
"Bayi kalian tumbuh dengan normal. Sepertinya kalian sangat memerhatikan gizi dan kesehatannya ya." Sang dokter berucap ramah di sela tawanya. "Saranku masih sama, jaga kesehatan, perbanyak istirahat, jangan terlalu kelelahan, dan kontrollah emosimu."
Vivian mengangguk senang, Hazel gadis itu berbinar cerah. Berita bahwa bayinya tumbuh normal sungguh membahagiakan baginya. Jika terus sehat seperti ini, maka kurang lebih tujuh bulan lagi, mereka berdua akan menggendong seorang bayi mungil. Hatinya sudah tak sabar untuk itu.
"Anak muda, jagalah istrimu semaksimal mungkin. Jangan biarkan dia banyak pikiran." Nathan tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Setelah itu, mereka berterima kasih pada sang dokter dan keluar dari ruang periksa.
Vivian bersenandung kecil demi mengeluarkan rasa bahagianya. Wanita itu berjalan di depan Nathan yang hanya bisa menatapnya dengan senyum maklum. Dirinya juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Vivian saat ini.
"Vivian, awas!!" Seru Nathan sambil menarik Vivian hingga wanita itu jatuh ke dalam pelukannya. Nyaris saja dia tertabrak oleh kereta dorong karena tidak memperhatikan jalan. "Kau ini, kenapa ceroboh sekali?" Omel Nathan.
Vivian tersenyum tiga jari. "Maaf, aku kurang hati-hati, untung saja ada kau yang dengan sigap menarikku tadi." Ujarnya dengan senyum yang sama.
Nathan menghela nafas berat, inilah salah satu alasan, kenapa Nathan tidak tega membiarkan Vivian pergi sendiri tanpa dirinya. Istrinya itu sangat ceroboh, dan kecerobohannya itu bisa membahayakan dirinya sendiri kan janin di dalam perutnya.
"Jangan ulangi lagi, mulai sekarang kau harus lebih berhati-hati," pesan Nathan menasehati.
Vivian mengangguk. "Baiklah, aku mengerti, dan tidak akan aku ulangi lagi. Aku lapar, bagaimana kalau sekarang kita pergi makan?" usul Vivian sambil memegangi perutnya. Kebetulan Nathan sendiri juga lapar.
"Kau ingin makan di mana?" tanya Nathan.
Vivian meletakkan jari telunjuknya di depan bibir dan mulai berpikir. "Em, dimana ya? Bagaimana kalau kita makan di restoran Prancis saja?" usul Vivian.
"Baiklah, terserah kau saja." Nathan mengusap kepala Vivian, dimana pun yang penting itu bisa membuat Vivian senang, Nathan sih oke-oke saja.
Degg...
Nathan tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat Vivian ikut berhenti juga. Wanita itu menatap suaminya penasaran. "Nathan, ada apa?" tanya Vivian.
Nathan menggeleng. "Entahlah, tiba-tiba aku memiliki firasat buruk." jawabnya setengah termanggu.
Jawaban tersebut membuat Vivian menampilkan wajah khawatir. "Firasat buruk? Benarkah?" Ia bertanya memastikan.
Nathan mengangkat bahunya. "Mungkin hanya perasaanku saja." Jawabnya.
"Mungkin kau kelelahan." Ucap Vivian masih dengan wajah khawatirnya. "Bagaimana kalau kita pulang saja?" ajak Vivian yang langsung disambut gelengan oleh Nathan.
"Kita baru saja di sini. Sudahlah, kau bilang ingin makan di restoran Perancis kan? Ayo masuk," Pria itu kemudian menarik tangan Vivian dengan senyum tipis di bibirnya. Lalu mereka berdua memasuki restoran mewah tersebut.
-
__ADS_1
-
"Baiklah, aku mengerti!!"
Aiden memutus sambungan telfonnya. Seringai tercetak di bibirnya, temannya baru saja memberitahunya jika dia melihat Nathan dan Vivian dipusat kota. Mereka sedang makan siang di restoran Perancis.
Dan Aiden berencana memberikan kejutan untuk mereka berdua. Nathan terutama, ini saatnya pembalasan dimulai, dan Aiden tidak bisa menundanya lagi.
"Ayo, kalian berlima ikut aku. Kita bersenang-senang,"
"Siap, Bos."
Hari ini juga Aiden akan menghancurkan Nathan. Karena dia, ia terkurung di tempat gelap selama berhari-hari. Dan perbuatan teman-temannya, Nathan lah yang harus menanggungnya. Karena membalas mereka bertiga tidak ada gunanya.
-
-
Usai makan siang, Vivian dan Nathan tidak langsung pulang. Mereka memutuskan untuk jalan-jalan sambil melihat pameran yang selalu diadakan setiap tahunnya. Selain penjualan makanan tradisional, banyak juga yang menjual pernak-pernik seperti aksesoris wanita dan lain sebagainya.
"Wah, disini sangat ramai, aku baru pertama datang ke pameran seperti ini." Ucap Vivian dengan mata berbinar-binar.
