Istriku, Ga!Rah Cintaku

Istriku, Ga!Rah Cintaku
Merelakan Pergi


__ADS_3

"Kau terlalu berisik, sampai-sampai membuatku tidak bisa tidur dengan nyenyak!!"


"Vivian!!!" Nathan berseru setah mendengar suara lirih Vivian. Bahkan Nathan sampai tidak kuasa menahan air matanya saat melihat kedua mata Vivian akhirnya terbuka.


"Kenapa menangis, apa aku membuatmu ketakutan?" Vivian menyentuh sisi wajah Nathan dan menatapnya sendu. "Ini kenapa lagi? Kenapa sampai diperban begini?" Dia menyentuh perban yang membebat mata kanan Nathan.


Nathan menggeleng. "Tidak apa-apa, aku yang kurang hati-hati sampai menyebabkan pend*rahan ringan."


Pandangan Vivian berubah sendu. Dia mengusap perutnya dengan bibir bergetar, Vivian tau jika jan!nya sudah tidak ada lagi. Lalu ia menatap Nathan penuh rasa bersalah.


"Maaf, aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Jika saja aku lebih mendengarkanmu, pasti hal ini tidak akan terjadi, kita...tidak akan kehilangan dia." Ucap Vivian dengan suara parau seperti menahan tangis.


Nathan menggeleng. Dia menggenggam tangan Vivian dengan erat. "Tidak, ini bukan salahmu, semua terjadi karena takdir. Tuhan lebih menyayanginya, dan kita belum terlalu dipercaya untuk menjadi orang tua."


Baik Nathan maupun Vivian, mereka berdua tentu sama-sama kehilangan, terutama Vivian. Selama hampir dua bulan, jan!n itu bersama dirinya, dan sekarang dia sudah tidak ada lagi, tentu saja Vivian merasa sangat kehilangan.


Nathan bangkit dari duduknya, lalu merengkuh Vivian ke dalam pelukannya."Tidak apa-apa, Tuhan lebih menyayanginya. Suatu hari nanti, dia pasti akan kembali pada kita," bisiknya menenangkan. Nathan tidak ingin jika Vivian terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri karena kepergian calon buah hati mereka.


"Bagaimana dengan mama dan papa, pasti mereka akan sangat kecewa padaku, apalagi mereka sangat menantikan untuk segera memiliki cucu,"


Nathan menggeleng. Mereka akan mengerti, tidak perlu memikirkan apapun. Kau hanya perlu fokus pada proses pemulihanmu," ucap Nathan sambil mengunci manik Hazel istrinya. Wanita itu mengangguk, kemudian dia membalas pelukan Nathan sambil menutup matanya rapat-rapat.


Dalam hatinya Vivian bersumpah tidak akan pernah memaafkan Aiden, karena dialah ia harus kehilangan calon buah hatinya.


-


-


Aiden menggenggam gelas kopinya dengan tangan gemetar. Kepalanya tertunduk dalam. Kini dirinya dihantui rasa bersalah yang teramat besar karena telah menyebabkan Vivian kehilangan janin diperutnya.

__ADS_1


Jika saja hati dan pikirannya tidak dipenuhi dengan dendam pada Nathan. Mungkin hal menyakitkan ini tidak akan pernah terjadi, dan Vivian masih bersama anak di dalam perutnya. Tapi yang dia lakukan benar-benar telah merenggut kebahagiaannya.


"Kenapa tidak diminum kopinya?" Tegur Silvia yang kemudian duduk disamping Aiden.


Pemuda itu mengangkat wajahnya dan menatap Silvia dengan pandangan sendu."Apa dia akan memaafkanku?" Tanya Aiden memastikan.


Silvia menggeleng. "Aku tidak yakin, Vivian adalah orang yang pendendam, sekali dia disakiti, seumur hidup tidak mungkin memaafkan orang itu." Jawabnya.


Aiden menggigit bibir bawahnya. Lalu bagaimana dia bisa menghadapi Vivian, padahal dia ingin meminta maaf padanya. Mendengar apa yang Silvia katakan, sepertinya akan sangat sulit bagi Vivian untuk bisa memaafkan dirinya.


"Tapi tidak ada salahnya kau mencobanya, kalian adalah kakak beradik, pasti Vivian mau memaafkanmu, meskipun kemungkinannya sangat kecil." Ucap Silvia.


