
Dor.. Dor..
Jul berjengit mendengar suara pintu di gedor dari luar. Ia bangun dan mengambil bantal, guna menutupi burung Pipit yang berubah jadi elang.
Clek...
"Mak ngapain sih gedor pintu kamar Jul.!"
Jul protes sama ibunya yang mengagetkan dan membuyarkan hayalan nya. Ia menatap wajah ibu yang sudah melahirkan nya.
"Kapan kamu cukur rambut Jul?"
Ibunya menatap wajah Jul, tak berkedip. Anaknya ini benar benar tampan, seperti artis Hollywood yang di tonton nya.
Tak lama kemudian Amir datang di belakang istrinya. Sama, ia juga penasaran dengan perubahan anaknya. Mereka sangat aneh melihat rambut anaknya yang pendek. Karna selama ini Jul tak pernah memangkas rambutnya yang gondrong. Paling hanya pangkas sedikit demi sedikit, begitu seterusnya. Tak pernah sampai pendek begini. Sebenarnya ini masih gondrong sih tapi lebih ke manly. Gak seperti kemarin yang bisa di kepang ngalahin perempuan.
"Anak Mak benar benar tampan, ya pak?"
Jul memutar bola mata, mendengarnya. Lebay sekali orang tuanya, lagian dia bukan anak kecil yang di puji langsung senang.
"Iya." Amir menjawab acuh.
"Untung kamu ga mirip sama bapakmu Jul.! Kamu kayak artis yang suka Mak tonton."
Lagi lagi Leha memuji putranya. Amir yang mendengar sindiran istrinya bereaksi. Ia menatap wajah istrinya tajam.
"Terus kalau gak mirip sama saya, mirip siapa?"
"Bapak kenapa sih, emang Jul keren jauh sama bapak " Leha tambah memanasi.
"Eh, Lo kalau ngomong jangan sembarang ya. Gua yang jebol Lo, enak aja Lo ngomong ga mirip sama gua."
Brakk...
Amir dan Leha berjengit mendengar pintu di tutup. Tak lama kemudian Lena melirik suaminya.
"Jauh emang pak, kayaknya Jul lebih mirip ke tuan Ammar. Apa Leha pernah tidur sama dia ya pak."
Nafas Amir memburu mendengar penuturan istrinya. Bisa bisa nya dia bilang pernah tidur dengan juragan kambing itu. Dan Ammar memang keturunan Arab, tubuhnya tinggi, hidungnya yang mancung. Wajahnya jangan di ragukan, sangat tampan bak dewa Yunani. Dan itu yang selalu membuat ia iri dari pria itu.
__ADS_1
"Ko bisa, gua yang jebol,"
"Bisa aja pak, dia nitip sama Leha."
Jul yang mendengarnya dari dalam jengah ia menutupi telinga nya yang gatal, karna mendengar orang tuanya bertengkar tiap hari. Tak lama kemudian ia tertidur sendiri. Sepertinya burung elangnya sudah kembali menjadi Pipit. Hingga Jul nyenyak dalam tidur dan mimpinya.
*
Ratna gelisah di kasurnya, ia menatap wajah suaminya. Dan sekarang, ia baru saja menyadari jika Jul lebih tampan dari suaminya. Tak lama ia mendesah lirih, kenapa Jul baru memotong rambut nya sekarang. Kenapa gak dari dulu, saat masih berpacaran dengan nya.
Tak lama kemudian ia mengingat jika Jul bersama seorang wanita cantik tadi.
"Siapa dia, apa dia pacar baru bang Jul. Tapi kemarin waktu datang ke resepsi, bang Jul sepertinya masih cinta sama Ratna. Terus kenapa sekarang cepat sekali berubah."
Ratna bergumam lirih, ia sama sekali belum menerima jika Jul menggandeng wanita lainnya. Apalagi saat berpacaran dengan nya Jul sama sekali tak pernah memanggilnya sayang. Jul itu pria kaku datar dan kadang lebih tak peka.
Mereka berpacaran hanya di malam Minggu saja. Dan setiap pertemuan, Jul selalu saja diam. Tak ada obrolan ringan yang mengalir. Pria itu sungguh kaku, tak bisa menyenangkan wanita nya.
