Istriku, Ga!Rah Cintaku

Istriku, Ga!Rah Cintaku
Perjuangan Aiden


__ADS_3

Vivian menghentikan langkahnya dan mengurungkan niatnya untuk pergi ke dapur saat tanpa sengaja ia melihat keberadaan Aiden di sana. Vivian tidak tau apa yang sedang dilakukan oleh pemuda itu.


"Sedang apa kau di dapurku?" Tegur Vivian.


Aiden menoleh dan mengukir senyum lebar di-bibirnya. "Kak, begini-begini aku jago masak loh, bagaimana kalau aku membuatkan sesuatu untukmu?" Usul Aiden.


"Tidak usah, aku sudah kenyang. Jika sudah tidak ada urusan lagi disini, sebaiknya kau pulang saja!!" Vivian meletakkan gelas air putihnya dan melenggang pergi.


"Kak, malam ini aku menginap saja ya," seru Aiden namun tak ada tanggapan dari Vivian. Wanita itu tetap berjalan ke depan dan tidak menoleh sedikit pun ke belakang.


Aiden menundukkan wajah sambil menggigit bibir bawahnya. Sekeras apapun dia mencoba, tetap saja tidak ada maaf untuknya, Vivian benar-benar sangat membencinya. Tapi Aiden tidak akan menyerah, dia akan berusaha keras untuk mendapatkan maaf dari Vivian.


"Sebaiknya kau pergi istirahat, ada beberapa kamar kosong di rumah ini." Nathan menepuk bahu Aiden dan melewatinya begitu saja.


"Nathan, tunggu!!" Seru Aiden.


Nathan berhenti lalu menoleh kebelakang. Aiden menundukkan kepalanya. "Ada apa?" Tanyanya datar.


"Apa kau juga membenciku seperti dia? Aku tau aku salah dan kesalahanku tidak mungkin bisa termaafkan. Tapi dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku sungguh-sungguh ingin meminta maaf padamu."


"Lain kali saja kita bicarakan hal ini. Pergilah istirahat, kau terlihat lelah, sebaiknya jangan tidur terlalu malam." Nathan menepuk bahu Aiden dan pergi begitu saja.


Aiden tidak menyalahkan sikap Nathan padanya. Dia memang pantas mendapatkannya. Terlalu besar kesalahan dan dosa yang ia perbuat pada mereka berdua, bahkan jika menangis darah sekalipun, belum tentu Nathan dan Vivian bisa memaafkannya.


.


.


Vivian menoleh setelah mendengar suara decitan pintu di buka dari luar. Wajah cantiknya tidak menunjukkan ekspresi apapun, datar. "Apa dia sudah pulang?" Tanya Vivian setibanya Nathan di depannya.


Nathan menggeleng. "Dia bersikeras untuk menginap, jadi aku memintanya untuk tidur di kamar tamu. Lagipula ini sudah malam dan dia juga tidak membawa kendaraan, aku harap kau bisa berbesar hati dan mengijinkannya untuk tidur disini malam ini."


"Terserahlah. Aku lelah, aku mau tidur."

__ADS_1


"Apa sebegitu dalam rasa benci yang kau miliki padanya, Vi?"


Vivian menghentikan gerakan tangannya untuk menarik selimut yang ada dibawah kakinya. Wanita itu lantas menoleh dan menatap Nathan yang juga menatap padanya penuh tanya. "Menurutmu?"


"Apa begitu sulit untukmu memaafkannya? Aku tau apa yang dia lakukan sangat fatal, aku juga marah dan kecewa. Tapi apakah dia melakukannya dengan sengaja, karena pada saat itu Aiden tidak tau jika kau dalam keadaan hamil. Jika saja dia tau, mungkin saja dia akan bersikap berbeda padamu!!"


Vivian menatap langsung ke dalam mata Nathan. Tatapannya dingin dan menusuk."Lalu kau ingin aku bagaimana? Memaafkannya? Maaf, Nathan. Tapi aku bukankah Tuhan yang bisa memaafkan semua kesalahan dan dosa umat-umatnya dengan mudah. Sebaiknya jangan mendebatku tentang masalah ini. Aku lelah, aku mau tidur!!" Kemudian Vivian berbaring dengan posisinya memunggungi.


Nathan menghela napas berat. Sepertinya tidak ada gunanya berbicara dengan Vivian, membujuknya juga akan sangat percuma saja, mengingat seberapa keras kepalanya Vivian. Apalagi dengan sifatnya yang sulit memaafkan ketika sudah tersakiti hatinya.


