Istriku, Ga!Rah Cintaku

Istriku, Ga!Rah Cintaku
Baik-baik Saja


__ADS_3

Nathan dan Vivian meninggalkan rumah sakit. Tidak ada masalah serius pada mata palsu yang ditanam pada mata kanannya, hanya saja selama beberapa hari dokter menyarankan agar tidak sampai terkena paparan cahaya secara langsung, debu dan air. Itulah kenapa saat keluar dari ruang dokter mata kanan Nathan harus diperban.


Tidak ada masalah dengan satu penglihatan yang berfungsi. Nathan sudah terbiasa dan dia tidak merasa kesulitan sama sekali.


"Biar aku saja yang mengemudi, sebaiknya kau istirahat saja." Ucap Vivian setibanya mereka diparkiran.


Wanita itu tidak mungkin membiarkan Nathan mengemudi, bukan karena takut sesuatu yang buruk akan menimpa mereka berdua. Tapi karena Vivian tau, jika saat ini Nathan pikiran Nathan sedikit kacau karena insiden di kampus tadi pagi.


"Kau yakin?" Vivian mengangguk.


"Kau hanya perlu duduk dengan tenang, jika lelah sebaiknya tidur saja, aku akan membangunkanmu setelah sampai nanti."


Vivian memahami betul apa yang Nathan rasakan saat ini. Emosinya selalu meledak setiap kali dia teringat pada tragedi malam berdarah yang membuat dia kehilangan salah satu teman terbaiknya. Aiden, meninggal demi dirinya, dan hal itu tidak bisa Nathan lupakan hingga detik ini.


Sesekali Vivian menatap pemuda yang duduk disampingnya. Meskipun matanya tertutup, tapi Vivian tau jika Nathan tidak benar-benar tidur, dia hanya sekedar menutup mata saja. Namun Vivian tidak mau mengganggunya apalagi sampai membangunkannya.


.


.


Setelah menempuh perjalanan kurang dari 30 menit. Mereka akhirnya tiba di rumah.


Tanpa mengatakan apapun pada Vivian, Nathan melenggang menuju kamar mereka yang berada dilantai dua. Sementara Vivian pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


"Kakak, kami datang!!"


Perhatian Vivian teralihkan oleh teriakan yang berasal dari teras depan. Itu adalah suara Lovely. Wanita itu meninggalkan dapur dan mendapati kedatangan adik ipar serta ibu mertuanya.


Senyum hangat Vivian menyambut kedatangan mereka berdua. "Kak, lihatlah apa yang kami bawakan untukmu dan kak Nathan." Lovely menunjukkan dua bingkisan besar yang dibawakan oleh Tao.


"Kenapa sepi, dimana Nathan?" Tanya Jesslyn yang tak melihat batang hidung putranya.


"Dia sedang istirahat di kamar, Ma. Kami baru saja pulang dari rumah sakit. Tiba-tiba Nathan mengeluh sakit pada mata kanannya," jelas Vivian.


"Lalu bagaimana kondisinya?"


"Dokter mengatakan jika dia baik-baik saja. Tapi untuk sementara tidak boleh terkena air, cahaya dan debu." Ujar Vivian.

__ADS_1


Jesslyn mengambil napas panjang dan menghelanya. "Ya sudah, biarkan saja dia istirahat. Kau tidak perlu menyiapkan makan malam. Mama membawakan banyak makanan untuk kalian berdua, kebetulan hari ini Mama memasak lumayan banyak."


Vivian memeluk ibu mertuanya itu sambil tersenyum lebar. "Terimakasih, Ma. Kau menang yang terbaik. Sebenarnya hari ini aku juga agak sedikit malas memasak. Mau pesan dari luar tapi Nathan lebih suka masakan rumah," Tutur Vivian.


"Kau ini, seperti orang lain saja. Jika sedang malas memasak, sebaiknya telfon Mama. Mama pasti akan menyiapkan makanan untuk kalian berdua."


"Aku tidak enak jika setiap hari harus merepotkan, Mama. Lagipula memasak bukan hal yang sulit di lakukan."


Jesslyn menjitak gemas kepala Vivian. "Kau ini, kenapa masih merasa tidak enak pada ibu sendiri? Mama harus pergi sekarang, salam untuk Nathan."


"Kenapa buru-buru sekali?"


