
Sinar sang surya masuk melalui celah-celah gorden berwarna krem itu. Memasuki sebuah kamar seorang gadis yang tengah terlelap. Sang gadis terbangun, mata Hazel-nya yang masih terkantuk itu mengerjap-ngerjap karena silau sang surya mengenai matanya.
Akhirnya mata itu terbuka seutuhnya setelah beberapa saat. Sinar mata itu begitu memukau, aura yang dipancarkan dari mata Hazel itu dapat menyihir semua orang yang melihatnya. Indah sekali.
Bangkit dari tidurnya, kemudian Vivian berjalan menuju pintu kaca yang ditutupi gorden berwarna putih gading. Tangan putih mulusnya itu menyingkapkan gorden kamarnya satu persatu, hingga akhirnya sinar matahari hangat memasuki setiap inci ruangan bernuansa putih biru tersebut.
Dengan perlahan, Vivian mendorong pintu kaca, terbukalah sedikit celah yang membuat udara segar pagi hari langsung berhambur memasuki kamarnya, melalui celah pintu yang ia buka.
Kaki jenjangnya melangkah bergantian menuju balkon. Sekarang ia sedang berdiri di balkon kamarnya yang terletak di lantai dua, tangannya bertumpu pada pagar besi pembatas berwarna keemasan.
Angin segar menerpa wajah nan jelitanya, rambut coklat terangnya yang membingkai wajah cantik itu bergoyang-goyang diterpa angin pagi yang alami. Mata Hazel-nya tertutup sejenak lalu membuka lagi, merasakan segarnya udara pagi dan hangatnya sang mentari.
"Kau sudah bangun?" Sebuah pertanyaan keluar dari sela-sela bibirnya ketika sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang.
"Aku terbangun karena istriku tiba-tiba menghilang," jawabnya seraya menyibak helaian panjang lalu lalu mengecup tengkuk Vivian.
"Uhh, Nathan, hentikan!! Geli," rancau Vivian setengah mend*sah.
Alih-alih berhenti, Nathan malah semakin gencar mengecupi leher jenjang Vivian hingga terlihat beberapa bercak merah tanda kepemilikan di sana.
Kedua tangan Nathan yang semula memeluk perut rata Vivian kini berpindah untuk meremas bukit kembarnya. Des*han lagi-lagi terdengar dari sela-sela bibir wanita itu, gerakan agresif tangan Nathan di bukit kembarnya membuat bagian bawah Vivian terasa basah dan lembab.
Puas dengan bukit kembarnya. Sebelah tangan Nathan bergerak menuju wajah Vivian dan sedikit mengangkat dagunya hingga mencapai bibir tipis kemerahan wanita itu.
"Eeeunggghh..."
******* yang keluar dari sela-sela bibir Vivian, Nathan manfaatkan untuk mendapatkan akses lebih. Lidahnya menelusup masuk ke dalam mulutnya dan mulai menyapu dinding-dinding mulutnya, mengabsen satu persatu deretan gigi putihnya dan membawa lidah Vivian menari bersama.
Namun ciuman itu tak lebih dari satu menit. Ingatan segera mengakhirinya ketika dirasa Vivian mulai kehabisan nafasnya. "Hah, hah, hah, apa kau ingin membunuhku dan anak ini?" Gerutu Vivian sesaat setelah Nathan melepaskan tautan bibirnya.
"Maaf, Sayang. Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri jika itu berhubungan denganmu." Balas Nathan.
__ADS_1
Vivian menghela napas. "Mandilah dulu, aku akan turun untuk menyiapkan sarapan." Nathan mengangguk, kemudian Vivian beranjak dan melenggang pergi. Ini adalah akhir pekan, ia dan Nathan bisa lebih bersantai karena mereka berdua sama-sama tak memiliki rencana apapun untuk hari ini.
.
.
Menyiapkan sarapan untuk Nathan dan dirinya sendiri sudah menjadi rutinitas Vivian setiap harinya. Dia terlihat tidak begitu bersemangat melakukan aktivitas rutin di pagi hari. Mungkin karena kondisinya saat ini yang sedang hamil muda.
Wanita itu menghela napas. Vivian meletakkan kembali pisau dan bahan-bahan yang hendak dia masak pagi ini sebagai sarapan ke tempat semula, kemudian dia mengambil ponselnya dan memesan makanan dari luar.
