
Malam sudah semakin larut, namun hal itu tak menyurutkan semangat Nathan untuk menemukan kedai buah-buahan yang masih buka di tengah malam begini.
Jika bukan karena Vivian merengek dan meminta dibelikan mangga muda, ia pun tidak akan sudi kelayapan tengah malam di tengah cuaca dingin seperti ini. Rasanya sekujur tubuhnya hampir membeku, padahal dia memakai pakaian hangat dan tebal.
Sudah hampir 30 menit Nathan berkendara, tapi tak ada satu kedai buah pun yang masih buka, dan hal itu membuatnya sedikit frustasi. Bagaimana jika ia sampai tidak mendapatkan mangga muda yang Vivian inginkan, bisa-bisa istrinya itu ngambek dan mogok makan.
Kemudian Nathan menghentikan mobilnya lalu menghubungi Arya, sepertinya Ia membutuhkan bantuan dari teman-temannya, karena jika pulang tanpa membawa buah yang Vivian minta, sudah dapat dipastikan dia akan ngambek, dan mengancam akan mogok makan lagi. Nathan tidak ingin jika Vivian sampai jatuh sakit lagi karena tidak makan.
"Halo, ada apa menghubungiku tengah malam begini?" suara Arya terdengar serak di seberang sana.
"Vivian minta dibelikan mangga muda, bantu aku menemukannya."
"Hah!! Tapi ini sudah malam, mana ada kedai buah yang masih buka?! Kenapa orang hamil mintanya suka yang aneh-aneh sih?!"
Nathan mendesah berat. "Aku tahu jika ini sudah larut malam. Bisakah kau pergi ke kota Busan, mungkin di sana masih ada. Vivian bisa ngambek dan mogok makan lagi jika apa yang dia minta tidak bisa aku dapatkan!!" jelas Nathan.
"Tunggu dulu, sebaiknya hubungi Sania. Aku ingat, kemarin dia membeli mangga banyak sekali, siapa tau masih ada,"
"Hn, aku coba dulu,"
Nathan memutuskan sambungan teleponnya dengan Arya, lalu beralih menghubungi Sania. Dan sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak pada Nathan, karena Sania masih memiliki beberapa buah mangga lagi yang masih tersisa.
-
-
Vivian segera meninggalkan kamarnya saat mendengar deru suara mobil memasuki halaman. Suaminya sudah pulang dan Vivian sudah tidak sabar untuk segera memakan mangga yang sangat dia idamkan itu.
"Nathan, kau mendapatkannya?" seru Vivian kegirangan.
Perempuan yang sedang berbadan dua itu tersenyum lebar melihat Nathan pulang sambil membawakan beberapa buah mangga untuknya. "Tunggulah sebentar, akan ku kupaskan untukmu," ucapnya yang kemudian dibalas anggukan oleh Vivian.
"Ngomong-ngomong di mana kau mendapatkannya, bukankah ini sudah larut malam, apa mungkin masih ada kedai yang masih buka?" tanya Vivian memastikan.
__ADS_1
Nathan menggeleng. "Aku mendapatkannya dari, Sania. Semua kedai sudah tutup, dan tidak ada satupun yang masih buka. Untungnya Arya memberitahuku jika Sania kemarin membeli banyak mangga," jelasnya.
"Ah, jadi begitu. Gomawo, kau memang yang terbaik." Vivian tersenyum lebar.
Meskipun mangga yang Nathan dapatkan bukanlah mangga muda seperti yang Vivian inginkan, tetapi Vivian tetap memakannya, dia menghargai usaha dan kerja keras suaminya. Vivian juga tidak melayangkan protesnya apalagi menolak mangga itu.
-
-
Puluhan buket bunga berjajar di teras depan kediaman Nathan. Tak hanya bunga, tetapi coklat juga. Membuat Nathan maupun Vivian bertanya-tanya, dari siapa dan dari mana bunga dan coklat-coklat itu berasal.
Vivian mengambil salah satu buket bunga tersebut dan menemukan selembar kertas. Di dalam kertas itu bertuliskan ungkapan perasaan seseorang untuknya, orang itu mengatakan Jika dia sangat mencintai Vivian dan rela dijadikan yang kedua.
"Apa orang itu sudah tidak waras?! Bagaimana bisa dia menyatakan cintanya pada istri orang lain?!" Nathan mengambil bunga-bunga itu lalu membuangnya.
