Istriku, Ga!Rah Cintaku

Istriku, Ga!Rah Cintaku
Masih Rata


__ADS_3

Kabar tentang kehamilan Vivian telah sampai ke telinga Jesslyn dan Luis. Mereka sangat bahagia karena sebentar lagi akan memiliki seorang cucu. Jesslyn mewanti-wanti supaya Nathan menjaga Vivian dengan baik. Karena dia tidak mau sesuatu yang buruk sampai menimpa cucu dan menantunya.


Mereka masih belum pulang dari rumah sakit. Saat ini keduanya sedang berada di luar bangunan bertingkat tersebut.


"Hm, jadi begini rasanya hamil ya? Kepalaku pusing setiap bergerak. Mual setiap aku menunduk, dan selalu muntah di pagi hari." Vivian menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Hoek, bahkan sekarang pun aku sangat mual."


Tangan Nathan tergerak, menyentuh pucuk kepala Vivian dan mengelusnya dengan pelan, bermaksud untuk menghilangkan rasa mual itu walau ia sendiri tahu bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang mustahil. Namun itu hanya pemikirannya, buktinya mual Vivian hilang saat itu juga.


"Eh? Mualnya hilang." Vivian tersenyum sumringah, ia lemparkan senyum itu pada Nathan yang membalasnya dengan senyum tipis.


"Tunggulah di sini. Aku akan mengambil mobil dari tempat parkir." Vivian mengangguk kala mendengar perintah Nathan. Perlahan, lelaki itu meninggalkannya sendirian di depan pintu masuk rumah sakit.


Mual kembali melandanya saat ia sudah tak melihat sosok Nathan lagi. Ia pegang perutnya, sedangkan sebelah tangannya memegang kepalanya yang terasa pusing."U-uh," erangnya pelan. Ia sangat ingin muntah, tapi wanita itu mati-matian menahannya saat ia sadar bahwa ini adalah tempat umum.


Nathan. Ia sangat ingin suaminya yang dingin itu muncul di hadapannya saat ini juga atau Vivian bisa memuntahkan cairan perutnya di tengah keramaian.


"Sayang?"


Nathan mendongak, senyumnya terukir ketika melihat Nathan telah berada di depannya dengan mobilnya. Mualnya seketika hilang detik itu juga. "Akhirnya kau datang juga." Perasaannya kembali normal, ia langkahkan kakinya menuju sisi kanan mobil dan segera menaiki mobil tersebut.


"Mual lagi?" Vivian mengangguk guna memberi respon atas pertanyaan Nathan.


"Tapi sudah hilang," ucap Vivian dengan santai sembari memandang ke luar jendela.


"Bayi itu, apakah dia tidak apa-apa jika kau muntah?" Vivian menoleh dengan cepat pada suaminya dengan alis yang dinaikkan sebelah, pertanda dia bingung dengan pertanyaan Nathan.


"Jika muntah, urat perut akan tertarik. Apakah itu tidak akan berefek padanya?" Nathan mengulang pertanyaannya dengan kalimat yang berbeda, berharap kali ini Vivian dapat mengerti.


Wanita itu mendengus. "Memangnya kau pikir bayi itu akan ikut dimuntahkan?!"

__ADS_1


Nathan balas mendengus. "Bukan itu yang aku maksud, Bodoh." Sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala coklat Vivian.


"Ya, ya. Aku paham maksudmu. Suamiku tersayang, semua orang hamil akan mengalami masa seperti ini." Jawaban Vivian membuat Nathan merasa tak puas. "Hampir setiap wanita pasti pernah mengalaminya, dan hal semacam ini adalah sesuatu yang biasa bagi kaum kami." Ungkapnya.


"Aku hanya mengkhawatirkannya." Ucap Nathan, tatapan matanya berubah sendu.


Vivian menatap Nathan sambil mengukir senyum tipis disudut bibirnya. Sebongkah kehangatan menjalar di hatinya saat mendengar ucapan Nathan. Namun kemudian, wanita itu terkikik geli. "Ternyata kau calon ayah yang posesif ya,"


Nathan hanya terdiam mendengar perkataan Vivian yang bernada mengejek itu. Dan karena terlalu asik mengobrol, tanpa terasa mereka telah sampai di rumah.


