
Suara tangis bayi memecah dalam heningnya malam. Seorang pemuda buru-buru bangun dan menghampiri box bayinya untuk melihat apa yang membuat bayinya menangis. Dan ternyata bayi mungil itu menangis karena buang air, dan setelah popoknya diganti, bayi itu kembali tertidur pulas. Dan sang ayah kemudian meninggalkannya.
Gerakan pada tempat tidur membuat si wanita terbangun. Lalu pandangannya bergulir pada box bayinya. "Apa Baby Qin bangun?" Pemuda itu 'Nathan' mengangguk. "Kenapa tidak membangunkanku?" Vivian menatap Nathan dengan bingung.
"Kau terlihat lelah jadi aku tidak tega untuk membangunkanmu," jawabnya. "Ini masih larut malam, sudah ayo tidur lagi." Vivian menatap sang suami dan kemudian mengangguk.
Vivian kembali berbaring begitu pula dengan Nathan. Pemuda itu memeluk tubuh sang istri dengan lembut dan penuh kehangatan. Dan tak sampai lima menit, keduanya sudah kembali menyelami alam mimpi. Si kecil pun sudah pulas setelah popoknya diganti.
-
Suara cicit burung gereja yang saling bersahut-sahutan menyambut datangnya pagi. Disebuah rumah yang tak bisa dikatakan biasa-biasa saja terlihat seorang ibu muda yang sedang sibuk mengurus bayinya. Bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu baru selesai dimandikan dan sedang berganti baju.
"Sayang, sarapan sudah siap. Setelah ini kau sarapan dulu, Baby Qin biar aku yang menggendongnya."
"Kau sendiri sudah sarapan belum?" Tanya perempuan itu pada sang suami.
Nathan mengangguk. "Aku sudah sarapan, maaf tidak menunggumu." Sesalnya.
Vivian menggeleng. "Tidak apa-apa, kau tidak perlu meminta maaf, karena ini sudah tugasku sebagai seorang ibu," Vivian tersenyum manis.
Sejak kelahiran Steven, mereka berdua harus bisa membagi waktu. Bahkan untuk sarapan pun mereka harus bergantian. Tidak ada nada keluhan keluar dari bibir masing-masing, Nathan dan Vivian begitu menikmati perannya sebagai orang tua.
Sekarang Baby Qin bersama sang ayah, sedangkan Vivian sedang menyantap sarapannya. Mereka memang sering berbagi tugas dalam menjaga si kecil, bahkan Nathan rela cuti kuliah supaya bisa merawat bayinya.
Setelah selesai sarapan dan mencuci semua piring dan wadah yang kotor. Vivian menghampiri Nathan dan mengambil alih baby Qin dari gendongannya. Sudah waktunya memberinya susu. Meskipun ini pertama kalinya menjadi ibu, tetapi Vivian begitu cekatan dalam mengurus bayinya.
-
Luis mondar mandi di depan ruang bersalin. Lelaki itu sesekali menatap ke arah pintu. Hari ini Jesslyn akan melahirkan anak ketiga mereka dan sekarang dia sedang berjuang sendirian di dalam sana.
Satu persatu kerabat terdekat berdatangan. Rossa dan Kris, Vivian dan Nathan, Silvia dan Rio. Nathan menghampiri ayahnya.
"Bagaimana keadaan mami? Apa bayinya belum lahir?"
Luis menggeleng. "Belum, mungkin sebentar lagi. Kalian berempat kenapa datang, lalu bayi kalian bagaimana?" Luis menatap Nathan dan Rio bergantian.
"Ada Paman Tao dan Kak Marcell yang menjaga mereka. Aku dan Vivian langsung kemari setelah Daddy menelfon tadi." Jelas Nathan.
Beberapa menit berikut. Suara tangis bayi terdengar dari dalam sana. Bayi Jesslyn sudah lahir dengan selamat, begitu pula dengan sang ibu. Anak ketiga Luis perempuan. Dan mereka baru diijinkan menemui Jesslyn setelah dia dipindahkan ke ruang rawat.
__ADS_1
.
.
"Ma, apa kau sudah punya nama untuk bayi ini?" Vivian menatap ibu mertuanya. Jesslyn menggeleng. "Bagaimana kalau diberi nama Jessica saja?" Usul Vivian.
"Kedengarannya tidak buruk. Nama itu juga sangat cantik," sahut Luis menimpali. Luis setuju dengan nama yang diberikan oleh menantunya.
Luis terlihat begitu bahagia. Kehadiran putri ketiganya adalah sebuah anugerah terindah yang Tuhan berikan padanya dan Jesslyn. Jessica, adalah nama putri kecilnya.
Lovely yang memang menginginkan seorang adik tentu saja sangat bahagia, berkali-kali dia mencium adiknya yang masih merah itu.
"Mi, lihatlah. Bukankah adek mirip sekali denganku saat masih kecil dulu," Lovely mengangkat wajahnya dan menatap sang ibu.
Jesslyn mengangguk. "Kau benar, Sayang. Saat masih bayi dulu, kau juga sama merahnya dengan adikmu." Jesslyn mengusap pipi putrinya dengan lembut dan hangat.
"Sebaiknya kita keluar dan biarkan Mama istirahat," ucap Vivian yang kemudian dibalas anggukan oleh Nathan dan yang lain. Semua meninggalkan ruangan kecuali Luis dan Lovely yang memang masih ingin di dalam bersama Jesslyn dan bayinya.
Takut Baby Steven menangis. Vivian dan Nathan memutuskan untuk pulang lebih dulu. Begitupula dengan Rio dan Silvia, bayi juga pasti akan rewel jika ditinggal terlalu lama. Lagipula Tao dan Marcell bukanlah orang yang bisa dipercayai untuk menjaga bayi.