Vivian terlalu malas untuk memasak, lagipula Nathan juga tidak pernah mempermasalahkannya mau itu masakannya atau makanan yang ia beli dari luar. Selama itu bisa mengenyangkan dan tidak beracun, bagi Nathan itu bukanlah masalah.
"Ayo Saparan, maaf aku tidak jadi memasak dan memesan dari luar. Aku benar-benar malas untuk melakukan apapun pagi ini," Vivian menatap Nathan penuh sesal.
Nathan menggeleng. "Tidak apa-apa, Sayang. Tidak perlu dipermasalahkan juga, mau makanan dari luar atau masakanmu sendiri, bagiku sama saja, karena sama-sama mengenyangkan." Ujar Nathan menimpali.
Vivian tersenyum lebar mendengar jawaban Nathan. Dan selanjutnya keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua dimeja makan, baik Nathan maupun Vivian sama-sama tak ada yang bersuara. Mereka berdua menyantap sarapannya dengan tenang.
-
-
"Gio, ada apa? Kau baik-baik saja bukan?" Tanya gadis itu memastikan.
Gio mengangguk. "Ya, aku baik-baik saja. Hanya saja disini sedikit agak gerah," jawabnya.
Sebenarnya Gio ingin menyatakan cintanya pada Sania, tapi dia merasa takut dan malu. Dia takut jika Sania sampai menolaknya dan malu untuk mengakui perasaannya. "Kau ingin memesan apa?" Tanya Sania sambil membolak-balik buku menu. Saat ini mereka berdua sedang berada di sebuah cafe yang tak jauh dari tempat tinggal Sania.
"Aku sedang tidak lapar. Mungkin late saja. Dan kalau kau lapar, pesanlah makanan apapun yang ingin kau makan, biar aku yang mentraktirmu kali ini."
Sania mengangguk. "Baiklah jika kau memaksa. Aku tidak akan menolaknya, kata orang tua, tidak baik menolak rezeki." Ucap Sania dan mulai memesan makanan yang dia inginkan.
__ADS_1
Meskipun Gio sendiri yang mengatakan akan mentraktirnya. Tapi Sania nasib tau diri orangnya, dia hanya pesan makanan yang dibutuhkan tanpa harus menguras isi dompet pemuda itu.
-
-
Jesslyn buru-buru pergi ke rumah Nathan dan Vivian setelah mendapatkan kabar jika menantu kesayangannya itu kembali dinyatakan hamil oleh dokter setelah mengalami keguguran beberapa bulan yang lalu.
Kali ini Jesslyn hanya pergi sendiri karen Luis sedang bekerja dan Lovely yang masih disekolah. Jesslyn membawa banyak sekali vitamin dan berbagai macam barang yang dibutuhkan oleh ibu hamil.
"Mi, kenapa kau harus membuang uang sebanyak itu hanya untuk barang-barang ini?!"
"Nathan, diamlah. Kau itu laki-laki jadi mana tau urusan perempuan, lagipula Mami membawa barang-barang ini untuk Vivian, bukan untukmu!!" Ucapnya dan melewati Nathan begitu saja. "Vivian, Sayang. Mama datang!!"
Nathan menghela napas. Dia berjalan mengekor di belakang ibunya yang sedang menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Saat ini Vivian sedang berada di kamar mandi makanya tidak ada sahutan darinya ketika Jesslyn memanggil.
"Eh, kenapa kamarnya kosong, kemana perginya menantu kesayangan Mami?"
"Dia ada di kamar mandi. Mami bisa menunggunya keluar."
Jesslyn menggeleng. "Tidak bisa, Mami masih ada urusan penting. Nitip saja, nanti berikan semua yang Mami bawa ini pada Vivian. Dan semua ini sangat bagus untuk calon ibu yang sedang mengandung calon buah hatinya."
"Baiklah, nanti akan aku sampaikan."
"Ya sudah, Mami pergi dulu. Salam untuk Vivian, dan satu hal lagi, Mami hampir lupa mengatakan ini. Persiapkan dirimu dengan matang, karena Daddy-mu sudah memutuskan untuk menyerahkan kursi CEO padamu dalam waktu dekat ini. Mami pergi dulu."
Nathan ingin sekali menolaknya tapi tidak bisa. Karena bagaimana pun juga, dia adalah satu-satunya harapan keluarga Qin saat ini.
-
-
__ADS_1
Bersambung.