
Bara menatap Jul tak berkedip, seolah tak percaya dengan apa yang di lihat nya kali ini. Tak lama ia tersenyum tipis, ini pasti hanya mimpi. Akibat rasa bencinya pada pria itu, bara mengira jika ia hanya mimpi.
"Tuan Bara,"
Suara Jul mengagetkan Bara, Bara menoleh dan masih mendapati Jul di depan nya.
"****,"
Mengumpat dalam hati, jika semua ini bukanlah mimpi dan Jul masih di depan nya.
Suami Via seorang CEO otomotif yang lumayan besar dan terkenal. Kenapa bisa seperti itu? bukankah dia dari kampung? Ada apa ini sebenarnya.
Hingga rapat selesai Bara sama sekali tak menangkap isi dari rapat kali ini. Pikiran nya masih melayang jauh memikirkan pria yang merebut Via darinya. Dan ternyata dia bukan lah orang sembarangan.
Jul tersenyum lebar melihat wajah Bara yang terlihat bodoh. Padahal rapat saham sudah selesai dan Bara masih bengong di tempat duduknya.
"Tuan Bara, apa anda tak ingin berjabat tangan dengan ku. Bukankah kita adalah rekan bisnis, Hem"
Sandi memutar bola matanya mendengar kata bos nya. Padahal saat rapat tadi dia sempat bingung dan tak tau. Alhasil ia lah yang menjawab nya. Dasar Jul, gak ada orang aja dia mau berlagak pamer sama Bara.
Bara terkesiap mendengar suara Jul di sampingnya. Ia menoleh dan melihat senyum Jul.
"Kalian pasti membohongi ku, aku tak percaya. Maaf tuan Sandi, apa sebenarnya yang kalian rencanakan. Kenapa tiba-tiba saja anda mengatakan jika anda sekertarisnya. Bukankah dulu anda yang datang padaku dan menandatangani berkas itu."
"Maaf tuan memang dulu saya yang datang, tapi tuan Zulkarnain lah CEO perusahaan yang sebenarnya tuan." Jawab Sandi.
"Ingat tuan Bara, jangan sampai aku melihat mu mendekati istri ku, aku bisa menghancurkan mu. Via adalah milik ku."
Jul melangkah pergi meninggalkan Bara di ikuti oleh Sandi. Sedangkan Bara sendiri mematung di tempatnya berdiri. Setelah Jul tak terlihat Bara menendang kursi di depannya, meluapkan emosi nya yang memuncak.
Brakk...
__ADS_1
"Brengsek.."
Nafas Bara memburu menahan emosinya. Ia tak percaya dengan hari ini.
"Tuan.."
Sekertaris Bara datang dari belakang dan menunduk. Ia sendiri tak tau kenapa tuannya marah dan menendang kursi.
"Siapa sebenarnya CEO PT One JAYA, Dista.?"
"Tuan Zulkarnain tuan," Jawabnya gugup, memang seperti itu yang ia tau dari dulu. Dan tuannya sama sekali tak menyadari nya.
"****.."
Bara terduduk di kursi dan mengusap wajah nya kasar. Ternyata suami Via bukan lah orang sembarangan. Itu artinya dia sama sekali tak punya kesempatan untuk mendapatkan Via. Secara dia juga sangat berpengaruh.
"Ah sial.. kenapa aku baru tau,"
*
Sandi yang melihat Bos nya itu menggeleng kan kepalanya.
"Bos nanti saja di rumah kenapa sih, ngeri gue lihat nya."
Jul mendengus mendengar nya, ia melirik sinis ke arah Sandi.
"Ingat ya, ini pertama dan terakhir, Jul gak mau lagi
pakai pakaian kayak gini."
"Loh gak bisa gitu dong bos,_"
__ADS_1
Sandi menutup mulutnya kembali melihat mata tajam Jul yang melotot ke arah nya.
*
Sampai di butik Via Jul mencari keberadaan istrinya.
"Dimana istriku,?"
"Mbak Via tadi keluar pak, katanya mau ke rumah sakit."
Jul berbalik dan melangkah lebar menuju mobilnya kembali. Ia mengemudikan mobil nya menuju rumah sakit di mana Rasya di rawat. Ia yakin jika Alvia ada di sana.
Sampai di rumah sakit Jul melihat istrinya bersama dengan seorang wanita. Jul turun dan mendekati istrinya, dari jauh ia sudah tau jika wanita yang bersama Via adalah istri Rasya.
"Mbak kenapa harus minta cerai dari kak Rasya. Dia lagi sakit dan mbak datang justru meminta uang lagi sama mereka. Mbak tau mereka itu sedang tak punya uang mbak."
"Apa perduli mu Via, dia sama sekali tak memberiku uang. Aku sudah meminta cerai darinya tapi ayah mertuamu itu sama sekali tak ngaca. Dia tak mau melepaskan aku sebagai menantu, tapi dia juga tak memberiku uang. Memang nya siapa yang mau hidup tanpa uang, heh."
"Via.."
Via dan Hana di kaget kan dengan kedatangan Jul. Mereka berdua sama-sama menoleh ke sumber suara.
Hana tersenyum lebar saat mendapati pria yang kemarin bertemu dengan nya di kamar Rasya. Apalagi melihat dada bidang Jul yang di tumbuhi bulu bulu halus, milik Hana langsung berkedut. Begitupun dengan Via, ia tersenyum melihat suaminya. Tapi tak lama kemudian dahi Via mengkerut. Ia melirik ke arah Hana, mendengus melihat Hana yang menatap Jul tak berkedip.
"Mas sudah rapat nya, ko cepet.?"
Via mendekat dan memeluk pinggang lebar suaminya. Melihat pemandangan seperti itu senyum Hana hilang dari bibir nya.
"Kamu kenapa,?"
Via menatap Jul dengan mata yang melotot. Tangan nya mencubit pinggang Jul, hingga membuat sang empu meringis.
__ADS_1
Jul tersenyum dan mencium pipi Via, ia tau jika istri sedang bermain drama di sini. Padahal tanpa bermain drama Jul juga tak berminat dengan ulat bulu seperti nya.