Apalagi mengingat tadi, wanita itu mencium pipi Jul di depan umum. Memang hanya mereka bertiga waktu itu. Tapi tetap saja di depan umum. Sementara saat dengannya, Jul sama sekali tak pernah menciumnya, ataupun dicium. Bagaimana mau cium dan di cium, dia seperti patung jika berpacaran.
Gandengan tangan saja kadang Jul sudah melepaskannya lebih dulu.
Suami Ratna mengagetkan nya. Tak lama kemudian Ratna memeluk suaminya dan mencoba untuk tidur dan bersikap biasa, seperti malam kemarin. Malam pertama nya dengan sang suami. Dan mereka baru saja mengulang malam panasnya.
*
Di rumah, Via mengumpat pria sinting, yang sayang nya sangat tampan. Ia hampir saja terhipnotis dengan ketampanannya. Saat baru saja menyadari, jika pria itu benar benar sangat tampan. Rambut gondrong yang sudah pendek dan jambang yang sudah tipis. Dan ternyata dia,....
"Oh ya ampun, masa iya tampan begitu geser....Gak mungkin sepertinya." Via menggelengkan kepalanya.
Ia harus memastikan jika pria itu bukan orang gila. Jangan sampai dia tiba-tiba datang kemari dan memperkosa nya. Tak lama kemudian via bergidik ngeri. Ia menarik selimut tebal nya, menyembunyikan tubuhnya di sana. Kalau benar dia pria gila, lebih baik ia pergi lagi. Kembali ke kota saja, itu lebih baik.
*
Hoam....
Jul menguap berkali-kali, semalam ia mimpi indah bersama sang bidadari. Ia tersenyum lebar menyambut pagi yang paling indah semasa hidupnya.
Tak lama kemudian ia bangun membersihkan diri.
__ADS_1
Seperti biasa Jul kali ini bekerja di kebun, bersama Riki tentunya. Sahabat sejati kemanapun ia berada. Lain dengan Yono yang guru honor di kampungnya. Tangan nya terulur mengambil buah jambu asam, ia pikir ia akan mengambilnya untuk Via.
"Jul semalam Lo langsung pulang, habis antar tuh janda. Ko gua gak liat Lo pulang?"
Yang di tanya masih tak bereaksi. Ia justru tersenyum sendiri membayangkan wajah Via yang makan buah asam ini.
"Pasti lucu..." Jul terkikik sendiri, dan Riki yang melihatnya langsung mengulurkan tangannya pada kening Jul.
"Normal.." Jul menyingkirkan tangan Riki, ia mendengus dan berlalu begitu saja. Tak lama kemudian ia kembali lagi.
"Ki semalam singkong Jul mengembung. Punya Lo suka ngembung Ki.? Semalam Jul ga bisa jalan gara gara dia ngembang. Sumpah sakit banget, cenut cenut."
Riki tertawa terbahak bahak mendengar kata sahabat nya ini. Ia sampai memegang perutnya yang sakit akibat terlalu banyak tertawa.
"Ya jelas ngembang lah Jul. Kalau gak ngembang, gimana nanam nya.!"
Riki meneguk air minum yang ia bawa. Sungguh sahabatnya ini sangat polos, badan aja gede dan bertato. Tapi masalah ranjang Jul nol besar.
"Pantas semalam Via gak mau ngelus singkong Jul. Pasti dia takut Jul tanamin sama dia."
Byur....
Uhukkk... Uhukkk...
Riki menepuk dadanya yang sakit akibat tersedak air. Mendengar Jul berkata konyol.
"Semalam Lo ngapain sama janda Jul.?"
" Ngapain emang, gak ada!"
" Terus Lo barusan bilang, Via ngelus singkong Lo."
"Iya, kan tadi udah Jul bilang. Semalam burung Pipit Jul berubah jadi elang. Nah waktu Jul elus dia balik lagi jadi Pipit. Tapi gak tau waktu Via cium Jul, dia ngembang lagi. Terus Jul minta Via buat elus burungnya. Marah dia, ngusir gua."
Riki menatap sahabatnya tak percaya. Dia benar benar tak habis pikir dengan pikiran konyol pria ini.
.
.
__ADS_1