Istriku, Ga!Rah Cintaku

Istriku, Ga!Rah Cintaku
Semakin Manja


__ADS_3

"Mama!!"


Rossa membuka lebar-lebar tangannya saat melihat kedatangan Vivian. Setelah mendengar ibunya telah sampai di kota Seoul, Vivian merengek meminta Nathan supaya mengantarnya untuk bertemu wanita yang telah merawatnya sejak bayi itu.


Kebahagiaan tak hanya terlihat diraut wajah Vivian, tetapi juga Rossa. Rossa sangat merindukan putrinya ini, sudah lebih dari 3 bulan mereka tidak bertemu. Jadi wajar jika dia memberikan respon yang berlebihan ketika bertemu dengan Vivian.


"Mama, aku sangat merindukanmu," ucap Vivian sambil memeluk nyonya Rossa dengan erat.


"Mama juga merindukanmu, nak. Selamat untuk kehamilanmu, mama sangat bahagia karena akan mendapatkan 2 cucu sekaligus," ujar Rossa. Karena saat ini Silvia juga sedang mengandung.


Dari Vivian, lalu pandangan Rossa bergulir pada Nathan. Wanita itu tersenyum. "Lama tidak bertemu, menantu. Dan kau semakin tampan saja. Kalian berdua benar-benar pasangan yang cocok dan serasi, cantik dan tampan," Rossa menatap keduanya bergantian. Senyum masih terukir di bibirnya.


Karena terlalu asyik mengobrol, sampai-sampai Rossa lupa mengajak Vivian dan Nathan untuk masuk ke dalam. Sampai suara Kris menginterupsi obrolan mereka bertiga.


"Sayang, kenapa kau malah mengajak mereka mengobrol di sini, seharusnya kau membawa Vivian dan Tuan Muda masuk." Ucap Kris dan segera menyadarkan Rossa.


Rossa menepuk jidatnya. "Astaga, bagaimana aku bisa lupa. Ayo masuk, mama memasak banyak makanan lezat untuk kalian berdua. Malam ini kita makan malam bersama-sama disini." Ucapnya tersenyum.


Vivian mengangguk dengan antusias, kebetulan dia juga merindukan masakan bibinya. "Tentu, Ma."


Rossa sendiri adalah saudara kandung dari Ibu Vivian dan orang yang merawatnya sejak bayi, lebih tepatnya setelah ibu kandung Vivian meninggal. Itulah kenapa Vivian memanggilnya Mama, meskipun sebenarnya Nyonya Rossa adalah Bibinya.


-


-


"Aaarrrkkhhh... Aaarrrkkhhh... Kecoa sialan, menjauh dan jangan mendekatiku!!"


Aiden berteriak histeris saat beberapa ekor kecoa merambat di kakinya. Tak ada yang bisa dia lakukan selain berteriak untuk mengusir kecoa-kecoa tersebut.


Bukan lagi rahasia jika Aiden memang sangat takut pada kecoa, bukan takut sebenarnya, tetapi geli lebih tepatnya. Dan sialnya, dia malah terkurung di dalam ruangan yang banyak hewan menggelikan tersebut.


"Brengsek, cepat lepaskan aku!! Sampai kapan Kalian bertiga akan mengurungku di sini!!" teriak Aiden, namun tidak ada jawaban.

__ADS_1


Arya, Sean dan Dio mengurung Aiden di sebuah gubuk tua yang letaknya jauh dari keramaian kota. Hal itu semata-mata mereka lakukan, agar Aiden bisa segera menyadari semua kesalahan dan kebodohan yang telah dia perbuat selama ini.


"Sial, tempat ini kenapa agak sedikit mengerikan?!" gumam Aiden pelan.


Apa yang dialami saat ini, membuat Aiden dejavu. Karena dulu dia juga pernah mengalami hal yang sama, bahkan nyawanya hampir melayang di tangan para gangster. Saat itu ia selamat berkat pertolongan Nathan.


Mungkin saja Aiden sudah kehilangan nyawanya sejak saat itu, jika saja Nathan tidak menyelamatkannya dengan mempertaruhkan hidupnya sendiri. Nathan rela menerobos kobaran api hanya untuk menyelamatkan orang yang sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri.


