Istriku, Ga!Rah Cintaku

Istriku, Ga!Rah Cintaku
Pembantu!!


__ADS_3

Ketukan pada pintu menyita perhatian Vivian yang sedang menyiapkan makan malam di dapur. Vivian sengaja pulang lebih dulu karena Nathan mengatakan dia ingin makan malam di rumah. Vivian begitu bersemangat ketika menyiapkan malam untuk suami tercintanya


Vivian mematikan kompornya lalu berjalan keluar untuk melihat siapa tamunya yang datang. Itu tidak mungkin Nathan, karena jika dia tidak mungkin mengetuk pintu terlebih dulu.


"Selamat malam calon madu," sapa seorang wanita berambut hitam legam yang tak lain dan tak bukan adalah Reina.


"Kau, sedang apa kau di rumahku? Dan koper itu, untuk apa?" Vivian menunjuk koper yang dibawah oleh Reina.


"Ayahku sudah kembali ke Jepang hari ini. Dan karena tidak memiliki sanak saudara disini jadi aku ingin numpang tinggal di rumah ini, bagaimana.. kau tidak keberatan bukan?"


Vivian melipat kedua tangannya di depan dada dan menyeringai sinis. "Boleh, kebetulan aku memang sedang mencari pembantu untuk membantuku bersih-bersih rumah. Jika kau tidak keberatan aku bisa mengijinkan-mu tinggal, bagaimana?" Vivian melebarkan smriknya.


"Kau~"


"Aku tidak akan memaksamu, jika kau tidak mau juga tidak apa-apa. Kau silahkan pergi dari sini, aku juga tidak akan rugi!!" Ucap Vivian dan pergi begitu saja, tapi seruan keras Reina menghentikan langkahnya.


"Oke, aku setuju!! Lalu dikamar mana aku harus tidur mulai malam ini?" Tanya Reina memastikan.


Kemudian Vivian menunjuk sebuah pintu bercat coklat yang letaknya bersebelahan dengan dapur. "Apa?! Kamar pembantu, apa kau gila?! Apa tidak ada kamar lain selain kamar pembantu?!" Reina memekik keras.


Vivian mengangkat bahunya acuh. "Hanya itu kamar yang tersisa, jika kau tidak mau ya sudah. Aku bisa tidur di sofa atau mungkin di teras, lebih luas!!" Jawab Vivian dan meninggalkan Reina begitu saja. Vivian menyeringai ditengah langkahnya, Reina mencari lawan yang salah.


Deru suara mobil yang memasuki halaman mengalihkan perhatian Vivian. Wanita itu tersenyum lebar. Dia berlari keluar untuk menyambut kepulangan sang suami tercintanya.


"Aku pikir kau tidak jadi pulang cepat," Vivian mengambil alih tas kerja di tangan Nathan.


"Mana mungkin aku ingkar janji, aku sudah berjanji maka harus aku tepati. Kau sudah selesai memasak?" Vivian mengangguk. "Baru mencium aromanya saja sudah membuatku lapar. Aku mandi dulu setelah ini kita makan malam sama-sama."


Nathan menghentikan langkahnya saat mata coklatnya tanpa sengaja menangkap siluet seorang perempuan muda yang wajahnya tak asing sama sekali. "Nona Yamanaka, sedang apa kau disini?" Tanya Nathan penuh keheranan.

__ADS_1


"Tuan Muda Qin, sebenarnya saya~"


"Dia datang dan secara suka rela menawarkan diri menjadi pembantu di rumah ini. Ayahnya tiba-tiba kembali ke Jepang dan dia tidak memiliki tempat tinggal. Lalu dia datang dan menawarkan diri jadi pembantu. Jadi aku menerimanya, kebetulan kita juga membutuhkan pembantu." Sahut Vivian menimpali.


"Oh, begitu. Semoga Nona Muda yang manja ini tidak merepotkanmu kedepannya. Aku mandi dulu," ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Vivian.


Vivian mendekati Reina yang sedang mengepalkan tangannya. "Jangan bermimpi terlalu tinggi, aku mengijinkan-mu tinggal disini bukan berarti memberimu ruang untuk menggoda suamiku. Justru aku ingin membuatmu paham dan mengerti, jika aku dan Nathan saling mencintai!!" Vivian mendorong dada Reina dan pergi begitu saja.


