
Nathan menatap Sean dengan serius, lalu dia menatap Arya dan Dio bergantian dengan tatapan yang sama. "Aiden, ternyata selama ini dia masih hidup."
Mata ketiganya sontak membelalak sempurna, terkejut lebih tepatnya. "APA?! JADI AIDEN MASIH HIDUP DAN SELAMA INI TIDAK MATI?!" Arya, Sean dan Dio memekik sekencang-kencangnya setelah tau jika ternyata Aiden masih hidup.
Nathan mengangguk membenarkan. "Ya. Selama ini kita semua sudah dibohongi dan dipermainkan olehnya. Dan bodohnya, kita semua malah percaya."
"Lalu apa rencanamu kali ini? Kita tidak bisa diam saja, kita harus segera bertindak. Orang seperti itu tidak akan pernah puas, sudah dikasih hati malah minta jantung!!"
Nathan menatap Arya dengan serius. "Aku tau apa yang harus kulakukan. Sudah lewat tengah malam, sebaiknya kalian segera pulang." Nathan menghidupkan kembali mesin mobilnya, kemudian mobil sport itu melesat jauh meninggalkan Arya, Sean dan Dio.
.
.
Nathan tiba di rumah dan mendapati semua lampu telah dimatikan, termasuk lampu kamarnya. Dia memanggil Vivian tapi tidak ada jawaban, lampu dihidupkan dan wanita itu sedang duduk bersila diatas tempat tidur sambil menekuk wajahnya.
Pemuda itu mendengus geli. Nathan menghampiri Vivian yang sepertinya sedang ngambek padanya. "Kenapa cemberut? Apa kau kesal padaku, hm?" Tanya Nathan setibanya dia di depan Vivian.
Wanita itu bersidekap dada dan membuang muka ke arah lain. "Menurutmu?! Dan untuk apa juga kau pulang, kenapa tidak tidur saja sekalian dijalanan?!!" Ucap Vivian dengan ketus.
Bukannya tersinggung ataupun marah mendengar ucapan istrinya, Nathan justru tertawa geli melihat tingkahnya. Dimatanya Vivian begitu menggemaskan, saat merajuk begini, dia terlihat seperti bocah TK yang ngambek karena tidak dibelikan ice cream oleh ibunya.
"Lalu aku harus bagaimana supaya kau tidak kesal dan ngambek lagi padaku?" Nathan mencoba membujuk istrinya.
"Tidak perlu membujukku!! Aku sedang kesal dan marah padamu, jadi sebaiknya kau diam saja dan jangan menggangguku!!" Kemudian Vivian membuang muka kearah lain.
Masalah besar. Jika sudah begini pasti sulit untuk membujuk Vivian, dan Nathan harus pintar-pinta memutar otaknya supaya bisa segera mengembalikan mood istrinya.
"Ayolah, Vi. Jangan seperti anak kecil. Ingat umur, kau bukan bocah lagi. Dan apa menurutmu pantas ngambek begini? Atau begini saja, bagaimana kalau akhir pekan ini kita pergi jalan-jalan ke luar kota. Bukankah kau ingin pergi ke Busan dan pulau Jeju?"
Mendengar kata Busan dan Pulau Jeju seketika membuat mata Vivian berbinar. Wanita itu lantas mengangguk dengan antusias. Wajahnya sumringah dan tidak cemberut lagi seperti tadi.
"Mau, mau, mau. Sudah lama sekali aku ingin pergi ke sana. Nathan, kau memang yang terbaik." Seru Vivian dan berhambur memeluk suaminya.
__ADS_1
Nathan tersenyum lebar. Dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan istrinya. Membujuk Vivian yang sedang ngambek memang sulit, tapi asal pintar-pintar mengambil hatinya itu akan membuatnya mudah luluh.
"Aku lelah dan ingin cepat tidur, besok aku mau ikut pergi ke kantor."
Nathan memicingkan matanya. "Kau mau ikut ke kantor?" Vivian mengangguk. "Untuk apa?"
"Untuk mengawasimu supaya kau tidak bisa macam-macam. Seperti di drama dan film, wanita di-kantor itu gen!t dan suka tebar pesona pada bosnya!!"
Nathan mendengus geli. Sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala coklat Vivian, kenapa istrinya ini berpikiran sempit.
