
Vivian melewati Nathan begitu saja. Dia tidak menatap sedikit pun pada sang-suami apalagi menyapanya. Nathan juga bersikap acuh dan cuek, perhatiannya tak teralihkan sedikit pun dari laptop yang ada di pangkuannya.
Sudah lebih dari satu hari satu malam mereka saling perang dingin, tak sepatah kata pun keluar dari bibir Nathan maupun Vivian meskipun mereka tidur di kamar dan ranjang yang sama, sarapan dan makan malam di meja yang sama.
Hari ini adalah akhir pekan, jadi tidak heran melihat Nathan yang berada di rumah dengan pakaian santainya. Kaos oblong hitam tanpa lengan dan celana abu-abu selutut. Dan rencana mereka untuk pergi berlibur pun gagal total, karena mereka saling diam dan bertegur sapa.
"Baiklah, San. Kita bertemu di kedai Bibi Jang saja, kebetulan aku sedang ingin makan sup iga sapi buatannya."
Nathan mengangkat wajahnya dan menatap sekilas pada Vivian yang sedang menaiki tangga menuju kamar mereka di lantai dua, dari percakapannya yang Nathan dengar, istrinya itu sedang membuat janji dengan Sania untuk pergi bersama.
Selang beberapa menit Vivian kembali dengan pakaian berbeda dan melewatinya begitu saja. Mereka benar-benar seperti orang asing sekarang.
Menutup laptopnya. Nathan pergi ke kamarnya untuk mengambil kunci motor dan mengganti celananya. Dia tidak mengganti kaosnya hanya menambahkan Hoodie Vest.
Meskipun sedang perang dingin, tapi Nathan tetap tidak bisa mengabaikan keamanan Vivian, bisa saja Aiden dan anak buahnya menjadikan dia sebagai incarannya karena mereka tau sebagai kelemahannya.
Nathan mengemudikan motor besarnya mengikuti taksi yang membawa Vivian menuju tempat tujuannya.
Perasaan Nathan mulai tidak enak karena jalanan yang dilewati taksi tersebut bukan jalan utama. Dan dari jarak sejauh 20 meter, dia melihat beberapa motor besar menghadang di tengah jalan, mereka adalah Aiden dan komplotannya.
Taksi itu berhenti, sang sopir turun setelah mendapatkan kode dari Aiden lalu pergi dengan menerima sebuah sebuah amplop yang cukup tebal. Tanpa mencari tau pun, tentu saja Nathan tau jika amplop tersebut berisi uang.
"Turunlah," pinta Aiden sambil membukakan pintu untuk Vivian.
"Oh, jadi kau dan supir taksi itu sudah bekerjasama. Katakan, apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?!"
"Menjadikanmu alat untuk menghancurkan kekasihmu itu, karena aku tau kau adalah kelemahan terbesarnya!!"
__ADS_1
Vivian menyeringai sinis. "Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh anak kecil dan pembuat onar sepertimu ini?! Dan asal kau tau saja, kau sudah mencari masalah dengan orang yang salah!!"
"Jangan menguji kesabaranku!! Ikutlah dengan patuh atau aku akan bermain kasar padamu,"
Vivian mendecih sebal. "Kau terlalu banyak omong!!" Kemudian dia menarik lengan Aiden lalu membantingnya ke tanah. Membuat teman-temannya melongo karena terkejut.
Kesakitan terlihat jelas pada raut wajahnya. Tubuh Aiden menggeliat dan sebelah tangannya memegangi bagian pinggangnya. Dia menatap Vivian dengan marah. "Kau sudah bosan hidup ya?! Berani sekali kau padaku!!"
"Aiden, kau adalah pemuda paling menyedihkan yang ada di dunia ini. Karena rasa iri dan dengki, kau mengorbankan seorang teman yang sudah begitu baik padamu, menganggapmu sebagai saudara sendiri. Kau menciptakan drama yang begitu hebat dengan berpura-pura mati hanya ingin membuatnya terpuruk, kau sungguh pemain drama yang hebat!!"
"Kenapa kau tidak ikut casting saja, mungkin saja kau bisa mendapatkan peran yang sesuai dengan keahlianmu ini!! Sungguh, aku sangat-sangat menyesal karena memiliki saudara sepertimu, berkata drama picisanmu itu, aku jadi tau jika saudara kembarku yang selama ini hilang adalah kau!! Dan sebagai seorang kakak, aku merasa malu memiliki adik kembar sepertimu!!"
