Janda Dua Kali

Janda Dua Kali
Niat hati


__ADS_3

Riki menautkan kedua alisnya. Melihat sahabatnya yang tidak istirahat barang sejenak.


"Jul, kenapa sih... Masih kesel di tinggal kawin sama mantan.?"


Jul pura pura tak mendengar, ia masih bolak balik angkut padi pak Dadang. Riki yang melihatnya mendengus. Sepertinya Jul memang masih memikirkan mantan. Susah memang kalau cinta mati.


"Tuh si Panjul ko gak istirahat Ki.."


"Biarin aja buk, masih sakit hati dia di tinggal kawin sama mantan."


"Oalah, memang Ratna itu cantik. Pantas saja nak Jul ga bisa mu on."


"Move on mak,"


"Hooh,"


Riki menggelengkan kepalanya, ia lalu menyusul Jul di tengah tengah sawah.


" Jul, Lo berasa kayak lagi ngumpulin uang panai Jul. Ngebut aja dari tadi. Ingat Jul, uang panai juga akan kalah sama kualitas durasi dan ukuran. Lo kalau kerja terlalu berat juga ga akan kuat naik nanam singkong Lo. Percuma Jul, uang panai banyak kalau durasinya cuman lima sampai sepuluh menit. Yang ada Lo di katain kek ayam nempel doang."


Brukk...


"Astaghfirullah, Jul Lo mau bunuh gua. Ish ngagetin aja."


"Lo bisa diem ga Ki!"


Riki menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mundur perlahan, siap melarikan diri. Dia tau jika Jul sudah marah. Teman juga bisa bisa kena damprat.


"Lagian Lo ngoceh mulu. Udah gua mau balik."


Jul melenggang pergi meninggalkan Riki. Sudah cukup untuk hari ini ia kuli. Lagi pula tinggal bagian nya Riki. Kasihan dia kalau dia yang panggul semuanya. Riki bisa pulang ga bawa uang.


"Eh, eh Jul ko Lo tinggalin gua. Terus gua pulang pake apa?"


Riki berteriak memanggil Jul ketika sadar Jul benar benar meninggalkan nya.


"Ah sialan Panjul."


Riki mengumpat Jul yang tega meninggalkan nya. Ia juga menendang karung yang berisi padi basah di depannya.


" Marah dia, gak setia kawan Lo Jul. Terus gua pulang naik apa?" Riki masih mengumpat sahabatnya yang tak setia kawan. Ia mendumel sendiri, menatap nanar tumpukan padi di depannya.

__ADS_1


Sementara Jul yang menaiki sepeda motor nya, terbayang bayang wajah cantik wanita yang datang ke rumahnya. Ia sengaja cepat cepat menyelesaikan pekerjaan nya karna ingin ke rumah tetangga baru. Sampai di rumah Jul buru buru ke kamar mandi.


Amir mengeryit kan alisnya, melihat anaknya datang terburu buru dan langsung mandi.


"Tumben langsung mandi, biasanya kalau belum kering tuh lumpur belum mandi."


"Kamu ini pak, anak ada perubahan di katain mulu. Anak kita tuh mau nyari mantu pak."


"Iya.."


Ngalah aja lah dari pada, ga ada jatah lagi ntar malam, jamuran nanti.


Amir mengambil cangkir, siap meracik kopi sendiri. Matanya melirik ke arah istrinya yang berwajah masam. Kapan tuh bibir pernah tersenyum buat dia.


"Kamu itu pak, kalau ada cewek yang dekatin si Jul, langsung datang ya pak ke rumah orang tuanya. Lamar langsung, bosan rewang mulu tempat tetangga. Kapan kita narik pesta pak, ngundang artis."


"Nanti kalau Jul laku."


"Apa pak?"


Amir berjengit mendengar teriakkan nyaring istrinya. Lagian ini mulut ga bisa di rem ngomong nya. Ia lalu melenggang pergi membawa cangkir kopi miliknya. Takut ga ada jatah lagi ntar malam. Dia juga gak mau meladeni sang istri, sudah hampir sebulan jatah dia di undur terus.