"Wanita ******, awas saja kau! Aku pasti akan membalasmu!!"


-


-


"Tasya, sedang apa kau disini? Dan darimana kau tau jika aku tinggal disini?"


Tasnya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sebenarnya kita bertetangga. Aku juga baru tau. Jadi aku rasa kita akan lebih sering bertemu." Ucap gadis itu menuturkan.


Tasya mengangguk. "Baiklah,"


Tasya menyapukan pandangannya. Apartemen Aiden sangat bersih dan rapi, padahal dia adalah laki-laki. Dan Tasya tau, saat pertama kali bertemu dengannya, jika Aiden memang berbeda dengan kebanyakan laki-laki yang dia kenal dan temui selama ini.


"Kau mau minum apa? Maaf hanya ada minuman kaleng saja, maklum hanya aku yang tinggal disini,"


Tasya menggeleng. "Tidak masalah, air putih saja sudah cukup. Apa kau baru menempati apartemen ini, sebelumnya ini kosong, setidaknya sejak aku pindah kemari beberapa bulan lalu."


"Sebenarnya aku sudah lama tinggal disini, tapi baru Minggu kemarin aku kembali kesini, sebelumnya aku tinggal bersama teman-temanku di kota. Tapi setelah kupikir-pikir, kota tidak cocok denganku makanya aku kembali kemari." Jelas Aiden.


Tasya mengangguk paham. "Aku tau bagaimana tidak enaknya tinggal di kota. Dipinggiran memang lebih nyaman, apalagi suasana disini sangat tenang. Itulah yang membuatku betah disini meskipun tempat ini sedikit jauh dari tempatku bekerja."

__ADS_1


"Betul juga, tapi Tasya, jika aku boleh bertanya. Bukankah masih banyak pekerjaan lain yang lebih aman, tapi kenapa kau malah memilih bekerja di club' malam sebagai pelayan dan penghibur di-sana?"


"Tuntutan hidup, itulah yang membuatku memilih pekerjaan kotor itu."


Aiden menatap Tasya dengan serius. Apakah hidup gadis di depannya ini sesulit itu, tapi jika dia hidup dalam kesulitan tapi kenapa dia selalu terlihat ceria dan baik-baik saja. Atau mungkin itu hanya topeng untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya. Aiden tidak tau.


"Begitu ya, aku sedang membuat makan malam, mungkin sebentar lagi selesai. Setelah ini kita makan malam sama-sama."


Tasya mengangguk. "Baiklah,"


-


-


Reina mengepalkan tangannya melihat kemesraan Nathan dan Vivian. Dia benar-benar tidak suka melihatnya, dan sepertinya Vivian memang sengaja melakukannya untuk membuatnya kesal.


Saat ini Vivian tengah bermanja pada Nathan dengan duduk di pangkuannya, padahal Nathan sedang sibuk dengan laptopnya. Tapi anehnya dia tidak merasa terganggu sedikit pun.


"Tuan Muda Qin, sedang bekerja. Kenapa kau harus mengganggunya?!"


Vivian mengangkat wajahnya dan menatap Reina dengan sinis. "Memangnya kenapa? Dia saja tidak keberatan, kenapa malah kau yang kebakaran jenggot? Daripada kau sibuk ikut campur urusanku dengan Nathan. Sebaiknya cuci piring kotor bekas makan malam. Bukankah kau sudah menyetujui syarat dariku untuk tinggal disini?!" Ucap Vivian menyeringai.


"Kau~!!" Reina menggantung kalimatnya lalu pergi begitu saja. Kenapa semua tidak berjalan seperti yang dia harapkan?! Sepertinya menghadapi Vivian bukanlah perkara yang mudah.


Vivian tertawa puas melihat bagaimana ekspresi Reina tadi. "Apa yang kau tertawakan?" Tanya Nathan kebingungan.


"Reina, kau tidak melihat bagaimana ekspresinya tadi sih. Sangat lucu, dan siapa suruh dia berusaha menjadi pelakor, apa dia pikir aku adalah wanita lemah yang mudah ditindas dan bisanya cuma menangis ketika di-perlakukan dengan tidak adil? Dia salah cari lawan, karena aku bukanlah wanita yang lemah!!"


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2