Memangnya suami Mana yang tidak kesal dan marah, jika istrinya diganggu dan digoda oleh pria lain. Antara kesal, marah dan cemburu.
Vivian terkejut saat sebuah pesan masuk ke ponselnya. Sebuah pesan singkat dari nomor asing. "Orang itu mengirimiku pesan," kemudian Vivian menunjukkan pesan itu Pada Nathan. Di dalam pesan itu, orang itu bertanya apakah Vivian sudah menerima paket bunga dan coklat darinya.
"Dasar orang gila!! Apa dia benar-benar sudah bosan hidup!!" Nathan mengeram kesal.
Vivian meringis ngilu melihat kemarahan Nathan. Suaminya Itu tampak sedikit mengerikan. "Aku akan meminta orang untuk menyingkirkan bunga dan coklat-coklat ini. Sudahlah Ayo kita masuk, anggap saja orang kurang kerjaan." Vivian mengajak Nathan masuk ke dalam.
Wanita itu terus bertanya-tanya, memangnya siapa yang begitu berani mengibarkan bendera perang dengan Nathan. Karena setelah dia mengumumkan hubungannya dengan pemuda itu, tidak banyak lagi orang yang berani mendekatinya. Tapi orang ini begitu nekat, sepertinya dia benar-benar sudah bosan hidup.
-
-
"Paman Kenapa kau begitu nekat, bagaimana jika Nathan sampai tau jika itu adalah kerajaanmu?! Bisa-bisa bocah itu menggantungmu hidup-hidup!!"
Rio menatap Tao dengan cemas. Bagaimana jika Nathan sampai tau jika itu adalah kerjaan Tao, dialah yang mengirim bunga dan coklat-coklat itu pada Vivian. Rio sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Tao nantinya mengingat betapa mengerikannya seorang Nathan Qin jika sudah marah.
__ADS_1
"Aiyahh.. kenapa kau begitu takut dan khawatir. Tenang saja, tidak akan ketahuan kok. Kau tenang saja, lucu kali ya saat melihat manusia kutub seperti Nathan kesal dan cemburu karena istrinya digoda oleh orang lain." Ujar Tao.
Hanya Nathan satu-satunya orang yang belum pernah kena jebakan Betmen-nya. Dan sekali-kali mengerjai Nathan sepertinya tidak ada salahnya, begitulah yang Tao pikirkan.
"Oh, jadi itu kerjaan kalian berdua?!" Sahut seseorang dari belakang. Sontak keduanya menoleh, mata Tao dan Rio membelalak sempurna melihat siapa yang berdiri dibelakang mereka.
"NATHAN?!"
.
.
"Huhuhu. Tuan muda ampun, aku tau aku salah. Aku sungguh-sungguh minta maaf, tapi jangan menghukumku seperti ini!!"
Tao menangis, merengek dan memohon supaya Nathan melepaskannya. Tapi hal itu tidak digubris sama sekali oleh Nathan. Saat ini Tao sedang dijemur oleh Nathan di bawah terik sinar matahari hanya dengan memakai celana pendek saja.
Yang lebih memalukan lagi, Nathan melakukannya di depan banyak orang, meskipun orang-orang itu adalah para pekerja yang bekerja untuk ayahnya, tapi tetap saja itu sangat memalukan.
"Hahaha, Paman Tao sangat lucu. Tadi saja tertawa begitu lantang, sekarang malah menangis seperti bocah." ujar Lovely mencibir.
"Huhuhu, nona muda Kenapa kau begitu sama Paman. Kenapa kau sama kejamnya dengan kakak dan ibumu, kalian selalu menjadikanku sebagai bahan penindasan. Huhuhu, kenapa hidup begitu tidak adil?!"
"Paman, diamlah!! Sebaiknya cari cara agar Nathan memaafkan dan melepaskan kita. Aku tidak tahu apa-apa tapi malah ikut kena batunya," omel Rio yang nasibnya sama buruknya dengan Tao.
Padahal Rio tidak tau apa-apa dan dia tidak ikut andil. Tapi Nathan malah menghukumnya juga, nasibnya benar-benar sangat sial.
Meskipun melihatnya, tetapi Jesslyn dan Luis tidak berusaha menghentikan putranya. Karena orang seperti Tao sekali-kali perlu diberi pelajaran. Sedangkan Vivian sangat menikmatinya.
-
-
Bersambung.
__ADS_1