
"Nathan?!"
Vivian melempar novelnya begitu saja saat mendengar deru suara mobil yang memasuki halaman rumahnya. Wanita itu begitu kegirangan saat melihat kepulangan suaminya. Baru juga satu hari tidak bertemu, rasanya Vivian sudah sangat rindu.
Wanita itu menuruni tangga dengan begitu bersemangat. Sampai-sampai dia hampir terjatuh pun tak Vivian pedulikan, yang terpenting adalah dia bisa segera melihat wajah tampan suami tercintanya.
Cklekk..
Pintu dibuka dari luar. Dan sosok tampan dalam balutan pakaian formal memasuki rumah dengan wajah lelahnya. "Nathan!!" Mata Nathan membelalak, untung dia bisa mempertahankan keseimbangannya, jika tidak ia dan Vivian pasti sudah terguling di lantai.
Vivian melompat ke dalam pelukannya. "Aku merindukanmu," rengek wanita itu sambil membenamkan wajahnya di dada bidang sang-suami yang tersembunyi dibalik kemeja dan vest-nya.
"Dasar kau ini, kenapa seperti bocah saja. Bagaimana kalau kita tadi sampai terjatuh karena ulahmu yang kekanakan itu?!"
"Terjatuh pun aku yang ada diatas, jadi tidak masalah. Karena tidak mungkin kau membiarkanku sampai terjatuh dan kesakitan!!" Ujar Vivian.
Nathan mendengus geli. Lelah yang sedari tadi menggerogoti tubuhnya hilang begitu saja setelah melihat senyum manis dibibir istrinya. Vivian adalah obat penghilang lelah paling ampuh yang dia miliki.
"Kenapa semakin hari kau semakin manja saja, hm." Ucap Nathan lalu mengecup singkat bibir Vivian.
"Manja pada suami sendiri, siapa yang bisa melarangnya." Balas Vivian menimpali.
"Turunlah dulu, aku mau mandi. Ganti bajumu dan kita makan malam diluar saja, kau tidak perlu memasak apapun untuk makan malam." Vivian mengangguk dengan antusias. Kebetulan dia memang sedang malas untuk memasak.
"Kebetulan aku lagi malas memasak. Aku ganti baju dulu, tapi gendong sampai atas." Rengek Vivian.
Nathan menjitak gemas kepala Vivian. Bukannya kesal, wanita itu malah terkekeh, meskipun sedikit mengeluh, tapi Nathan tetap menuruti kemauan istrinya dan menggendong Vivian sampai lantai dua rumah mereka.
.
.
Sepasang suami-istri baru saja meninggalkan sebuah cafe dan berjalan menuju parkiran.
Tiba-tiba si perempuan menghentikan langkahnya dan membuat pemuda yang berjalan disampingnya ikut berhenti juga.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya si pemuda.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu, cuaca malam ini lumayan bersahabat." Ucap si perempuan yang pastinya adalah Vivian.
"Kau ingin jalan-jalan kemana?"
"Em, bagaimana kalau pergi ke Namsan Town saja, sudah lama aku ingin pergi ke sana." Jawab Vivian dengan mata berbinar-binar. Nathan mengangguk, dia tidak mungkin mengatakan tidak karena Vivian bisa ngambek dan mengancam akan mogok makan.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa waktu, akhirnya mereka tiba. Untuk mencapai ke puncak, mereka harus menaiki cable car terlebih dulu. Dan dari atas, mereka bisa melihat setiap sudut kota. Saat malam hari, Seoul terlihat berbeda dan terlihat lebih hidup. Inilah salah satu hal yang paling Vivian sukai ketika malam tiba.
Setelah membeli gembok cinta, lalu Vivian menggantungnya bersama gembok-gembok yang lain. Mereka membeli tiga gembok, dua untuk masing-masing dan satu lagi sebagai pertanda jika mereka pernah datang kemari.
"Konon katanya jika sepasang kekasih menggantung gembok cinta disini, maka cinta mereka akan abadi selamanya." Ujar Vivian setelah menggantung gembok cintanya bersama dengan gembok-gembok yang lain.
"Dan kau mempercayainya?"
Vivian mengangkat bahunya. "Aku sendiri tidak yakin, tapi tidak ada salahnya untuk mencobanya." Jawab Vivian. "Dan untuk itu aku ingin membuktikannya."
Vivian memeluk lengan Nathan lalu menyandarkan kepalanya pada bahu kanan suaminya.
