Istriku, Ga!Rah Cintaku

Istriku, Ga!Rah Cintaku
Hamil


__ADS_3

Vivian bersenandung sambil memilih-milih wortel yang sesuai dengan keinginan hatinya, hari ini adalah jadwalnya berbelanja karena sudah banyak bahan makanan di rumahnya yang mulai menipis, salah satunya adalah sayur dan buah.


Seperti biasa, Nathan menemaninya bahkan pemuda itu rela meninggalkan pekerjaannya di kantor yang masih menumpuk demi menemani sang-istri. Kondisi Vivian belum sepenuhnya fit sejak insiden di kantor dia yang nyaris pingsan, jadi Nathan tidak bisa membiarkannya pergi sendirian.


"Wortel sudah, paprika sudah, kentang sudah, lobak sudah, daging sapi sudah. Ng, masih banyak lagi yang harus dibeli," kata Vivian sambil mengecek ulang belanjaannya.


"Vivian."


Wanita itu segera berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya. Wajahnya berubah kecut ketika melihat yang memanggilnya adalah kakak seniornya.


"Kau sedang berbelanja ya?" Tanya si senior.


Vivian mengangguk. Dalam hatinya ia berkomat-kamit tidak jelas, sudah tau berbelanja, tapi Diva masih bertanya. "Ck, apa dia buta?! Sudah jelas jika aku sedang berbelanja, tapi masih bertanya juga. Atau karena ada Nathan disini?" Ujarnya membatin.


Pandangan Diva kemudian bergulir pada Nathan yang sedang sibuk dengan ponselnya. Melihat pemuda itu yang terlihat begitu tampan dalam balutan pakaian kantornya membuat Diva menjadi sedikit salah tingkah.


Vivian berdecak sebal, apa tidak ada pria lain lagi di dunia ini? Kenapa harus suaminya? Vivian memeluk lengan Nathan. "Kita sudah selesai belanjanya, senior duluan ya." Ucap Vivian dan pergi begitu saja.


Setelah cukup jauh dari Diva, Vivian tiba-tiba berhenti. Wanita itu terlihat mengubek-ubek isi tasnya untuk mencari sesuatu lalu menyerahkan sebuah kaca mata tebal pada Nathan. "Pakai ini,"


"Untuk apa?"


"Supaya tidak ada yang ganjen lagi. Sudah tau kau memiliki pasangan, tapi masih saja berusaha caper, dan itu membuatku muak!!"


Nathan menolaknya. "Kenapa harus memikirkan mereka. Toh mereka juga memiliki mata, yang penting adalah aku. Selama aku tidak menggubris mereka itu fine-fine saja. Lagipula aku hanya milikmu dan siapa yang bisa merebutnya darimu!!" Ujar Nathan berusaha meyakinkan Vivian.


Wanita itu mengangguk. "Benar juga ya, emang dasarnya mereka saja yang keganjenan dan sok kecantikan. Ya sudah, kita lanjut belanja lagi saja. Masih banyak yang harus aku beli," ucapnya.


Nathan mengangguk. Dia mengambil alih troli ditangan Vivian dan mendorongnya dengan wanita itu berjalan disampingnya. Sekarang Vivian tak ambil pusing lagi meskipun banyak pasang mata yang menatap suaminya dengan penuh damba, selama Nathan tidak menghiraukan mereka, itu sih fine-fine saja.


Dan setelah lebih dari satu jam berkeliling pusat perbelanjaan, akhirnya semua yang Vivian butuhkan sudah ia dapatkan. Setelah membayar semua belanjaan itu, mereka berdua memutuskan untuk langsung pulang.


-

__ADS_1


-


Reno menghadang Gio ketika dia hendak pergi ke kantin. Reno tidak sendirian, dia bersama tiga temannya. Gio sudah memintanya untuk menyingkir tapi dia tidak menghiraukannya.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku? Memangnya masalah apa yang sebenarnya kau miliki denganku?!" Tanya Gio tanpa basa-basi.


"Jauhi, Sania. Kau tau bukan jika sejak awal aku yang lebih dulu bersamanya dan sekarang berani-beraninya kau merebutnya dariku. Apa kau sudah tidak menyayangi nyawamu lagi?!"