-
Vivian memekik sekencang-kencangnya saat melihat bayinya yang seperti dakocan, bedak diwajahnya sangat tebal dan bibirnya dipolesi lipstik berwarna merah. Vivian segera mengambil putranya lalu menghapus bedak dan lipstick dibibirnya.
"Dia ini laki-laki, kenapa kau malah memakaikan lipstick segala?" Keluh Vivian sambil menatap Tao tajam.
"Habisnya dia sangat menggemaskan dan lihat saja bagaimana cantiknya Baby Steven saat dirias," ujar Tao.
Vivian mendengus berat. Mempercayakan putranya pada Tao memang bukan pilihan yang tepat. Tapi dia tadi juga tidak memiliki pilihan, ibu mertuanya mau melahirkan dan tidak mungkin juga ia membawa bayinya kerumah sakit. Itulah kenapa dia menitipkan bayi-nya pada Tao.
"Sudah sana keluar," Vivian mengusir Tao keluar dari kamarnya. Tao mempoutkan bibirnya, dia pun melenggang pergi. Padahal itu tadi lucu sekali, tapi Vivian malah tidak terima dan memarahinya.
Selang beberapa saat setelah Tao pergi. Nathan datang dan menghampiri istri serta buah hatinya. Dia bertanya dan Vivian pun menjelaskannya. Nathan menghela napas, dia sudah berpikir jika hal semacam ini pasti terjadi.
"Nathan, lihat anak kita. Huhuhu, Paman Tao benar-benar kelewatan,"
"Tidak perlu mengeluh, yang penting dibersihkan saja. Sebaiknya cepat beri asi, mungkin saja dia lapar." Vivian mengangguk. Dia tadi memang mau menyusui bayinya.
Nathan meninggalkan Vivian dan Baby Steven di kamar. Ada beberapa hal yang harus dia urus, ayahnya saat ini sedang sibuk dengan ibunya yang baru melahirkan. Otomatis kerjaan kantor akan dilimpahkan padanya. Dan untungnya Nathan sudah terbiasa, apalagi dia mempelajari bisnis sejak masih anak-anak. Jadinya ia tidak kesulitan.
__ADS_1
-
Kris memicingkan matanya melihat Rossa yang berkali-kali mengusap perutnya dan menghela napas. Kemudian ia menghampiri sang istri. "Ada apa? Kenapa dari tadi aku perhatikan kau terus mengusap perutmu?"
"Melihat Vivian dan Silvia memiliki bayi, aku jadi ingin memilikinya juga. Bagaimana kalau kita lebih serius supaya cepat mendapatkan anak juga?"
Kris kemudian mengambil tempat disamping sang istri dan menatapnya serius. "Apa kau serius dan benar-benar sudah siap?" Kris memastikan. Rossa mengangguk meyakinkan. "Kalau begitu kita bicarakan hal ini dengan dokter k*ndungan dulu," ucap Kris.
"Baiklah,"
"Sudah malam. Sebaiknya kau cepat tidur." Rossa mengangguk.
Sebenarnya Kris juga ingin segera memiliki keturunan. Tapi ada masalah diperut Rossa, dan Kris takut jika kehamilan hanya akan membahayakan nyawanya. Tetapi Rossa memaksa dan lebih baik membicarakannya lebih dulu dengan dokter kandungan.
-
Waktu berlalu dengan cepat. Kini baby Qin sudah berusia 1 tahun. Dan hari ini Nathan serta Vivian merayakan ulang tahun buah hatinya. Pesta di adakan dengan meriah, baby Steven terlihat begitu tampan. Dia berada di gendongan ayahnya.
Nathan menarik Vivian menggunakan tangan satunya lalu memeluk sang wanita dan mencium keningnya "Gomawo sayang, karena sudah menyempurnakan hidupku." Bisik Nathan sambil mengulum senyum lembut.
"Tidak seharusnya berterimakasih. Bukankah sudah selayaknya, dan apa yang aku berikan padamu adalah bukti cinta kita." tutur Vivian.
"Kalian berdua nanti lagi saja mengumbar kemesraannya. Sebaiknya sekarang kemarilah. Kita berfoto dulu." seru Marcell dari ruang tamu.
Nathan dan Vivian beriringan menghampiri keluarga dan rekan-rekannya dengan si kecil berada di dalam gendongan Nathan. Mereka segera bergabung dengan yang lain yang memang sudah menunggunya. Nathan dan Vivian berdiri bersebelahan.
Tidak ada kesedihan terpancar dari raut wajah mereka, selain kebahagiaan. Setelah semua yang terjadi dan bagaimana kisah cinta Vivian dan Nathan yang di warna berbagai rintangan akhirnya berada di titik terbaik.
Kepedihan, rasa sakit, air mata dan duka di masa lalu terbayar lunas dengan kebahagiaan yang mereka dapatkan saat ini. Dan mereka sama-sama percaya, bila kekuatan cinta mampu mengalahkan segalanya.
Nathan dan Vivian saling menatap, senyum bahagia sama-sama menghiasi wajah mereka. Nathan menarik tengkuk Vivian dan mencium bibirnya.
Melalui ciuman itu Nathan ingin menyampaikan betapa berharganya Vivian dalam hidupnya. Tidak ada yang Nathan inginkan selain Vivian dan buah hati mereka, karena sesungguhnya mereka berdua lah harta paling berharga yang ada dalam hidup seorang Nathan Qin.
-
-
Bersambung.
__ADS_1