-


-


Setelah dirawat selama dua Minggu, akhirnya Raffi diijinkan untuk pulang. Dia sangat senang, karena akhirnya bisa menghirup udara bebas.


Saat ini Raffi sedang berada di cafe bersama Reno. Mereka memutuskan untuk bertemu. Karena kakinya belum sepenuhnya sembuh, Raffi masih harus menggunakan bantuan tongkat untuk berjalan.


"Aku memiliki problem dengan Sania, perempuan itu memutuskanku dan sekarang dia malah dekat dengan Gio. Dan aku tidak bisa menerima hal itu!!"


"Gio, teman brandalan itu?!" Reno mengangguk. "Lalu apa rencanamu untuk memberi pelajaran padanya?"


"Aku masih memikirkannya, karena sekarang aku tidak bisa bergerak dengan bebas. Polisi mengawasi pergerakan ku, salah melangkah sedikit saja aku bisa berada dalam masalah." Tutur Reno. "Lalu bagaimana dengan temanmu itu? Apa dia tidak mau membantumu?"


"Aiden maksudmu?" Raffi mengangguk. "Aku belum bertemu dengannya selama satu Minggu terakhir ini. Sepertinya dia memiliki permasalahan yang cukup pelik." Ujar Reno.


Reno sendiri sangat penasaran dengan permasalahan Aiden. Dia terlihat sedikit aneh akhir-akhir ini, Reno ingin bertanya tapi mereka tidaklah sedekat itu. Meskipun Aiden mau membantunya, tapi mereka tidak terlalu akrab apalagi sangat dekat.


Karena Raffi masih dalam masa pemilihan, Reno menyarankan supaya dia segera pulang dan tidak terlalu lama berada di luar. Sebenarnya Reno dan Raffi masih memiliki hubungan saudara. Ibu Raffi merupakan adik tiri dari ayah Reno.

__ADS_1


-


-


Vivian berputar-putar di depan cermin sambil memperhatikan perutnya yang masih rata. Dia merasa heran, bukankah saat ini ia sedang hamil, tapi kenapa perutnya masih rata dan tidak tampak membuncit sama sekali?


Nathan yang selesai mandi memcingkan matanya melihat apa yang tengah dilakukan oleh Vivian. Meletakkan handuknya, lalu menghampiri sang-istri. "Apa yang sedang kau lakukan?"


"Aku merasa sangat aneh, bukankah saat ini aku sedang hamil, tapi kenapa perutku masih terlihat rata dan tidak buncit sama sekali, seperti wanita hamil pada umumnya."


Sebuah jitakan pelan mendarat mulus pada kepala coklat Vivian. "Dasar bodoh, jelaslah perutmu masih rata karena usia kandunganmu masih satu bulan dan baru masuk bulan kedua. Kalau sudah empat keatas baru terlihat." Ujarnya.


Vivian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia tersenyum tiga jari. "Betul juga, kenapa aku tidak berpikir sampai sana."


"Mulai sekarang kau harus bisa mengontrol diri, jangan berbuat seenaknya apalagi ketika berhadapan dengan Aiden dan anak buahnya. Aku tidak mau sesuatu yang buruk sampai menimpa janin itu, kau mengerti!!"


Vivian berdecak sebal. "Tanpa kau ingatkan pun aku sudah paham, jadi tidak perlu mengingatkanku lagi. Nathan, aku ingin makan sesuatu yang asam dan pedas. Bagaimana kalau kita keluar membelinya," rengek Vivian memohon.


"Tidak boleh makan sesuatu yang pedas dan asam, ingat kau punya penyakit lambung!!"


"Tapi ini bukan permintaanku, melainkan keinginan dia." Ucap Vivian sambil mengusap perutnya.


Nathan mendengus. Jika sudah begini bagaimana dia bisa melarangnya, Nathan ingat jika orang hamil memang suka ngidam yang aneh-aneh. Dan dia berdoa supaya Vivian tidak seperti ibunya dulu ketika sedang hamil Lovely.


"Ganti pakaianmu, jangan lupa bawa mantel hangat. Udara di luar lumayan dingin." Ucap Nathan dan membuat senyum dibibir Vivian merekah seketika. Wanita itu mengangguk dengan semangat.


"Kalau begitu tunggu sebentar," Nathan mendengus, menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Sudut bibirnya tertarik keatas, Nathan tidak pernah merasakan perasaan sehebat ini.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2