"Memangnya apa hakmu melarangku untuk dekat dengannya? Bukankah dia sendiri yang sudah tidak ingin memiliki hubungan denganmu?! Jika kau memang mencintainya, seharusnya kau bisa lebih memahaminya. Sebaiknya menyingkir dan jangan menggangguku!!"


Reno mendorong Gio dengan kasar hingga dia terhitung kebelakang. Reno mengangkat kepalan tangannya dan bersiap untuk memukul Gio, namun Kris datang dan menghentikan mereka sebelum terjadi perkelahian.


"Ada apa ini?!"


"Mereka yang memulai duluan, Reno mencoba mencari masalah dengan Gio!!" Seru Sania tiba-tiba. Entah darimana datangnya, tiba-tiba sudah berdiri disamping Gio.


"Sania, apa-apaan kau ini? Kenapa kau sampai memfitnahku hanya untuk membelanya?" Reno menatap Sania dengan kecewa.


"Sania, Kau~!!"


"Pak rektor, sebaiknya beri hukuman pada orang seperti dia, supaya tidak berulah lagi. Dan asal Anda tau saja, yang menjadi dalang utama kenapa Nathan sampai menghajar Raffi adalah dia!! Jadi Anda harus menindaknya dengan tegas!! Gio, ayo pergi. Kau mau ke kantin kan, kita pergi sama-sama."


Gio mengangguk. "Baiklah,"


"Kami pergi dulu,"


-


-


Hoek... Hoek.. Hoek...


Vivian berlari ke kamar mandi karena aroma bumbu yang sedang dia tumis. Tiba-tiba dia merasa mual setelah mencium aroma menyengat dari bumbu tersebut. Nathan yang sedang memeriksa laporan di laptopnya pun terkejut. Ia segera berdiri dan menyusul Vivian ke kamar mandi.

__ADS_1


Nathan menggedor pintu kamar mandi dan memastikan apakah Vivian baik-baik saja. Tapi tidak ada jawaban, hanya suara Vivian yang sedang muntah-muntah yang terdengar olehnya.


"Vivian, buka pintunya. Kau baik-baik saja kan?" Seru Nathan cemas.


Nathan mencoba membuka pintu itu tapi terkunci dari dalam. Dan baru saja dia hendak mendobraknya, Vivian keluar dari dalam sana dengan wajah yang sedikit pucat. "Kau baik-baik saja?" Tanya Nathan sambil menatap Vivian dengan cemas.


Wanita itu mengangguk. "Aku tidak apa-apa, hanya sedikit mual saja. Sebaiknya kita pesan makanan dari luar saja, aku benar-benar tidak tahan dengan aroma bumbu yang sedang aku masak." Ucapnya.


"Terserah kau saja, sebaiknya pergi ke kamar dan istirahat. Kau terlihat pucat, setelah sarapan kita pergi ke dokter dan aku tidak mau mendengar kata tidak!!" Vivian menghela napas dan mengangguk pasrah. Karena tidak ada gunanya mendebat Nathan sekarang.


.


.


"Selamat, Tuan. Istri Anda sedang hamil, dan usia kandungannya baru memasuki bulan kedua."


Dada mereka berdua ingin meledak rasanya, Nathan dan Vivian sama-sama terkejut setelah mendengar apa disampaikan oleh dokter. Saking terkejutnya sampai-sampai mereka berdua tidak bisa berkata-kata. Kedua mata Vivian tampak berkaca-kaca.


"Sebaiknya jaga kandungannya, karena kehamilan di trimester pertama sangat rentan mengalami keguguran. Pastikan istri Anda tidak sampai kelelahan apalagi berpikir yang terlalu berat,"


"Jadi, istri saya benar-benar hamil Dok?" Dokter itu mengangguk membenarkan. "Kau dengar itu, Vi. Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua." Ucap Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Vivian.


"Tapi ini sungguhan kan, ini bukan tipuan kan Dok? Saya benar-benar hamil kan?" Dokter itu tersenyum dan mengangguk.


Vivian menyeka air matanya dan berhambur ke dalam pelukan Nathan dan menangis. Ia tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini yang sedang bercampur aduk.


Antara bahagia dan tidak percaya. Meskipun mereka sama-sama sepakat untuk menundanya, tapi tetap tidak bisa menolaknya ketika Tuhan telah memberikan anugerah terbesarnya.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2