Istriku, Ga!Rah Cintaku

Istriku, Ga!Rah Cintaku
Nathan Frustasi


__ADS_3

Hari demi hari berganti, Minggu berganti bulan, dan sekarang kandungan Vivian sudah memasuki bulan kelima. Tidak terasa memang, waktu berjalan begitu cepat. Dan semakin besar usia kandungannya, semakin tinggi juga tingkat kemanjaannya yang terkadang membuat Nathan frustasi sendiri.


Seperti hari ini contohnya. Vivian merengek supaya Nathan tidak pergi kemana pun dan meninggalkannya sendirian, padahal hari ini ada pertemuan penting di kantor.


Nathan menempati posisi CEO untuk sementara karena ayahnya sedang pergi ke luar negeri selama dua pekan.


"Tidak boleh!! Pokoknya tidak boleh kemana-mana. Huhuhu, aku tidak mau ditinggal sendirian," rengek Vivian.


Nathan mendesah berat. "Ayolah, Sayang. Jangan seperti ini. Kau tau sendiri bukan jika rapat ini sangat penting bagi perusahaan. Sudah sejak lama Daddy ingin bekerja sama dengan perusahaan ini. Jadi bagaimana mungkin aku bisa melewatkannya saat ada kesempatan baik datang dengan sendirinya," ujar Nathan panjang lebar.


"Lalu bagaimana denganku? Apa aku dan janin ini tidak penting?"


Nathan mengusap wajahnya dengan frustasi. Kenapa semakin hari tingkah dan sikap Vivian semakin menjadi-jadi saja. Tentu saja Vivian dan janin di dalam rahimnya sangat penting, tapi kerjasama itu juga penting, dan Nathan tidak bisa jika harus memilih salah satu diantara keduanya.


"Atau begini saja, kau ikut pergi ke kantor?!" Usul Nathan.


Vivian tampak berpikir. Kemudian dia mengangguk dengan antusias. "Boleh-boleh, aku akan ikut pergi denganmu saja. Sekalian jalan-jalan. Terlalu lama di rumah juga membuat jenuh," ujarnya.


"Kalau begitu cepat siap-siap. Aku juga mau siap-siap." Vivian mengangguk lalu beranjak dari hadapan Nathan.


Nathan tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Vivian. Ia tak lagi merasa terkejut ataupun aneh, karena apa yang dialaminya saat ini belum seberapa dibandingkan yang dulu dialami oleh ayahnya ketika sang ibu mengandung Lovely. Sering kali Luis frustasi karena ulah Jesslyn yang suka membuat pusing tujuh keliling.


Nathan bangkit dari duduknya. Dia juga harus bersiap-siap, Nathan tidak bisa terlambat menghadiri rapat.


-


-


Marcell dan Yejin memasuki sebuah pusat perbelanjaan yang tak jauh dari restoran milik wanita itu. Yejin meminta Marcell untuk menemaninya berbelanja dan tentu saja dia sangat senang. Keduanya tampak sangat serasi seperti pasangan yang nyata, meskipun pada kenyataannya mereka berdua hanya teman saja.


Yejin mengambil troli dan mendorongnya menuju rak buah dan sayur. Tapi troli itu segera diambil alih oleh Marcell. Janda beranak satu itu tersenyum lalu berjalan disamping Marcell.

__ADS_1


Yejin sudah pernah membina sebuah rumah tangga namun gagal ditengah jalan. Suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan meninggalkannya. Saat itu anak Yejin masih sangat kecil, dan sekarang usianya sudah 5 tahun. Marcell dan anak Yejin sangat dekat, bahkan gadis kecil itu memanggilnya dengan sebutan Papa kecil. Dan itu membuat Marcell sangat bahagia karena putri sang pujaan hati mau menerima dirinya.


"Kau pilih saja buah dan sayur yang hendak kau beli. Aku yang akan mendorong trolinya," ucap Marcell yang kemudian dibalas anggukan oleh Yejin.


Kesempatan semacam ini tentu tidak datang berkali-kali. Saat ada kesempatan lalu kenapa tak dimanfaatkan? Begitulah yang Marcell pikirkan. Selama itu bisa membuatnya dekat dengan Yejin, apapun pasti akan Marcell lakukan. Dan Marcell akan selalu berusaha membuat Yejin merasa nyaman ketika berada disampingnya. Sampai akhirnya dia bisa memilikinya.


-


-


"Senang bekerjasama dengan perusahaan Anda, Tuan Muda Qin!!"


