
Jul menatap wajah Via yang memerah. Seperti Via yang salah tingkah, ia juga malu dan menunduk. Melihat elang milik nya yang langsung menjadi Pipit kembali. Apalagi tubuhnya yang memanas tadi, seketika terasa dingin. Efek terjebur air kali yang dingin. Padahal dari tadi juga ia dan Via ada di dalam air. Kenapa baru terasa dingin sekarang.
Huss. ...Huss...
Seorang wanita paruh baya menggiring sapi milik nya yang baru saja mengagetkan Jul dan Via.
"Loh Jul, ngapain kamu disini tengah hari."
Jul gelagapan, ia tak siap mendapatkan pertanyaan wanita paruh baya tersebut. Ia juga masih blank pikiran nya. Membayangkan bagaimana rasa yang membuncah, dan terjun bebas ke dasar.
"Antar saya Buk, saya ingin berkeliling kampung sebelum saya kembali ke kota."
Via menjawab sopan, sedangkan wanita paruh baya tersebut hanya berohria. Tau jika orang kota pasti aneh dengan pemandangan seperti ini.
Via melirik ke arah Jul, hampir saja ia dan Jul berbuat gila. Yang memang pada dasarnya perbuatan mereka berdua sudah gila. Tapi untung saja tak berlanjut. Setidaknya ia sangat berterima kasih pada sapi milik warga.
"Via kau benar benar sudah gila."
Via bergumam dalam hati, mengutuk perbuatan bodohnya. Meracuni otak polos Jul dengan dirinya yang sudah berpengalaman.
*
Malam harinya, Jul bergulang-guling di kasurnya yang empuk. Ia masih tak bisa menghilangkan kejadian tadi siang. Ya rasa itu menerbangkan dirinya jauh ke angkasa.
"Apa ini ya yang di namakan nikmat dunia. Terus yang seperti apa rasanya saat menanam singkong."
Jul masih menatap langit langit kamar miliknya. Tak lama kemudian ia bangkit kembali, ia akan pergi ke rumah Riki. Sahabat nya itu sudah berpengalaman, ia ingin tau apa seperti tadi rasanya.
Jul melangkahkan kakinya menuju rumah Riki. Ya hanya rumah Riki yang tak jauh dari rumahnya.
Ha..." Gila Jul, ngasih tanda dia Jul." Riki kaget setelah Jul bercerita, tentang tadi siang. Ia lalu menyemangati sahabat nya. Dan artinya setelah ini Jul akan mencoba menanam singkong, ia yakin itu. Lawannya saja agresif, tentu saja Jul mangsa yang empuk.
"Gak papa lah Jul, janda lebih menggoda. Apalagi kalau bodi seperti Via, gua juga gak nolak Jul."
Matanya melirik ke dalam, takut jika sang istri bangun dan mendengarnya. Sementara Jul sendiri masih terbayang bayang, ia tak bisa menghilangkan begitu saja.
"Asal Lo tau Jul, rasanya nanam singkong tuh behh.. "
__ADS_1
Jul bereaksi, memang ia dari tadi membayangkan bagaimana rasanya menanam singkong.
"Enak Ki,?"
"Banget..."
Jul bangkit dan pergi begitu saja, ia akan ke rumah Via lagi.
Dan disinilah Jul berada, menatap rumah yang sudah gelap, itu artinya Via sudah tidur. Jul melirik ke arah samping, ia menyelinap masuk ke dalam kamar Via.
Sedangkan Via yang merasa ada seseorang masuk ke dalam kamar nya. Siap dengan tongkat kayu di tangan nya.
Bug...."Aw, Via."
Ha...
Via kaget mendengar suara Jul. Ia lalu membuang kayu di tangan nya, dan menyalakan lampu kamarnya.
"Mas Jul mau apa?"
Cup...
Jul menempelkan bibirnya pada bibir Via. Ia ********** seperti yang Via ajarkan padanya. Via sendiri gelagapan, ia tak siap tangannya memukul dada bidang Jul.
