
Pagi-pagi sekali Reina sudah bangun dan sibuk di dapur. Demi mengambil hati Nathan, dia sengaja bangun lebih awal dari Vivian untuk menyiapkan sarapan dan kopi untuk sang pewaris Qin Empire tersebut.
Reina begitu bersemangat, padahal dia tidak tau makanan apa yang Nathan sukai maupun yang tidak disukai.
Wanita itu menoleh saat mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang. Wajahnya berubah masam melihat siapa yang datang.
"Bibi, apa yang sedang kau masak? Kenapa aromanya menyengat sekali, apa kau sengaja ingin membuat aku dan Nathan keracunan oleh aroma masakanmu yang menyengat itu?" Tegur Vivian seraya menghampiri Reina.
Mata Reina sontak membelalak. "What?! Kau panggil aku apa?! Bibi!! Yakk!! Apa kau tidak waras, jelas-jelas aku sangat cantik dan fashionable, bisa-bisanya kau memanggilku Bibi. Apa kau sudah bosan hidup!!" Teriak Reina emosi.
Vivian mengamati penampilan Reina dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mini dress super seksi yang menonjolkan bentuk tubuhnya, saking seksinya sampai-sampai pant*tnya terlihat ketika dia membungkukkan badan. Dress itu juga terbuka di bagian melon-nya, dengan tali kecil dipundaknya. Belum lagi rambutnya yang di kuncir dua dan sepatu boot tinggi.
"Astaga, bagaimana mungkin ada balon nyasar kemari. Jika ingin menjual diri, kau salah tempat, pergilah ke klub malam, pasti di sana banyak manusia-manusia tak berotak yang mau pada wanita tak punya harga diri sepertimu!!"
"YAKK!! Benar-benar kau ya," teriak Reina tertahan. Dengan kesal Reina melepas apronnya dan pergi begitu saja.
Vivian terkekeh. Dia merasa puas setelah membuat Reina kesal karena ucapannya. Lagipula wanita tak tau malu seperti dia sama sekali tidak layak untuk dihormati, apalagi Reina adalah bibit seorang pelakor.
Hampir saja Vivian muntah saat mencium aroma masakan Reina yang menyengat. Setelah membuang semua makanan-makanan tak layak itu, sekarang Vivian mulai fokus untuk menyiapkan sarapan. Nathan harus pergi ke kantor dan hanya tersisa 30 menit lagi, setidaknya dia bisa menyiapkan dua tiga menu untuk sarapan pagi ini.
.
.
Vivian akhirnya menyelesaikan masakan terakhirnya. Tepat setelah dia meletakkan piring terakhir diatas meja, Nathan datang dengan pakaian formalnya. Kemeja yang dibalut Vest dan celana panjang serta jas yang tersampir di lengan kirinya.
"Pagi," sapa Vivian sambil tersenyum lebar.
"Pagi juga, Sayang." Jawab Nathan lalu mengecup singkat bibir Vivian.
"Maaf, hanya ini yang bisa aku masak sebagai menu pagi ini." Vivian menghela napas saat mengingat makanan-makanan yang terbuang sia-sia tadi akibat ulah Reina.
Nathan menggeleng. "Tidak masalah, ini sudah lebih dari cukup. Ayo sarapan," Vivian mengangguk. Betapa dia sangat beruntung memiliki suami seperti Nathan yang penuh dengan pengertian.
__ADS_1
-
-
Luis Jesslyn dan Lovely baru saja menginjakkan kakinya di bandara Incheon. Berbeda dari biasanya yang kemana-mana selalu membawa jet pribadi, tapi tidak dengan kepergiannya kali ini. Mereka sebagai pergi dengan menggunakan pesawat komersil.
Tao dan Marcell sudah menunggu di luar bandara untuk menjemput mereka bertiga. Bahkan mereka tiba lima belas menit sebelum mereka bertiga sampai.
"Paman, Bibi, akhirnya kalian tiba juga. Kami hampir lumutan menunggu kalian disini." Seru Marcell saat melihat kedatangan Jesslyn, Luis dan Lovely.
"Kakak terlalu berisik, baru juga menunggu beberapa menit, sudah mengatakan ini dan itu. Kami saja yang menunggu pesawat sampai satu jam tidak masalah!!" Balas Lovely menimpali.