Tapi sayangnya, apa yang Nathan lakukan hari itu sungguh sangat sia-sia, karena orang yang dia selamatkan dengan mempertaruhkan hidupnya adalah orang yang tidak tahu diri apalagi tau berterimakasih.


-


-


Ting...


Pesan video masuk ke ponsel Nathan, kedua mata pemuda itu memicing melihat pesan video yang iya terima. Nathan sungguh tidak mengerti, apa maksudnya Arya mengirimkan sebuah video padanya.


Nathan dan Vivian sama-sama terkejut setelah melihat isi pesan video tersebut."Aiden?!" Vivian dengan keras. "Apa yang mereka bertiga lakukan padanya? Apa mereka berencana mengibarkan bendera perang dengan Aiden dan gengnya?" Pekik Vivian.


Nathan menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu. Tapi sepertinya mereka bertiga memiliki sebuah rencana. Dan asal kau tau saja, Vi, mereka bukan orang-orang bodoh yang melakukan sesuatu tanpa perhitungan. Karena kau tidak mengenal mereka bertiga dengan baik." Tutur Nathan.


Apa yang Aiden alami saat ini, sama persis dengan apa yang pernah dia alami dulu. Mungkin maksud mereka bertiga adalah untuk membuat Aiden sadar, dan mengerti. Tapi itu mustahil.


Nathan meletakkan ponselnya di atas meja, lalu pandangannya bergulir pada Vivian, wanita itu diam termenung.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Apakah mencemaskan, Aiden?" Vivian menggeleng."Lantas?"


"Kau, yang aku cemaskan adalah dirimu. Bagaimana jika Aiden malah menyalahkanmu, dan menganggap jika kaulah dalam utama dibalik penculikannya? Dia pasti akan semakin membencimu,"


Nathan menepuk kepala coklat Vivian dengan lembut. "Tidak perlu memikirkan tentang hal itu, sebaiknya kau jangan berpikiran terlalu berat. Ingat apa kata dokter, kau harus memikirkan janin di dalam perutmu."


Vivian menghambur ke dalam pelukan Nathan dan menyandarkan kepalanya di dada bidang yang tersembunyi di balik kemejanya. "Aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu, hanya itu yang aku cemaskan."

__ADS_1


Nathan mencium kepala Vivian dengan lembut. "Aku pasti menjaga diriku dengan baik, jadi kau tidak perlu mencemaskan apapun." ucapnya meyakinkan. Nathan tidak ingin jika Vivian sampai berpikir terlalu berat. Karena itu bisa mempengaruhi janin di dalam perutnya.


"Ayo pulang," tiba-tiba Vivian merengek meminta pulang. Padahal sebelumnya dia sendiri yang mengatakan ingin menginap di rumah ibunya, karena dia masih sangat merindukan nyonya Rossa.


"Kenapa, bukannya kau sendiri yang ingin menginap di sini? Kenapa sekarang tiba-tiba ingin pulang?" Nathan menatap Vivian keheranan.


Vivian menggalang. "Pokoknya kita pulang!! Aku mau pulang," dia kembali merengek.


Nathan menghela napas, dia pun akhirnya menuruti kemauan istrinya yang terus merengek mengajak pulang. Karena jika tidak dituruti pasti Vivian tidak akan berhenti merengek seperti bayi.


"Baiklah, ayo kita pulang!!"


.


.


"Akhirnya sampai juga." Vivian merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Ia dan Nathan baru saja tiba di rumah mereka.


Wanita itu menoleh mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang. Siapa lagi jika bukan Nathan. "Sudah larut malam, sebaiknya cepat pergi ke kamar dan segera tidur." Pinta Nathan tak ingin dibantah.


"Gendong," rengek Vivian sambil mengulurkan kedua tangannya pada Nathan.


Laki-laki itu mendengus. Sejak dinyatakan hamil, sikap manja Vivian semakin hari malah semakin menjadi. Tapi Nathan tidak bisa mengeluh apalagi menolak keinginan Vivian selama itu masih wajar dan normal.


"Dasar kau ini, kenapa semakin hari kau semakin manja saja?!" Kemudian Nathan mengangkat tubuh Vivian bridal style dan membawanya ke kamar mereka yang berada di lantai dua.


Wanita itu tersenyum lebar. Vivian memeluk leher Nathan dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Sungguh beruntung Vivian memiliki suami seperti Nathan, yang selalu memberikan cinta yang berlimpah padanya.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2