"Sudah larut malam, ayo pulang." Vivian mengangkat wajahnya kemudian mengangguk. Kebetulan ia juga sudah lelah dan ingin segera tidur. Apalagi Nathan yang seharian ini sibuk bekerja, pasti dia juga lelah.
-
-
Pemuda itu menghentikan motor besarnya di Sungai Han. Suasana di sana lumayan sepi karena ini sudah larut malam. Beberapa luka lebam tampak menghiasi wajah tampannya, bekas tawuran.
Perhatiannya sedikit teralihkan karena deru suara motor yang datang. Ternyata teman-temannya. "Aku melihat dia bersama gadisnya, dan kemungkinan sebentar lagi mobil yang dia kendarai akan segera tiba disini. Perlu kita lakukan sesuatu?"
Mata pemuda itu memicing. "Nathan?" Temannya itu mengangguk. "Boleh juga, pasti akan sangat menarik jika kita berhasil membuat dia babak belum di depan orang tercintanya." Pemuda itu menyeringai.
"Sebaiknya jangan lakukan itu. Jangan hanya karena rasa iri dan sakit hati yang kau miliki, sampai-sampai melukai orang yang begitu baik dan sudah menganggapmu sebagai saudara!!"
Pemuda itu turun dari motornya dan menghampiri temannya yang baru saja membuka suara itu. "Tau apa kau, Steve?! Sebaiknya tidak usah ikut campur jika tidak ingin aku habisi disini!!" Ucap pemuda itu lalu mendorong temannya yang ternyata bernama Steven tersebut.
__ADS_1
"Aku hanya mengingatkanmu, jangan sampai kau menyesal kemudian. Aku keluar dari geng ini!!" Steven menyalahkan kembali mesin motornya dan melaju pergi meninggalkan teman-temannya.
Dan saat dalam perjalanan. Tanpa sengaja dia berpapasan dengan mobil yang dikemudikan oleh Nathan. Kemudian Steven putar arah dan mengejar mobil tersebut, pemuda itu menginterupsi agar Nathan segera menepi. Dan Nathan menurutinya.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu, tapi tidak disini. Kita cari tempat yang nyaman untuk berbincang."
Nathan menatap pemuda itu kemudian mengangguk. Meskipun tidak terlalu akrab, tapi Nathan mengenalnya. Dia adalah salah satu anggota geng yangs selama ini menjadi musuh bebuyutannya, geng yang membuat Aiden terbunuh di depan matanya.
Tapi pemuda di depannya itu tidak pernah melibatkan diri meskipun bagian dari mereka, dia selalu bersikap netral dan tidak membela siapa pun, termasuk anggota gengnya sendiri.
.
.
"Apa, jadi sebenarnya Aiden masih hidup dan kematiannya malam itu hanya sebuah rekayasa?!" Nathan memekik terkejut setelah mendengar apa yang baru saja Steven sampaikan.
Steven mengangguk. "Dan tragedi malam itu dia sendiri yang merencanakannya. Dia sengaja menjebakmu dengan mengorbankan dirinya, tujuannya adalah untuk membuatmu hancur dan selamanya dihantui rasa bersalah karena menyebabkan dia meninggal." Tutur Steven memaparkan.
Gyutt...
Nathan mengepalkan tangannya. Sepasang mata coklatnya berkilat tajam penuh amarah. Kemarahan terlihat jelas dari sorot matanya. Aiden, orang yang begitu dia percaya dan sudah ia anggap sebagai saudara ternyata malah mengkhianatinya.
Dan Nathan sungguh tidak terpikir jika Aiden akan melakukan tindakan sampai sejauh itu hanya ingin melihatnya hancur dan terpuruk.
"Hal tidak mengenakan yang kau alami di-kampusmu beberapa hari lalu sampai kau diskors juga perbuatannya. Dan asal kau tau saja, Reno adalah salah satu dari kami. Dia adalah mata-mata yang dikirimkan oleh Aiden untuk memata-mataimu!!"
Nathan menyeringai sinis. "Dia sungguh hebat. Aku tidak menyangka jika dia akan bertindak sampai sejauh itu hanya untuk menghancurkan ku!!"
Sementara itu. Vivian yang mendengar semua yang dikatakan oleh Steven langsung lemas. Bagaimana tidak, adik kembarnya ternyata masih hidup dan ternyata dia adalah orang yang ingin menghancurkan suaminya.
-
-
Bersambung.
__ADS_1