Dan Jul melepaskan ciuman panasnya pada bibir Via. Ia menatap dalam mata cantik yang sudah mengotori otak polosnya . Tak lama kemudian ia melabuhkan bibirnya lagi. Menautkan kembali menerobos masuk kedalam mulut dan membelitkan lidah. Tangan Via melingkar di leher Jul, ia membalas lebih dalam lagi.
Alvia, entah apa yang ia pikirkan dengan semua ini. Ia begitu semangat menyambut bibir Jul. Ia juga mendorong tubuh tinggi Jul ke kasur miliknya. Menindih tubuh tinggi dan kekar dengan tubuh sintalnya.
Uh....
******* Jul meluncur bebas, saat Via menyesap daun telinganya. Tubuhnya terbakar seketika, rasa panas menjalar di seluruh tubuh Jul. Sedangkan Via yang mendengar suara lenguhan Jul, tangannya merayap melepaskan kancing kemeja Jul. Bibirnya menari nari di dada bidang pria yang sudah ia cemari otak polos nya. Sedangkan sang empu, menggeliat seperti cacing kepanasan.
Via semakin gila, tangannya melepaskan ikat pinggang Jul dan menurunkan resleting nya. Tangan Via memegang singkong yang sudah siap tanam. Cukup jumbo dan berkualitas tinggi, di banding dengan milik Arsen dan juga Bara.
Ah....
Tubuh Jul menegang saat singkong besar miliknya di hisap oleh Via. Jul menggelinjang hebat, saat di bawah sana Via memperdalamnya miliknya.
__ADS_1
Tubuh Jul bergetar hebat, ia mendongak dan mulutnya menganga lebar, pusat inti nya berkedut. Tak lama kemudian,
cairan kental milik Jul menyembur tinggi, sampai Via sendiri kaget.
Hah.. Hah.. Hah nafas Jul memburu dan terputus putus setelah melepaskan aci singkong jumbonya. Keringat sebesar biji jagung bercucuran dari pelipisnya. Sungguh Jul menikmati rasa yang baru saja ia dapatkan. Apa ini yang di namakan nikmat dunia.
Sementara Via sendiri menatap wajah Jul dengan puas. Ia menipiskan bibir nya yang sudah mencemari otak polos Jul.
"Enak..."
Jul menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan Via. Matanya masih terpejam menikmati sisa sisa semburan Aci.
"Mau lagi..?"
Mata Jul langsung terbuka lebar. Ia langsung mendudukan tubuhnya di ranjang Via. Sementara singkong yang sudah lembek masih menggantung dan belum kembali ke persembunyiannya.
"Bisa lagi.."
"Ya..." Via mendorong kembali tubuh Jul agar terbaring. Ia merangkak naik lagi ke atas tubuh nya. Meniup dada bidang yang banyak meninggalkan jejak karyanya.
" Mas Jul mau yang lebih enak lagi.?" Jul mengangguk lagi.
"Nikahi Via.."
Jul menatap mata Via, manik mata cantik dengan bulu mata yang lentik. Benarkah apa yang di katakan oleh Via. Via meminta ia menikahinya. Itu artinya ia punya seorang istri dan tidak lagi jomblo.
"Apa Via mau menikah dengan Jul."
Ia tak percaya dengan apa yang di dengar nya. Selama ini, ia yang selalu di putuskan oleh kekasih hatinya, pas lagi sayang sayangnya. Dan saat ini, dengan telinga nya sendiri, ia baru saja mendengar wanita meminta ia menikahinya. Sebelumnya tak ada yang meminta, seperti yang Via katakan.
Cup...
"Mas Jul harus menikahi Via besok. Mas Jul sudah tak perjaka lagi, siapa yang mau sama mas Jul selain Via."Via melancarkan aksinya, menakuti Jul dengan pikiran kotornya.
Sedangkan Jul, matanya mengedip, dan tak lama kemudian ia mengangguk mengiyakan. Via menghembuskan nafasnya lega, akhirnya ia akan menikah dengan pria polos seperti Jul.
Ya, ia tak ingin Bara mengusik nya kembali. Ia muak dengan mantan suaminya. Dari pada ia harus menikah dengan Bara, lebih baik ia menikah dengan Jul. Pria polos, yang sudah ia racuni otaknya.
__ADS_1