Semua ini gara gara anak nya si Panjul yang suka ngerem di rumah. Alhasil istrinya ceramah terus melampiaskan nya padanya. Padahal, dia ga tau apa apa?. Leha kasihan melihat anaknya frustasi, yang di tinggal kawin sama Ratna dan ngerem terus di kamar. Tapi dia ga kasihan pada dirinya yang tiap malam nunggu di sayang sayang tuh burung hantu nya.


Leha menyelidik dan mencium aroma maskulin di tubuh anaknya. Ia lalu melirik ke arah jarum jam.


Masih jam dua, ko udah klimis gini ni bocah. mau kemana?.


"Mau benerin Sanyo tetangga sebelah Mak,"


Leha hanya berohria, ia kemudian melotot kan matanya.


"Janda dua kali, itu Jul."


Jul yang tak tau siapa maksud ibunya menautkan alisnya. Ia lalu kemudian mengerti siapa yang ibunya maksud. Karna di kompleks ini tak ada janda. Ada juga udah pada bau tanah, gak mungkin mereka kan maksud maknya.


Masa sih janda dua kali. Perasaan kayak masih perawan, bening banget.


"Mak dari mana kalau dia udah janda dua kali?"


"Tau, semalam orang orang pada ngomongin dia. Di sawah juga tadi banyak yang bilang jika dia udah janda dua kali.....Terus kamu ngapain mau kerumahnya, Jul.?"

__ADS_1


Leha menyipitkan matanya melihat Jul. Untuk apa putranya mau kesana. Apa mau ngapelin tuh janda.


Ah nasib si Panjul, sepertinya. Masa iya punya mantu janda, dua kali pula.


Jul pergi meninggalkan ibu dan bapaknya tanpa menjawab pertanyaan ibunya. Ia ingin cepat cepat pergi ke rumah tetangga baru nya. Kebetulan rumahnya tak jauh dari rumahnya.


Sampai di sana Jul menyipitkan matanya, melihat wanita yang tadi pagi datang ke rumahnya. Sedang bersama seorang pria tampan keluar dari rumahnya. Katanya janda, terus dia siapa,?


"Terima kasih kak,..."


"Maaf Vi ada daun di rambut mu."


Tanpa persetujuan pria itu mendekat dan membuang daun yang menempel di rambut Via. Sedangkan Jul yang melihat itu, mendengus. Bagaimana mungkin dia datang cepat cepat kesini ingin membantunya. Dan mereka dengan sengaja berciuman di depan pintu. Apa tidak puas tadi waktu di dalam rumah.


Ya dari sudut pandang Jul memang seperti sedang berciuman. Bujang lapuk itu mengumpat janda dua kali itu. Kecentilan, begitu pikirnya. Ia lalu mendatangi mereka berdua.


"Permisi..."


Via dan pria yang bersamanya menoleh ke arah Jul. Sedangkan Jul menatap datar wajah pria yang di kenalnya dengan tukang bengkel. Ya jelas wong di bajunya ada tulisan montir. Aneh aja si wanita cantik ini, ngapain panggil montir segala. Kalau cuma buat pasang Sanyo. Kebangetan.....


"Via aku pulang dulu ya."


"Iya terima kasih kak.."


Setelah kepergian pria tadi, Via menoleh ke arah Jul. Pria pagi tadi yang sempat ia mintai tolong agar memasang sanyo untuk nya.


"Pak ada yang bisa saya bantu.?"


Tuing...


Berasa mau nyungsep di comberan dia di panggil pak sama wanita cantik di depannya. Apa dia setua itu ya. Hingga wanita cantik di depannya itu memanggilnya pak. Padahal dia masih bujang ting ting. Lagi pula, apa dia tak mencium bau wewangian dari tubuhnya. Sial....


" Yang mana sanyonya, biar saya pasangkan?"


Via memutar bola matanya jengah, melihat pria di depannya yang mau membantunya. Tadi pagi dia di butuhkan nolak, sekarang ga di butuhkan datang sendiri.


.


.


Tinggalkan jejak ya Bun beri dukungan VOTE dan hadiah juga 😌

__ADS_1


.


.


__ADS_2