
Akhir pekan...
Adalah waktu yang paling tepat untuk bersantai bersama keluarga. Entah itu pergi Piknik bersama atau hanya sekedar duduk-duduk di ruang keluarga sambil menikmati secangkir teh hangat.
Disebuah rumah mewah yang memiliki dua lantai. Terlihat sepasang suami-istri tengah berbaring di kamar mereka dengan si wanita menggunakan bahu suaminya untuk bermanja-manja. Rutinitas yang selalu mereka lakukan ketika akhir pekan tiba.
"Aku ingin pergi berlibur," semua kalimat keluar dari bibir si perempuan dan mengakhiri keheningan diantara mereka yang mengikat.
Mata si lelaki memicing. "Pergi berlibur?" Pemuda itu, Nathan, mengulang kata yang diucapkan oleh istrinya. "Tumben, bukankah biasanya kau yang paling malas untuk diajak berpergian apalagi pergi berlibur."
"Tapi ini bukan keinginanku melainkan keinginan anak kita," balas Vivian menimpali.
Nathan menghela napas berat. "Lalu kau ingin pergi berlibur kemana? Bukankah dokter menyarankan supaya kau tidak sampai kecapekan apalagi berpergian jauh sampai usia kandunganmu memasuki trimester kedua." Jelas Nathan.
"Tapi berlibur tak perlu harus ke tempat yang jauh kan, cukup ajak aku ke taman hiburan juga sudah cukup."
Nathan mengusap kepala Vivian. "Tapi tidak hari ini. Sudah tengah hari, Minggu depan saja supaya kau lebih puas bermainnya. Kita pergi agak pagi saja," ucap Nathan yang kemudian disetujui oleh Vivian.
"Baiklah, tidak masalah. Yang penting pergi, aku mau tidur sebentar. Nanti bangunkan aku saat jam makan siang." Pinta Vivian yang kemudian dibalas anggukan oleh Nathan.
"Baiklah, aku akan menemanimu disini."
Nathan menatap Vivian dan menghela napas. Bukan maksud Nathan menolaknya, hanya saja dia tidak ingin mengambil resiko besar dengan membawa Vivian berpergian jauh. Saat ini usia kandungan Vivian masih sangat muda dan Dokter mengatakan jika itu adalah usia kandungan yang sangat rentan mengalami keguguran.
Dia tak ingin hal serupa kembali menimpa Vivian. Sudah cukup satu kali saja mereka merasakan hancurnya kehilangan calon buah hati, dan Nathan tidak ingin terjadi lagi untuk yang kedua kalinya.
-
-
Keringat dingin mengucur deras dari pelipis Marcell saat perempuan yang dia taksir berjalan menghampirinya. Berkat bantuan Tao, akhirnya Marcell bisa bertemu dan ngobrol langsung dengan perempuan itu. Saat ini mereka berdua berada di sebuah cafe yang tak jauh dari cafe milik perempuan tersebut.
Marcell berdiri dan mengulurkan tangannya ketika perempuan itu berdiri di depannya. Marcell memperkenalkan dirinya begitu pula dengan perempuan bernama Kim Yejin tersebut.
__ADS_1
"Nona Kim, silahkan Anda mau pesan apa? Saya ingin memesankan untuk Anda tapi tidak tau apa minuman dan makanan kesukaan Nona,"
Yejin tersenyum tipis. "Tidak perlu sungkan dan canggung. Kita seumuran jadi santai saja tidak perlu setegang itu." Ucap Yejin dengan senyum yang sama. Marcell mengangguk sambil tersenyum.
Perlahan tapi pasti. Marcell mulai mengikis dinding tak kasat mata diantara mereka berdua. Mereka yang sebelumnya sama-sama canggung, akhirnya bisa mengobrol dengan tenang dan lebih terbuka, bahkan Marcell tak segugup tadi.
"Jadi itu adalah restoran milik keluargamu, dan kau adalah generasi ketiga yang melanjutkan bisnis mereka?"
Yejin mengangguk. "Ya, dan aku harus berusaha bagaimana caranya supaya restoran itu tetap bisa beroperasi dengan baik ditengah maraknya kuliner kekinian."
"Mengeluh dan putus asa tidak ada gunanya. Sebaiknya tetap berjuang agar restoran keluargamu tidak sampai terasingkan oleh kemunculan restoran dan cafe kekinian." Ujar Marcell memberi masukan.