-


-


Cicit burung gereja yang bertengger di atas pohon menyambut datangnya pagi.


Di sebuah rumah yang memiliki dua lantai, terlihat seorang wanita yang tengah sibuk berkutat di dapur menyiapkan sarapan.


Jika biasanya hanya ada dua sampai tiga menu saja, pagi ini jumlah dan porsinya lebih banyak dari biasanya.


"Pagi, Kak." Sapa seorang pemuda pada sosok cantik yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. "Boleh aku bantu?"


"Tidak perlu, aku bisa sendiri!!" Balasnya dingin dan acuh tak acuh.


"Baiklah kalau begitu," pemuda itu menundukkan kepalanya kemudian dia beranjak dari dapur dan pergi begitu saja, meninggalkan si cantik itu sendirian di dapur.


Pemuda tersebut menoleh kebelakang, menatap punggung wanita itu dan menghela napas. Begitu sulit untuk mendapatkan hatinya, meskipun ia telah berusaha dengan sekuat tenaga, tapi tetap saja pintu untuknya tertutup rapat.


Ia pun pergi ke ruang keluarga dan duduk di sana, karena melakukan apapun tanpa ijin dari wanita itu sepertinya hanya akan menimbulkan masalah baru untuknya. Lebih baik ia diam dari pada membuat wanita itu semakin marah.


"Aku sudah menyiapkan kopi untukmu dan teh untuknya," ucap wanita itu saat menyadari kedatangan suaminya.


Si pemuda menepuk kepala coklat istrinya."Meskipun sangat membencinya, tapi hatimu tetap saja merasa tidak tega kan." Ucapnya sambil mengurai senyum tipis di-bibirnya.

__ADS_1


"Siapa bilang, aku hanya merasa kasihan saja. Bagaimana jika dia berpikir aku ini adalah wanita jahat karena sudah memperlakukannya dengan buruk!!" Jawabnya menimpali.


"Vivian, aku mengenalmu dengan sangat baik. Dan tidak ada orang lain yang mengenalimu sebaik diriku, kau boleh mengingkarinya, tapi dalam hatimu sebenarnya kau juga sangat peduli padanya. Karena bagaimana pun juga kau dan Aiden adalah saudara kandung, sedarah dan sekandungan."


Vivian mempoutkan bibirnya. "Jangan sok tau, siapa juga yang peduli padanya. Aku hanya merasa kasihan saja, K.A.S.I.H.A.N!!" ucap Vivian menegaskan.


"Baiklah, hanya kasihan saja. Aku mandi dulu, ada rapat penting pagi ini. Sudah hampir siap kan sarapannya?" Nathan memastikan, Vivian mengangguk. "Rukun dan baik-baik ya dengan Aiden, jangan berantem. Aku mandi dulu,"


"NATHAN!! KENAPA KAU SANGAT MENYEBALKAN!!"


Nathan tersenyum tipis. Dia tau, meskipun bibirnya selalu mengatakan kebencian. Tapi hatinya tetap merasa tidak tega. Karena Nathan tau jika Vivian sangatlah menyayangi Aiden.


.


.


Usai sarapan. Aiden berniat membantu Vivian membereskan dan mencuci semua wadah dan piring kotor yang ada dimeja. Vivian sudah mengatakan 'Tidak Perlu' tapi Aiden tetap bersikeras dan memaksakan diri.


Mengabaikan Aiden yang sedang sibuk mencuci piring. Vivian pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua.


Nathan menoleh saat merasakan sepasang tangan yang memeluknya dari belakang. Pemuda itu tersenyum tipis dan menggenggam jari-jari lentik Vivian yang melingkari perutnya.


"Ada apa? Kenapa kau manja sekali, hm?"


"Aku tidak mau pergi kuliah, rasanya sangat tidak nyaman tidak ada kau di-sana. Hari ini aku akan bolos saja dan ikut ke kantor ya,"


"Kau mau ikut ke kantor?" Nathan memicingkan matanya.


Vivian mengangguk. "Boleh kan?" Ia menatap Nathan penuh harap, pemuda itu mengangguk seraya tersenyum tipis. Dan bagaimana Nathan bisa melarang Vivian untuk ikut. Lagi pula ia bisa semakin semangat bekerja jika istrinya itu ikut ke kantornya.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2