Silvia memberi saran supaya Aiden pergi menemui Vivian dan meminta maaf padanya. Meskipun dia sendiri tidak yakin jika Vivian mau memaafkan Aiden. Apalagi Silvia mengenal adiknya itu dengan sangat baik. Vivian adalah orang yang sangat pendendam.


"Baiklah, akan aku coba menemuinya."


-


-


Luis sendiri mencoba memberikan kekuatan pada Nathan yang tampak rapuh. Sebagai seorang ayah, Luis memahami betul apa yang dirasakan oleh putranya saat ini. Nathan pasti hancur, tapi dia tetap berusaha untuk tegar.


"Maaf, Ma. Aku tidak bisa menjaganya dengan baik." Ucap Vivian penuh sesal.


Jesslyn menggeleng. "Bukan, Nak. Ini bukan salahmu, semua yang terjadi adalah takdir. Tuhan masih belum mempercayai kalian berdua untuk menjadi orang tua. Mungkin Tuhan masih ingin kalian mengejar cita-cita dan memiliki masa depan yang cerah terlebih dulu." Ujar Jesslyn sambil mengusap kepala Vivian penuh sayang.


"Pasti Mama dan Papa kecewa padaku," Vivian menatap Jesslyn dan Luis bergantian. Keduanya menggeleng.


Luis menghampiri Vivian dan menatapnya dengan sendu. "Tidak sama sekali, Nak. Kami tidak merasa kecewa sama sekali, Mama dan Papa sudah mengikhlaskannya. Kalian hanya perlu berusaha lagi, agar dia segera kembali."

__ADS_1


Nathan mendongakkan kepalanya. Mencoba menghalau cairan bening yang mengenang dimata kirinya. Dia tdiak bisa membayangkan bagaimana hancurnya Vivian saat ini.


"Sebaiknya sekarang kau istirahat saja, Mama dan Papa keluar dulu." Ucap Jesslyn dan dibalas anggukan oleh Vivian.


"Baik, Ma." Jawabnya lirih.


Selepas kepergian Luis dan Jesslyn, di dalam ruangan menyisakan Nathan dan Vivian. Pemuda itu menghampiri istrinya lalu memeluknya dengan erat. Nathan tau jika sejak tadi Vivian berusaha menahan diri untuk tidak menangis.


Nathan meletakkan kepalanya di atas kepala Vivian. "Jika ingin menangis, menangislah dan jangan di tahan." Lirih Nathan berbisik. Nathan merasakan cengkraman kuat pada kemejanya. Isakan terdengar dari sela-sela bibir Vivian, bahunya naik-turun, wanita itu mulai menangis. Membuat air mata Nathan ikut mengalir juga.


Ia tidak tahan lihat Vivian menangis seperti ini. Hatinya sangat hancur melihat Vivian hancur. Dan sebagai suami, dia merasa gagal karena tidak bisa melindungi mereka berdua dengan baik.


"Kenapa, Nathan, kenapa dia harus pergi? Kenapa dia tidak mau bertahan dan tetap bersama kita. Aku sangat menyayanginya, tapi kenapa dia malah meninggalkanku, kenapa?!"


"Kuatkan dirimu, Vi. Tuhan lebih menyayanginya, dia belum mempercayai kita untuk menjaga titipannya. Saat Tuhan sudah bisa mempercayai kita, pasti dia akan mengembalikannya pada kita berdua. Sekarang hapus air matamu, dia pasti sedih melihat mamanya menangis seperti ini."


Nathan menghapus air mata yang jatuh dari pelupuk mata Vivian. Sebisa mungkin Nathan mencoba untuk tegar agar Vivian tidak semakin hancur, karena jika dia lemah, lalu siapa yang akan menguatkan Vivian?!


Pemuda itu tersenyum tipis. "Tersenyumlah, aku merindukan senyummu." Ucap Nathan tanpa melunturkan senyum dibibirnya.


Vivian menangkup sisi wajah Nathan. Dengan lembut dia mengusap perban yang membebat mata kanan suaminya. "Ini baik-baik saja kan, tidak ada efek samping dari pend*rahan itu bukan?" Nathan menggeleng, meyakinkan pada Vivian jika matanya baik-baik saja.


"Tiga-empat hari ke depan, perbannya juga sudah boleh di lepas. Jadi kau tidak perlu mencemaskan apapun." Ujar Nathan.


"Syukurlah, aku lega mendengarnya. Aku benar-benar takut jika ini sampai berakibat fatal."


"Sekarang sebaiknya istirahat supaya bisa cepat pulang." Pinta Nathan, Vivian mengangguk.


"Baiklah."

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2