"Ya, memang itu juga yang aku pikirkan. Andaikan saja ada yang mau berjuang bersamaku, pasti itu akan membuatku lebih baik."
Mendengar kalimat itu membuat Marcell seolah mendapatkan lampu hijau dari Yejin. Ia pun segera menawarkan diri untuk memberi bantuan padanya.
"Bagaimana kalau aku saja yang berjuang denganmu?! Em, maksudku kita kan berteman sekarang, dan jika boleh aku ingin berinvestasi di restoran milikmu. Kebetulan aku mengenal beberapa koki handal yang bisa membuat perpaduan antara makanan jadul dan modern, bagaimana?" Ujarnya.
"Baiklah, teman dan rekan bisnis!!"
-
-
Nathan mengeram frustasi karena sikap manja Vivian yang semakin hari semakin menjadi. Hari ini Vivian merengek supaya dia dipuk-puk seperti hendak menidurkan bayi. Bukan sambil berbaring di ranjang, melainkan sambil duduk dipangkuan Nathan.
"Ayolah, Nathan. Lagipula gak sulit kok, cuma duduk dipangkuan mu saja, memangnya apa sulitnya,"
"Kau ini bukan anak kecil lagi, Vi. Apalagi bayi berusia satu tahun. Astaga, apa tidak ada permintaan yang lebih masuk akal?!" Nathan mengusap wajahnya dengan kasar.
Vivian mempoutkan bibirnya. "Dasar suami menyebalkan, tidak perhatian. Nak, lihatlah papamu, sepertinya dia tidak menyayangi kita berdua!!" Vivian mengusap perutnya dan bicara dengannya.
"Jangan bicara yang tidak-tidak! Baiklah, cepat kemari." Pasrah Nathan.
__ADS_1
Vivian tersenyum lebar. Ia pun segera duduk dipangkuan Nathan sambil memeluk lehernya. Wajahnya bersandar di dada bidang yang tersembunyi dibalik kemeja lengan terbukanya. Vivian tau, mana mungkin Nathan bisa menolak permintaannya.
Dan tidak sampai 10 menit, Vivian sudah tertidur pulas. Nathan menghela napas, ia pun segera membaringkan Vivian diatas tempat tidur mereka yang nyaman lalu menyelimutinya sampai sebatas dada.
Nathan beranjak dari kamarnya dan melenggang keluar. Terlalu lama di dalam kamar membuatnya merasa jenuh.
Pemuda itu pergi ke taman belakang dan menikmati udara di-sana, meskipun langit terik tapi suasana di taman begitu nyaman. Pohon-pohon yang tumbuh di taman itu menghalangi sinar matahari sehingga nyaman dan teduh.
Ponsel milik Nathan berdering menandakan ada panggilan masuk. Dari nomor yang tidak dia kenal, alih-alih menerimanya, Nathan malah mematikan ponselnya. Dia ingin merasakan ketenangan dan tidak ingin mendapatkan gangguan dari siapa pun juga pihak mana pun untuk saat ini.
-
-
Bukan Arya, Sean dan Dio namanya jika tidak berulah dan membuat orang lain marah. Saat ini mereka bertiga pergi ke kantor polisi untuk menjenguk Reno, bukan menjenguk sih sebenarnya, mengganggunya lebih tepatnya.
"Kenapa menatapku seperti itu?! Apa kalian puas melihatku terkurung di tempat terkutuk ini?!" Bentaknya marah.
"Santai, bung. Slow, slow. Jangan marah-marah, nanti bisa cepat tua loh dan kerutan di wajahmu bisa semaki banyak. Satu bulan disini kau banyak berubah ya, sekarang kau lebih mirip Avatar. Andaikan saja ada tanda panah di-kepala botakmu itu, pasti lebih seru."
"Aku membawa spidol, bagaimana kalau kita bikin sendiri saja tanda panahnya?!" Usul Dio.
"Lumayan bagus idemu. Bro, kau setuju kan?", Tanya Sean.
Bukannya menjawab. Reno malah melempar wadah tisu pada mereka bertiga. Reno memanggil polisi jaga supaya membawanya kembali ke dalam sel. Dia juga berpesan supaya tidak mengijinkan mereka masuk jika datang berkunjung lagi.
Karena berurusan dengan mereka bertiga hanya akan membuatnya mengalami penuaan sebelum waktunya. Arya cs memiliki 1001 cara untuk membuat orang lain marah dan terkena tekanan darah.
-
-
Bersambung.
__ADS_1