
Hanya diam di dalam ruangan tanpa melakukan apa-apa lama-lama membuat Vivian merasa bosan. Ditambah lagi tidak ada teman mengobrol karena saat ini Nathan sedang meeting dengan para kepala divisi untuk membahas hal penting yang Vivian sendiri tidak tau.
Wanita itu mengambil napas panjang dan membuangnya kasar. Sudah setengah jam, tapi belum ada tanda-tanda jika Nathan akan segera kembali. Tau begini dia tadi tidak ikut, tapi nasi sudah menjadi bubur, tidak ada gunanya juga dia menyesali keputusannya untuk ikut.
Bosan di dalam ruangan terus. Vivian memutuskan untuk ke luar ruangan. Berbagai tatapan langsung menyambutnya, tak sedikit yang membungkuk hormat padanya, tapi tak sedikit pula yang memberikan tatapan sinisnya. Tapi Vivian tak mau terlalu ambil pusing apalagi menghiraukannya.
"Mau apa kalian? Minggir, dan jangan halangi jalanku!!" Pinta Vivian pada tiga perempuan yang tiba-tiba menghadang dan menghalangi jalannya.
"Aku heran pada Presdir, memangnya hal istimewa apa yang dia lihat darimu sampai-sampai memilih wanita tidak menarik sepertimu sebagai istrinya?!" Ucap Minji sinis.
"Benar juga, jelas sekali dia tdiak ada istimewanya sama sekali. Wajah juga tidak terlalu cantik, dasar boneka rongsokan!!" Sahut Siska.
"Mendiang tinggalin Presdir Qin, dia lebih pantas mendapatkan yang lebih baik darimu!!" Imbuh Mirai.
Vivian menyeringai dingin. "Memangnya apa hak kalian memintaku untuk menjauhi suamiku sendiri?! Dan asal kalian tau saja ya, dia itu orang cerdas, bisa melihat mana berlian dan mana batu kali. Jadi jangan macan-macan apalagi mencari masalah denganku, jika tidak ingin kehilangan pekerjaan di kantor ini!!"
"KAU~" Siska mengangkat tangannya dan bersiap untuk menampar Vivian.
Dengan sigap Vivian menangkap lengan Siska sebelum telapak tangannya menyentuh wajahnya lalu balik menampar perempuan itu dengan keras.
"Jangan main-main denganku!! Sebaiknya persiapkan diri kalian, banyak-banyak berdoa supaya kalian tidak di pecat dari sini, kau terutama!!" Vivian menyenggol bahu Siska dan pergi begitu saja.
Mereka sudah membuat masalah dengan orang yang salah, jika mereka berpikir jika Vivian adalah perempuan yang mudah ditindas, maka mereka salah besar. Karena dirinya bukanlah wanita lemah yang mudah untuk ditindas dan diremehkan.
-
-
Nathan yang baru saja menyelesaikan rapatnya sedikit terkejut saat tidak mendapati sang istri berada di ruangannya. Padahal dia sudah berpesan dan mewanti-wanti pada Vivian supaya tidak pergi kemana-mana dan menunggunya di dalam.
Hendak menghubungi ponselnya, tapi Vivian malah meninggalkan ponselnya di ruangannya termasuk tas dan dompetnya. Yang artinya Vivian tidak pergi terlalu jauh.
Baru saja Nathan hendak keluar untuk mencarinya, tapi yang dia cari sudah menampakkan batang hidungnya. Vivian mengatakan jika dia pergi keluar untuk mencari angin segar.
__ADS_1
"Lain kali jangan pergi sembarangan lagi. Kau pasti sudah lapar, ayo keluar makan siang," ucap Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Vivian.
Vivian memeluk lengan Nathan dengan mesra, dia hanya ingin mengatakan pada semua orang jika lelaki disampingnya ini adalah miliknya dan hanya Vivian yang berhak untuk memilikinya.
Tatapan tidak suka jelas ditunjukkan oleh tiga orang. Siska, Mirai dan Minji, mereka menghentakkan kakinya dengan kesal, sementara Vivian mengurai senyum penuh kemenangan. Mereka bertiga sudah bersaing dengan orang yang salah.
-
-
"Ai, bukankah itu Nathan. Sepertinya yang disampingnya itu adalah kekasihnya,"
Aiden mengikuti arah tunjuk temannya. Matanya memicing melihat sosok gadis yang berdiri disamping Nathan, wajahnya terlihat tidak asing. Aiden mencoba mengingat dimana dan kapan dia pernah bertemu dengannya.
