih merah dari miliknya.
"Bagaimana kau tau jika aku sedang lapar, kau memang yang paling memahamiku, Sayang." Ucap Nathan tersenyum.
"Sudah jangan menggombal lagi, cepat makan sebelum mienya jadi dingin dan mengembang."
Nathan mengangguk masih dengan senyum yang sama. "Baiklah,"
Setelah perbincangan singkat itu. Tak ada lagi percakapan diantara mereka berdua. Baik Nathan maupun Vivian sama-sama memilih diam dan menikmati Ramyun-nya. Tenaga mereka sama-sama terkuras habis oleh pergulatan tadi, apalagi mereka bermain sampai tiga ronde berturut-turut.
-
-
__ADS_1
"KYYYAAA!! SETAN!!"
Arya berteriak histeris dan melempar gelas yang dia pegang pada sosok berwajah putih yang baru saja keluar dari kamar Sean. Membuat sosok itu terjengkang saking kagetnya sementara Arya berlari ke kamarnya yang ada di lantai dua.
"Yakk!! Tiang gila, apa kau sudah bosan hidup eo?! Seenak jidat memanggilku setan!! Aisshh, kepalaku jadi benjol dan maskerku yang mahal jadi berantakan karena tiang gila itu!!" Keluh sosok berwajah putih itu yang tak lain dan tak bukan adalah Sean.
Demi menjaga ketampanan wajahnya dan supaya tidak kalah dari Nathan, Sean selalu rutin merawat dan menjaga kulit wajahnya agar tidak kusam dan tetap bersinar.
"Hyung, kenapa dengan Arya Hyung? Kenapa dia kabur dan ketakutan saat melihatmu? Dan keningmu, kenapa memar begitu, benjol lagi?" Tanya Dio penasaran.
"Dia terkejut dan mengira aku adalah setan, terus si tiang gila itu melempar gelas kearahku. Dan beginilah endingnya." Ujar Sean menuturkan. Sean mengusap keningnya yang terasa nyeri akibat ulah Arya yang bar-bar.
"Kau juga, kenapa keluar dengan muka putih seperti itu. Jadi wajar jika kau dikira setan!!"
"Heh, tau apa kau bocah, ini itu untuk ketampanan dan supaya aku tidak kalah tampan dari Nathan jadi aku harus rutin merawatnya. Sudahlah, aku mau maskeran lagi, masterku yang berharga puluhan dolar hancur karena si tiang gila itu!!"
Dio mendengus dan menggelengkan kepala. Dia heran kenapa harus bersahabat dengan orang-orang aneh seperti Arya dan Sean. Hanya Nathan dan Gio yang normal. Tetapi seaneh dan segila apapun mereka, tetap saja mereka berdua adalah sahabat terbaiknya.
Lalu Dio mengayunkan kakinya kearah dapur, dia terbangun karena haus.
-
-
"Apa-apaan ini, kenapa kalian tiba-tiba menangkapku?" Tanya Reno meminta penjelasan. "Lepaskan!!" Teriaknya menuntut.
"Kau bisa menjelaskannya di kantor, bawa dia pergi,"
"Baik, Kapten."
Raffi hanya bisa terdiam melihat Reno ditangkap di depan matanya dan digiring oleh para polisi itu lalu dibawah menuju kantor untuk kemudian diproses. Sepertinya penangkapan Reno ada hubungannya dengan insiden pengeroyokan yang dia lakukan pada Gio.
Tak ingin terlibat. Raffi pun memutuskan untuk pulang. Dia memang tidak tau apa-apa. Lebih baik cari aman dari pada ikut terseret juga sementara dia tidak tau apa-apa.
-
__ADS_1
-
"Nathan, bangun. Ini sudah siang, kita bisa terlambat pergi kuliah!!"
Vivian mengguncang Nathan dengan frustasi. Bagaimana tidak, sudah lebih dari 5 menit dan dia masih belum mau bangun juga.
Vivian tidak tau, kenapa suami tampannya ini begitu sulit dibangunkan.
"Nathan, bangun!!" Seru Vivian untuk kesekian kalinya.
"Iya, iya aku bangun."
Nathan membuka matanya yang masih terasa berat. Padahal dia masih ingin tidur lebih lama lagi, tapi Vivian tidak mengijinkannya dan memaksanya untuk segera bangun.
"Cepat mandi setelah ini kita sarapan sama-sama. Ada kuliah pagi hari ini, apa kau lupa atau memang sengaja mencari masalah?! Cepat mandi, aku akan menunggumu dibawah. Dan morning kiss-nya nanti saja."
Nathan menghela napas berat. Dengan enggan ia menyibak selimutnya lalu turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum berangkat kuliah.
Di dapur, Vivian tengah menyiapkan kopi non gula untuk suaminya. Nathan sudah terbiasa meminum kopi saat pagi hari, dan membuatkan kopi untuk Nathan sudah menjadi rutinitasnya setiap pagi.
Wanita itu sontak menoleh setelah mendengar derap langkah kaki yang datang. Vivian mengurai senyum lebar. Sebuah pelukan hangat menyambut kedatangan Nathan di meja makan.
"Nah, ini baru suamiku. Tampan dan maskulin. Dan bisakah sekarang aku mendapatkan morning kiss-ku?"
Nathan menyentil kening Vivian, lalu sebelah tangannya menarik tengkuk Vivian dan mencium bibir ranum tipisnya. Vivian mengangkat kedua tangannya lalu memeluk leher Nathan.
Ciuman mereka hanya berlangsung beberapa detik saja. Mereka bisa kesiangan tiba di kampusnya jika tidak sarapan sekarang.
"Nanti malam saja kita lanjutkan lagi," ucap Nathan, Vivian mengangguk.
Keduanya berjalan kemeja makan dan mulai menyantap sarapannya dengan tenang. Tak ada percakapan diantara mereka berdua hanya terdengar suara sendok dan piring yang saling bersentuhan.
-
-
__ADS_1
Bersambung.