"Dasar kau ini, aku bukan lelaki gamp*ngan yang mudah tergoda oleh perempuan cantik dan s*ksi. Tapi kalau kau mau ikut juga tidak masalah, kalau begitu cepat tidur. Good night, Sayang." Nathan mengecup kening Vivian dengan penuh kelembutan.
"Kau juga cepat tidur, dan sebaiknya jangan terlalu memikirkan si br*ngsek itu." Ucap Vivian seolah mengerti apa yang Nathan pikirkan.
Nathan mengangguk. "Baik, Sayang." Kemudian ia melepas Vest denim-nya lalu berbaring di samping Vivian dan memeluk perempuan itu dengan erat. Selama Vivian ada disisinya, tidak ada yang perlu Nathan khawatirkan.
Vivian adalah sumber kekuatannya juga kelemahannya. Dan tanpa Vivian disisinya, Nathan tidak tau apa jadinya dirinya. Karena Vivian begitu berharga.
-
-
Sejak Nathan menjabat sebagai CEO menggantikan sang ayah, suasana di kantor berubah drastis.
Para karyawan wanita berbondong-bondong mempercantik diri masing-masing hanya untuk menarik perhatian sang pemimpin meskipun mereka tau itu tidak mempan sama sekali. Bahkan kepopuleran Nathan mengalahkan sang ayah.
"Siska, bukankah sudah diperingatkan tidak boleh memakai pakaian yang kurang bahan. Dan jika kau masih ingin bekerja disini, perbaiki penampilanmu mulai besok!!"
"Minji, ini kantor bukan tempat s!rkus, perbaiki make up-mu dan hapus lipstick-mu lalu ganti dengan warna lain. Seperti habis makan ayam m*ntah saja!!"
"Mirai, apa kau tidak memiliki kemeja lain. Mulai besok ganti dengan yang lebih sopan. Pak bos tidak suka!!"
"Huuuu... Dasar panda tua, bisanya cuma mengatur. Urus saja pekerjaanmu sendiri!!" Seru ketiga karyawan tersebut.
__ADS_1
"Eeehhh, dibilangin malah nyolot. Terserah, kalau Presdir marah aku gak ikut-ikutan!!"
Semua karyawan buru-buru berdiri saat melihat kedatangan pemuda tampan namun minim ekspresi. Dia tidak sendirian, seorang perempuan cantik bak boneka Barb!e berjalan disampingnya.
Membuat para perempuan itu bertanya-tanya siapa yang datang dengan sang-presdir l, apakah dia asisten baru bos atau sekretaris, tapi penampilannya tidak mencerminkan jika dia seorang karyawan.
"Pagi, Paman Tao. Ini kopi untukmu." Perempuan itu yang pastinya adalah Vivian memberikan satu cup kopi yang dia beli di cafe tadi pada Tao.
"Thanks, Nona Bos. Kau memang yang terbaik!!" Ucap Tao memberikan pujiannya.
Para karyawati saling bertukar pandang. Mata mereka sedikit membelalak mendengar bagaimana Tao memanggil perempuan itu tadi. "APA!! NYONYA BOS?!" Pekik mereka dengan nada terkejut.
Tao menyeringai. "Kenapa kaget? Itu Nona Vivian, istri dari Presdir. Jadi sebaiknya kalian jangan terlalu banyak berharap, apalagi Presdir itu sangat-sangat mencintai istrinya, jadi tidak ada lagi tempat bagi kalian semua!! Wleekkk..." Tao menjulurkan lidahnya dan pergi begitu saja. Dia puas melihat wajah terkejut mereka semua.
-
-
"Sania, kita perlu bicara sebentar."
Sania menyentak tangan Reno dari lengannya dan menatapnya tidak suka. "Sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Hubungan kita sudah berakhir, jadi jangan pernah berharap aku mau bicara lagi denganmu!!"
"Tapi, Sania. Aku~"
"Gio, tunggu!!" Sania menyela ucapan Reno sebelum dia menyelesaikan ucapannya.
Reno lantas menoleh kearah Sania pergi. Tangannya terkepal kuat, lagi-lagi pemuda itu. Memangnya apa istimewanya dia dibandingkan dirinya. Sampai-sampai Sania begitu dekat dengannya.
Pemuda itu mengepalkan tangannya. Reno tidak akan tinggal diam, dia tidak akan membiarkan Sania dan Gio bersatu. Jika ia tidak bisa, maka Gio juga tidak boleh. Dan Reno akan memberikan pelajaran berharga pada pemuda itu.
-
-
__ADS_1
Bersambung.