"Daddy, bisa mogok makan jika pulang dan tidak mendapati Mami di rumah. Kakak tau sendiri bukan bagaimana manjanya Daddy saat ini, dia seperti anak kecil," Ujar Lovely setengah berbisik.


Vivian terkekeh. Memang benar apa yang Lovely katakan. Dan Vivian tidak mungkin mencegah lagi ibu mertuanya untuk pulang. Setelah mengantar Jesslyn dan Lovely sampai depan pintu. Vivian pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua, untuk memastikan apakah Nathan benar-benar tidur atau tidak.


Dan sesampainya di sana. Ternyata Nathan benar-benar tidur. Mungkin efek dari obat yang dia minum tadi. Vivian membiarkan suaminya itu beristirahat, dia kembali ke dapur untuk menyusun makan malam yang telah disiapkan oleh ibu mertuanya.


Sungguh beruntung Vivian memiliki ibu mertua sebaik Jesslyn.


-


-


Dari luar cafe, Gio melihat Sania yang duduk di meja dekat jendela. Gadis itu hanya sendiri dan terlihat agak sedih.


Gio memasuki cafe tersebut lalu menghampiri meja Sania.


"Maaf aku telat," ucap Gio penuh sesal.


Sania menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku juga belum lama sampai kok. Kau mau pesan apa? Sekalian aku pesankan,"


"Samakan saja dengan punyamu."


Sania mengangguk. "Baiklah,"


Sania memanggil seorang pelayan cafe dan mulai memesan. Dia memesan beberapa makanan yang sama tapi minuman berbeda. Sania sangat tau minuman apa yang Gio sukai.

__ADS_1


"Ada apa, San? Kenapa kau terlihat sedih, apa kau bertengkar dengan Reno?"


Sania mengangguk. "Reno, ternyata dia tidak berubah sama sekali. Dia tetap egois dan selalu ingin menang sendiri. Hari ini dia mengajakku pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Raffi, aku menolaknya tapi dia malah marah-marah dan berkata kasar."


"Tidak ada gunanya mempertahankan hubungan yang berjalan tak selaras, lagipula pria di dunia ini bukan cuma dia saja. Jadi akhiri saja dari pada kau semakin sakit hati oleh sikapnya."


Sania mengangguk. "Ya, memang itu yang aku pikirkan!!"


-


-


Vivian naik ke atas tubuh suaminya karena dari tadi Nathan susah sekali dibangunkan. Niatnya ingin membangunkan pemuda itu dengan cara baik-baik dan halus, tapi tetap tidak mau bangun. Jadi Vivian membangunkannya dengan cara yang agak sedikit bar-bar.


"Nathan, bangun, sampai berapa lama lagi kau mau tidur? Aku sudah sangat kelaparan!!"


"Ck, sebentar lagi. Menyingkirkan, Vi, kau itu berat!! Dan bisa tidak, kau biarkan aku tidur sebentar saja!!"


Vivian mencerutkan bibirnya. "Aisshh, kau ini. Sudah tidur lebih dari tiga jam, dan kau mau tidur berapa lama lagi?! Ya sudah, kalau begitu aku makan malam sendiri saja. Padahal Mama tadi datang dan membawakan banyak makanan enak untuk kita. Tapi sepertinya kau tidak mau, ya sudah aku makan sendiri saja!!" Ujar Vivian seraya bangkit dari atas tubuh suaminya.


Tapi Nathan tetap tidak ada respon dari Nathan. Wanita itu mempoutkan bibirnya. Kenapa suaminya itu begitu menyebalkan, tiba-tiba sebuah ide brilian tercetus di kepalanya.


"Hm, dari pada makan malam sendiri. Lebih baik aku telfon pria lain saja. Pasti mereka tidak akan menolak menemaniku makan malam!!" Seru Vivian dengan suara sedikit meninggi.


Sontak mata kiri Nathan terbuka sepenuhnya, dengan sinis dia menatap Vivian yang sedang mengurai senyum penuh kemenangan. Itu memang cara paling ampuh untuk mengatasi hal-hal semacam ini.


"Jangan macam-macam, atau ku gempur kau semalaman penuh!! Dan kupastikan kau tidak bisa berjalan sampai 3 hari 3 malam!!" Seru Nathan memberi ancaman. Bukannya merasa takut, Vivian malah tertawa geli.


"Makanya kalau dibangunkan jangan susah, cuci muka setelah ini kita makan malam sama-sama."


"Baiklah,"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2