"Aigoo, Princess. Satu Minggu tidak bertemu kau semakin bawel saja ya." Marcell mencubit pipi Lovely saking gemasnya.
"Sudah jangan berdebat lagi. Cepat bantu angkat koper-koper ini ke dalam mobil. Kami bertiga sangat-sangat lelah setelah menempuh perjalanan jauh." Luis menyela perdebatan Marcell dan putrinya.
Luis masuk ke dalam mobil disusul Jesslyn dan Lovely. Mereka duduk di jok belakang, sementara Tao dan Marcell duduk di depan. Dan dalam hitungan detik. Mobil mewah itu meninggalkan bandara.
-
-
Tak sedikit dari karyawannya yang mencoba menarik perhatian Nathan dengan memasang muka genit, ada juga yang tersenyum malu-malu ketika Nathan melewatinya. Tetapi apa yang mereka lakukan tentu hanya sia-sia saja, karena Nathan tak sedikit pun melirik mereka.
"Presdir, ini adalah dokumen dari beberapa departemen. Mohon Anda periksa dan tandatangani." Seorang wanita berkacamata menghampiri Nathan di ruangannya sambil membawa dokumen yang harus dia periksa dan tandatangani.
"Letakkan saja diatas meja, kau boleh keluar."
Kemudian wanita itu membungkuk dan pergi begitu saja. Meninggalkan Nathan sendiri di-ruangannya. Dan seperti hari-hari sebelumnya, rutinitas Nathan awali dengan tumpukan dokumen menyebalkan namun penuh dengan lembaran uang.
-
-
__ADS_1
Vivian menghentikan langkahnya saat beberapa preman menghadang jalannya. Sedikitnya adalah lima pria dengan tubuh tinggi besar dengan otot-otot yang menonjol. Mereka mendekati Vivian dan bermaksud untuk menggodanya.
Sementara itu... Tak jauh dari sana, terlihat Reina bersama seorang pria tampan yang tampak kekar dan macho bersembunyi dibalik semak-semak.
"Bagus sekali, selanjutnya kau yang beraksi. Saat wanita itu sudah terdesak dan ketakutan. Kau muncul sebagai seorang pahlawan, selamatkan wanita itu lalu buat dia terkesan hingga merasa tidak enak karena memiliki hutang Budi padamu."
Lelaki itu mengacungkan jempolnya. "Bukan masalah yang sulit. Itu bisa diatur asalkan bayarannya sesuai." Ucapnya.
Kemudian Reina melemparkan segepok uang pada pria itu. "Ini baru uang muka. Sisanya aku berikan setelah tugasmu selesai. Dan satu lagi, jangan sampai gagal atau~"
Bruggg..
Reina dan lelaki itu terkejut saat salah seorang dari kelima preman itu tersungkur di dekat mereka dalam keadaan tak sadarkan diri. Karena terlalu serius mengobrol, sampai-sampai Reina tidak melihat apa yang terjadi.
Kedua matanya membelalak saat melihat kelima preman sewaannya malah terkapar dalam keadaan babak belur, sementara Vivian masih berdiri tegap dengan wajah sinisnya.
"A..Apa yang terjadi!" Gumam Reina kebingungan.
"Sepertinya rencanamu akan gagal total kali ini, dia adalah wanita yang sulit dihadapi."
"Sial, kenapa malah kacau begini?!" Reina mengambil kembali uang yang sudah dia berikan pada lelaki itu dan pergi begitu saja.
"Hei, uangku!! Kembalikan, kau sudah memberikannya padaku!!" Teriak lelaki itu.
"Jangan bermimpi!! Karena sudah gagal total!!" Sahut Reina menimpali.
Niat awalnya Reina ingin menghancurkan Vivian dengan menyewa para preman kota. Dia menyewa mereka untuk menggoda Vivian kemudian mendatangkan seorang pahlawan kesiangan yang menyelamatkannya.
Reina ingin mengambil rekaman ketika pria itu menolong Vivian lalu mengirimnya pada Nathan sebagai bentuk adu domba diantara mereka berdua. Tapi yang terjadi malah tak sesuai dengan harapannya.
-
-
__ADS_1
Bersambung.