Sontak Aiden mengangkat wajahnya dan menatap Vivian dengan pandangan bertanya."Maksudmu apa?!" Tanya Aiden meminta penjelasan.
"Ini maksudnya!!" Belum sempat Vivian menjawab pertanyaan Aiden, tiba-tiba Nathan datang dan melemparkan selembar kertas pada Aiden. "Kita pergi dari sini!!" Nathan meraih pergelangan tangan Vivian dan membawanya pergi.
Vivian tidak memberontak apalagi berusaha melepaskan cengkraman tangan Nathan, bahkan dia menurut ketika Nathan memintanya untuk naik keatas motor besarnya.
.
.
Lelaki itu menatap istrinya yang sedang menundukkan kepala. "Masuklah, mungkin Sania sedang menunggumu. Aku pergi dulu." Ucap Nathan dan pergi begitu saja.
Tubuh Nathan di tubruk dari belakang. Sepasang tangan melingkari perutnya. "Maaf," terdengar suara lirih Vivian dibalik punggungnya. Pemuda itu menghela napas berat. Nathan melepas pelukan Vivian kemudian berbalik badan, dia meraih punggung Vivian dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
"Aku juga minta maaf, tidak seharusnya aku bersikap keterlaluan padamu. Aku bersalah," ucap Nathan setengah berbisik.
__ADS_1
Nathan mempererat pelukannya sambil sesekali mencium kepala coklat istrinya. Bagaimana bisa Nathan benar-benar marah pada Vivian, meskipun selama satu hari satu malam dia diam dan tidak menyapanya, bukan berarti Nathan marah, dia hanya mengalah.
"Yakk!! Vivian, aku menunggu disini selama bermenit-menit dan kau malah asik berpelukan dengan suamimu!!" Protes Sania kesal.
Perhatian mereka teralihkan. Terlihat Sania yang sedang marah-marah dan ngomel-ngomel tidak jelas. Bukannya segera menghampiri sahabatnya itu, Vivian malah memeluk suaminya lagi.
"Yakk!! Kalian berdua benar-benar ya!!"
"Sania, kau terlalu berisik. Daripada ngomel terus, sebaiknya hubungi Gio dan minta dia menemanimu biar tidak kesepian!! Aku harus pergi dulu, ada pekerjaan yang dari kemarin lusa tertunda. Kami pergi dulu, bye..."
Vivian menarik Nathan untuk pergi dari sana. Bahkan dia tidak menghiraukan teriakan kesal Sania, ia dan Nathan baru saja berdamai. Dan sudah waktunya Vivian menagih janji Nathan yang mau membawanya berlibur ke pulau Jeju dan Busan.
-
-
"Aiden, kau adalah pemuda paling menyedihkan yang ada di dunia ini. Karena rasa iri dan dengki, kau mengorbankan seorang teman yang sudah begitu baik padamu, menganggapmu sebagai saudara sendiri. Kau menciptakan drama yang begitu hebat dengan berpura-pura mati hanya ingin membuatnya terpuruk, kau sungguh pemain drama yang hebat!!"
Kata-kata Vivian kembali berputar di kepala Aiden. Kata-kata itu menamparnya dengan keras, rasanya seperti ada bongkahan besar yang menghantam dadanya dan menghimpit sampai-sampai membuatnya kesulitan bernapas.
Lalu pandangan Aiden bergulir pada selembar kertas yang Nathan berikan padanya. Aiden mengambil kertas itu dan membacanya sekali lagi, itu adalah hasil tes DNA yang menyatakan jika dia dan Vivian bersaudara.
"Aaarrrkkhhh!! Kenapa semua jadi rumit begini?!" teriak Aiden emosi.
Kemudian Aiden membuang kertas itu begitu saja. Pikirannya benar-benar kacau, Aiden beranjak dari duduknya lalu memungut kembali kertas tersebut. Pemuda itu menghidupkan mesin motornya, dan dalam hitungan detik motor sport hitam itu melesat jauh meninggalkan Sungai Han.
-
__ADS_1
-
Bersambung.