"Aku tau, tidak perlu kau ingatkan lagi," Senyum Vivian kembali mengembang. "Kalau begitu, bolehkah aku membeli gelang yang di sana?" tanya Vivian sambil menunjuk sebuah kedai aksesoris.
Lalu Nathan memandang istrinya itu dengan pandangan heran. "Jika kau ingin gelang, aku akan membelinya di toko langganan Mami."
Vivian menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak! Tidak! Aku tidak ingin barang yang mahal. Cukup itu saja, Nathan. Asal itu darimu, maka benda apapun akan menjadi tak ternilai harganya!"
Nathan terhenyak mendengar perkataan Vivian. Hanya dengan kata-kata seperti itu, sudah bisa membuat laki-laki itu merasa senang. Dengan gerakan cepat, ia memberi kecupan singkat di bibir Vivian.
"Baiklah. Terserah kau saja," ucapnya pada Vivian, wanita itu lalu mengangguk. Dengan cepat kemudian Vivian menarik Nathan menuju kedai tersebut.
Waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa mereka menghabiskan setengah hari mereka di pameran kota.
Mereka berdua pulang dengan berjalan kaki, hal ini tentu saja adalah keinginan Vivian karena berjalan kaki akan lebih menyenangkan dibanding menaiki mobil. Itukah kenapa Nathan tidak membawa mobilnya.
Brumm.. Brumm... Brumm...
Sedikitnya enam motor sport besar mengelilingi mereka berdua. Membuat mereka mau tidak mau menghentikan langkahnya. Nathan menggenggam tangan Vivian dengan erat supaya istrinya itu tidak melakukan tindakan ceroboh yang bisa membahayakan janin di dalam perutnya.
__ADS_1
Pandangan Nathan yang tajam menatap Aiden dengan penuh intimidasi. "Apa lagi yang kau inginkan sekarang?" Tanya Nathan dingin.
"Bagaimana kalau kita bersenang-senang, bukankah kau menganggapku sebagai saudaramu, pasti kau tidak keberatan kan bersenang-senang dengan saudaramu sendiri?" Aiden menyeringai.
Kemudian Aiden memberi kode pada teman-temannya supaya mengatasi Vivian, karena jika tidak diatasi, wanita itu akan sangat merepotkan. "Ayo, kita duel satu lawan satu. Dan gadismu, harus diamankan terlebih dulu,"
"Jangan menyentuhnya atau kalian semua akan mati!!" Ancam Nathan memberi peringatan.
Jika saja Vivian tidak sedang dalam keadaan hamil. Nathan bisa lebih tenang, tapi saat ini dia sedang berbadan dua dan Nathan tidak bisa membiarkan Vivian maupun janinnya berada dalam bahaya. Dan mereka tidak boleh tau jika saat ini Vivian sedang hamil, karena Aiden pasti akan menggunakan hal itu untuk menjadikan kelemahannya.
Bruggg...
"Nathan!!" Vivian menjerit histeris melihat Nathan yang sedikit limbung karena pukulan Aiden. Dia memukulnya dengan tiba-tiba PP q disaat Nathan belum siap hingga dia tidak bisa menghindar apalagi menahan pukulan tersebut.
"Perhatikan lawanmu!!" Seru Aiden. "Ayo, kerahkan semua tenagamu dan hadapi aku!!"
Nathan menyeka darah di sudut bibirnya. Dengan sigap Nathan menahan pukulan Aiden yang mengarah pada wajahnya. Kali ini Nathan serius dan tidak membiarkan Aiden menyentuhnya lagi.
Perkelahian mereka berdua pun tidak bisa terhindarkan lagi. Nathan benar-benar serius, bahkan dia tak segan memberikan pukulan-pukulan mematikan pada mantan sahabatnya itu. Dan Aiden benar-benar menghadapi serangan Nathan yang bertubi-tubi.
"Mengalah atau wanitamu ini yang akan mati!!" Seru salah seorang teman Aiden sambil meletakkan belati di leher Vivian.
"Nathan, jangan pedulikan aku. Aku bisa melindungi diriku sendiri. Fokus saja bocah tak tau terimakasih itu!!" Teriak Vivian.
Aiden menyeringai. Kelengahan Nathan segera ia manfaatkan untuk memberikan serangan telak. Dia memukul wajah, perut dan ulu hatinya hingga membuat Nathan terhuyung.
Darah segar mengucur dari pelipisnya yang robek akibat pukulan Aiden. Melihat Nathan yang berada dalam bahaya tak lantas membuat Vivian diam begitu saja, wanita itu menyikut dan menendang dua teman Aiden yang memeganginya hingga mereka tersungkur ke belakang.
Vivian menghampiri Nathan lalu menekan darah di pelipisnya dengan sapu tangan miliknya. "Sebaiknya kau tidak ikut campur!!" Teriak Aiden sambil menarik Vivian hingga dia jatuh ke tanah dalam posisi duduk.
"VIVIAN!!" teriak Nathan melihat Vivian yang meringis kesakitan. "Aiden!! Apa-apaan kau ini?! Apa kau sengaja ingin membunuh janin di dalam perutnya?! Kau ingin membunuh keponakanmu sendiri, hah?!"
"A...Apa?! Jadi dia sedang hamil?!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1