
Aiden langsung pergi ke rumah Nathan setelah mendapat telfon jika Vivian mengundangnya makan malam. Ia begitu bersemangat apalagi Nathan memberitahunya jika Vivian sudah bisa memaafkan dirinya.
Tidak dengan tangan kosong. Aiden datang sambil membawa cheese cake kesukaan sang kakak.
Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian Vivian yang sedang menyiapkan makan malam di dapur. Tak lama berselang sosok Aiden muncul dan menghampiri Vivian. "Oh, kau sudah datang. Duduklah, makan malam hampir siap." Ucap Vivian sedikit datar.
"Dimana kakak ipar?" tanya Aiden karena tidak melihat keberadaan Nathan.
"Dia ada di kamar, sebentar lagi juga turun."
"Kak, adakah yang bisa kubantu. Meskipun cuma sebentar, aku pernah belajar memasak pada seorang chef yang bekerja di hotel bintang 5. Karena dulu aku bercita-cita menjadi seorang chef terkenal," ujarnya.
Vivian menggeleng. "Tidak perlu, ini juga hampir selesai. Apa semangka dan melon yang sudah kepotong dan kupas di kulkas, ambillah." Pinta Vivian.
Mata Aiden langsung berbinar-binar mendengar kata semangka dan melon. "Itu adalah buah kesukaanku, bagaimana Kakak bisa tahu?" Aiden menatap Vivian penasaran.
"Dasar bodoh, tentu saja aku tahu. Bagaimanapun juga, kau adalah adikku."
Aiden merasa terharu mendengar apa yang baru saja Vivian katakan. Pemuda itu menyeka air matanya lalu memeluk kakaknya. Sudah lama Aiden menunggu kata-kata itu keluar dari bibir Vivian, setelah sekian lama menunggu, akhirnya Vivian mau membuka hatinya dan menerima dirinya.
Dan sementara itu. Nathan yang menatap mereka dari kejauhan tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Dia sengaja tidak langsung turun dan bergabung dengan istri serta adik iparnya, hal itu semata-mata Nathan lakukan karena ingin membuat mereka lebih dekat.
Nathan sengaja memberi ruang untuk Vivian dan Aiden agar tidak merasa canggung satu sama lain. Meskipun bersikap sedikit kaku, tapi Nathan tahu jika Vivian sudah menerima dan memaafkan Aiden.
Nathan kemudian beranjak dan menghampiri mereka berdua. Aiden tersenyum lebar lalu menghampiri Nathan.
"Kau lihat itu tadi, kakak benar-benar sudah menerima dan memaafkanku. Dan kau sudah berjanji, jika kak Vivian memaafkanku, kau juga akan memaafkanku. Nathan, apa kita bisa berteman lagi seperti dulu?" Aiden menatap Nathan penuh harap.
Natan menepuk bahu Aiden dan mengangguk. "Tentu saja, dan bukankah sekarang kita adalah saudara. Kau adalah adik Vivian, yang artinya adikku juga." Ucapnya sambil mengukir senyum tipis di-bibirnya.
Aiden tersenyum sambil menyeka air matanya. "Kakak Ipar!!" Aiden berhambur memeluk Nathan.
__ADS_1
Vivian menghela napas dan menggelengkan kepala melihat pemandangan di depannya. Mengabaikan mereka berdua, Vivian segera melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Masakannya harus siap sebelum jam makan malam tiba.
.
.
Makan malam sudah selesai sejak sepuluh menit yang lalu, Vivian langsung pergi ke kamarnya, sedangkan Nathan dan Aiden mengobrol di ruang keluarga.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Ucap Nathan membuka percakapan.
"Lega, aku tidak menyangka jika akhirnya dia bisa memaafkan dan menerimaku. Aku benar-benar sangat bahagia, saking bahagianya sampai-sampai aku ingin menangis, aku terharu." Ujarnya.
"Aku harap setelah ini kau tidak melakukan kebodohan yang sama, yang membuat Vivian menjadi membencimu lagi. Dan apa kau tau, bagaimana hancurnya dia saat tau ternyata saudara kembarnya telah meninggal."
Aiden menundukkan kepalanya. Penyesalan terlihat jelas di matanya. "Ini memang salahku, aku yang begitu bodoh sampai-sampai melakukan sesuatu yang membuatku akhirnya menyesalinya semuanya. Jika waktu bisa ku ulang kembali, aku ingin kembali ke masa lalu dan memperbaiki semuanya." Ujarnya.
"Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki kesalahan, selama ada niat dan keinginan tulus di dalam hati. Tidak perlu kembali kemasa lalu hanya untuk memperbaiki sebuah kesalahan. Semua sudah berlalu jadi tidak perlu dibahas lagi."
Aiden mengangguk. "Ya, memang sudah seharusnya tidak membahas yang sudah berlalu." Ucap Aiden menimpali.
Dia ingin tau apa yang sedang Vivian lakukan di kamar sampai-sampai dia tidak keluar lagi setelah makan malam tadi. "Apa yang sedang kau lakukan?" Nathan menatap heran Vivian yang sedang berputar-putar di depan cermin sambil memegangi perutnya yang tampak rata.
"Aku seperti merasakan sebuah kehidupan baru di dalam sini, sepertinya aku hamil lagi. Sejak datang bulan terakhir, aku belum datang bulan lagi sampai sekarang."
Nathan menaikkan sebelah alisnya dan menatap Vivian penuh tanya. "Kau serius?" Vivian mengangguk.
"10 rius malah. Aku coba tes dan hasilnya positif, tapi aku masih ragu untuk memberitahumu sebelum memastikannya di rumah sakit. Aku takut jika tidak benar-benar hamil dan malah membuatmu kecewa." Tuturnya.
"Kalau begitu besok kita ke rumah sakit. Kita pastikan kau benar-benar hamil atau tidak." Ucap Nathan sambil mengusap kepala Vivian.
"Baiklah. Oya, apa Aiden sudah pulang?" Tanya Vivian memastikan.
__ADS_1
Nathan menggeleng. "Aku memintanya untuk bermalam disini, sepertinya dia ingin lebih dekat denganmu. Jadi tidak ada salahnya jika aku membiarkan dia untuk tinggal dan bermalam." Terang Nathan.
Vivian hanya mengangguk dan tidak memberikan jawaban apa-apa. Karena dia sendiri bingung harus mengatakan apa. Antara ia dan Aiden masih ada keseganan dan kecanggungan.
-
-
Sesuai janji yang di buat dengan Dokter Lee. Hari ini Nathan dan Vivian memutuskan untuk pergi ke rumah sakit guna memastikan apakah dia benar-benar hamil atau tidak.
Jantung Vivian berdebar dua kali lebih cepat ketika menginjakkan kakinya di lantai rumah sakit.
Dalam hatinya dia terus berdoa semoga hasilnya positif karena Vivian sudah sangat-sangat tidak sabar, dia ingin segera memiliki momongan. Kehidupan rumah tangganya dan Nathan sangat harmonis jadi untuk apa ditunda-tunda lagi?!
"Nona Xia, silahkan. Dokter Lee sudah menunggu Anda di dalam." Seorang perawat mengantar Nathan dan Vivian bertemu dengan dokter Lee.
Vivian mengangkat wajahnya dan menatap Nathan dengan pandangan tak terbaca. Laki-laki itu mengangguk. Nathan tau pasti apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya ini. Vivian gugup dan takut, bukan takut untuk bertemu dengan dokter Lee. Tapi dia takut kalau hasilnya malah negatif.
"Dokter, Nona Xia dan Tuan Muda Qin sudah tiba," lapor seorang perawat yang mengantarkan mereka berdua untuk bertemu dokter Lee.
"Silahkan masuk Nona, Tuan Muda." Dokter Lee mempersilahkan.
Dokter Lee meminta Vivian untuk berbaring, sementara Nathan menunggu di depan meja kerja dokter wanita tersebut.
Saat ini Vivian sedang diperiksa apakah dia benar-benar hamil atau tidak.
Nathan menatap dokter Lee dengan serius dan penuh tanya. "Dokter, bagaimana hasilnya?" Tanya Nathan tanpa basa-basi setelah Dokter Lee kembali duduk di kursinya.
Dokter Lee tersenyum tipis. Dari raut wajah dan pancaran matanya. Terlihat jelas jika kabar yang hendak dia sampaikan adalah sebuah kabar baik. "Selamat, Tuan. Nona Xia positif hamil. Kalian berdua akan segera menjadi orang tua!!"
-
__ADS_1
-
Bersambung.