Dua pria berbeda usia itu saling menjabat tangan sambil mengukir senyum lebar dibibir masing-masing. Akhirnya kerjasama terjalin dan dua perusahaan besar itu sekarang menjadi partner. Nathan baru saja mewujudkan keinginan sang ayah yang sejak lama ingin sekali berkerja sama dengan JH Corp.


"Semoga ini menjadi kerjasama yang saling menguntungkan," ucap Nathan.


"Ya, semoga saja. Kalau begitu kami permisi dulu." Nathan mengangguk lalu mengantarkan tamunya sampai depan pintu.


Nathan membuka pintu ruang istirahat dan mendapati Vivian yang sedang tertidur pulas. Lelaki itu mendengus berat. Pantas saja dari tadi Nathan tidak mendengar suara ribut-ribut dari dalam ruangan ini. Ternyata penghuninya sedang tertidur pulas.


Tak ingin membangunkan Vivian. Nathan menutup kembali pintu kamar itu dan melenggang keluar. Lebih baik melanjutkan pekerjaannya supaya selesai lebih cepat, dan hari ini ia tidak perlu sampai lembur karena kasihan Vivian jika mereka pulang sampai larut malam.


-


-


Arya cs menghampiri Aiden yang sedang duduk termenung di pinggiran sungai Han. Dari raut wajahnya terlihat jelas jika dia sedang galau. Dan tentu saja mereka tau apa penyebabnya, hal apa yang membuat dia segalau itu.


Tepukan pada bahunya membuat perhatian Aiden teralihkan. Pemuda itu mengangkat wajahnya. "Jangan terlalu dipikirkan, itu artinya kau dan dia tidak berjodoh. Bukankah masih banyak perempuan di dunia ini, jadi jangan menyerah hanya karena satu perempuan saja." Ujar Arya menyemangati.


"Tapi kenapa Tasya sampai berbohong padaku? Dia memperlakukanku dengan sangat baik, aku pikir karena dia menyukaiku juga tetapi ternyata hanya memberiku harapan palsu."

__ADS_1


"Ayolah, Bung. Hidup tidak mungkin berakhir hanya karena satu wanita saja. Dunia tetap berputar meskipun kau dan dia tidak bersama. Kita-kita aja yang jones tetap santai, tidak usah terlalu galau, bawah happy saja." Kata Dio sambil merangkul bahu Aiden.


"Daripada galau berkepanjangan, bagaimana kalau kita pergi bersenang-senang. Khusus hari ini biar aku yang traktir kalian semua," ucap Sean sambil menatap ketiga sahabatnya.


"Setuju!!" Dan mereka pun menjawab dengan kompak. Suara Arya dan Dio tentu yang paling lantang.


Benar apa yang Arya cs katakan. Tidak seharusnya dia terlalu lama larut dalam kesedihan, sudah saatnya melupakan Tasya dan melanjutkan hidupnya. Hidup ini tidak akan berakhir hanya karena satu wanita saja. Aiden harus berpikir dengan jernih. Ia tidak bisa mendapatkan Tasya, artinya mereka memang belum berjodoh.


-


-


Kelopak mata itu terbuka perlahan dan memperlihatkan sepasang hazel yang sangat indah. Pandangan itu lantas bergulir pada langit yang tak lagi biru, ternyata sudah menjelang senja. Yang artinya ia tertidur cukup lama.


Vivian bangkit dari berbaringnya lalu melenggang keluar dan mendapati Nathan yang masih berkutat dengan laptopnya. Vivian menghampiri sang suami sambil sesekali menguap. "Kau sudah bangun," Nathan mengangkat wajahnya dan menatap Vivian. Wanita itu mengangguk.


"Berapa lama aku tertidur? Dan kenapa kau tidak membangunkanku?" Dia bertanya.


"Kau terlihat lelah dan tidurmu sangat pulas. Aku jadi tidak tega untuk membangunkanmu." Jawabnya.


Meninggalkan Nathan begitu saja, Vivian pergi ke toilet untuk mencuci muka agar terlihat lebih fresh. Dia geli sendiri melihat wajahnya yang tampak lesu karena baru bangun tidur. Setelah mengolesi wajah cantiknya dengan make up tipis. Vivian kembali menghampiri Nathan.


"Aku lapar dan ingin makan sesuatu yang manis dan segar. Bisakah kau memesankannya untukku?"


Nathan mengangguk. "Tentu," kemudian dia memesan makanan yang Vivian inginkan. Dari pada janin di dalam perutnya ngiler. Lebih baik menurutinya. Toh bukan makanan yang sulit di dapatkan juga.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2