"Sepertinya seru juga jika kita ganggu mereka, bagaimana?" Usul pemuda yang lain.
Aiden menyeringai sinis. "Bukan ide yang buruk. Bersiaplah!!" Aiden memakai kembali helmnya. Motor-motor besar itu melesat satu persatu menuju tempat Nathan dan Vivian berada.
Mereka menggeber mesin motornya, Nathan memeluk pinggang Vivian dan melindunginya. Nathan memperhatikan mereka satu persatu, diantara lima pemuda itu, ada satu orang yang postur tubuhnya terlihat tidak asing baginya. Dan Nathan sangat mengenali betul postur tubuh itu.
"Aiden, dia rupanya!!" Ucap Nathan dan membuat Vivian mengangkat wajahnya seketika.
"Aiden?"
"Ya, motor sport hitam itu adalah Aiden. Dia bisa menyamarkan wajahnya di balik helm yang dipakai, tapi dia tidak bisa membohongi mataku karena aku sudah mengenalnya cukup lama." Tutur Nathan.
Gyutt..
Vivian mengepalkan tangannya. Dia terlihat celingak-celinguk seperti mencari sesuatu. Tapi tak ada satu benda pun yang bisa dia temukan. Kemudian Vivian melepas sepatu heels-nya lalu melemparkan pada pemotor yang Nathan yakini sebagai Aiden.
Brakk...
"Vivian, apa yang kau lakukan?!" Kaget Nathan melihat aksi Vivian.
__ADS_1
Sepatu Vivian mendarat pada kepalanya dan membuat Aiden hilang keseimbangan, dia tidak bisa mengobrol motornya hingga jatuh tersungkur di tanah disusul teman-temannya yang saling bertabrakan.
Melepaskan pelukan Nathan. Vivian menghampiri pemuda itu lalu menarik pakaiannya sambil melepas helmnya dengan paksa. Benar-benar Aiden, antara terkejut dan tidak percaya. Mata mereka saling menatap selama beberapa saat.
"Kau benar-benar orang paling brengsek di dunia ini. Tidak punya hati dan perasaan, rasanya aku ingin sekali menghabisimu dengan tanganku!!"
"Apa masalahmu denganku, lepaskan aku!!"
"DIAM!!" bentak Vivian emosi. Dia mengunci pergerakan Aiden hingga dia tdiak bisa bergerak sama sekali. "Dan kalian, jangan coba-coba mendekat atau tau akibatnya!!"
Nathan yang melihat kebar-baran Vivian tentu tidak tinggal diam. Dia menghampiri Vivian dan menarik istrinya menjauh dari Aiden, Aiden bisa terbunuh jika Vivian tidak di hentikan. Kunciannya pada leher Aiden bisa saja menghentikan napasnya.
"Vivian, cukup!! Hentikan, kau tidak perlu berbuat seperti ini. Sebaiknya kita tinggalkan saja dia, dan kau..urusanmu denganku belum selesai. Kita selesaikan nanti!!" Nathan menatap tajam Aiden dan pergi begitu saja.
Aiden membanting helm miliknya dengan keras. "Aarrkkhh,, sial!! Kenapa aku selalu kalah dari baj!ngan itu?! Lihat saja, bagaimana aku akan menghancurkanmu, Nathan Qin!!"
-
-
Vivian menyentak tangan Nathan hingga cengkramannya terlepas. "Kenapa kau harus menghentikanku? Kenapa tidak membiarkanku memberikan pelajaran pada bajingan itu?!" Vivian menatap Nathan dengan marah.
"Vivian, kendalikan dirimu. Kau tidak perlu sampai seemosi ini, aku sendiri yang akan mengatasi Aiden, sebaiknya kau tidak usah ikut campur lagi."
Vivian menatap Nathan dengan kesal. Dengan emosi Vivian mendorong Nathan. "Kau sangat menyebalkan!!" Teriak Vivian dan pergi begitu saja. Nathan menghela napas berat.
Bukan maksud Nathan hendak menghalang-halangi Vivian, tapi wanita itu sangat emosional dan ceroboh. Nathan takut jika itu akan membahayakan diri Vivian sendiri.
-
-
Bersambung.
__ADS_1