
Riki menggerutu saat bangun tidur ia merasakan tubuhnya yang meriang akibat mandi tengah malam.
" Panjul benar benar brengsek, gua balas Lo."
Hachihh...
" Bang Riki, masuk angin bang,?"
"Gak..." Riki menjawab sewot dan berlalu pergi meninggalkan istrinya. Istri nya juga salah, kenapa dari awal tak bilang, jika sedang datang bulan, alhasil ia yang sakit. Sementara bulan mencebikkan bibirnya, ia tetap mengikuti langkah suaminya yang pergi ke dapur.
"Bang, bang Jul mau pesta gak bang, dia bilang gak sama abang." Mendengar nama Jul lagi, Riki menatap tajam pada istrinya. Jika istrinya tau kalau semalam ia menunggu Jul seperti orang bodoh. Sedangkan yang di tunggu sedang bercinta bersama istri barunya. Bagaimana ia tak gondok, membayangkan Panjul yang enak enakan, sementara ia di luar di gigit nyamuk dan pulang ke rumah tambah sial.
"Abang kenapa sih sensi banget sama bulan. Ya kan Abang juga kemarin nya sudah tau jika bulan sakit pinggang mau datang bulan, bukan salah bulan dong." Riki mendengus mendengarnya. Ia lalu mengambil cangkir dan membuat kopi kesukaannya.
Sementara di rumah Via.
Via tersenyum tipis mengingat percintaan panas mereka semalam. Suaminya menggempurnya berulang kali. Padahal sebelumnya milik suaminya sudah mengecil seperti semula. Entah kenapa sebelum ia mengambil pakaian nya, suaminya lebih dulu mencekalnya dan menindihnya.
"Ku pikir kau, tak akan setuju menikahiku." Tentu saja wanita mana yang menggoda pria sebelum mereka sah menjadi suami istri, selain dia. Apalagi mereka baru saja bertemu. Jika orang lain tau pasti dia akan di katakan janda gatal. Untung saja Jul sangat polos, ia meracuni otak polosnya dengan hal hal mesum dirinya yang sudah berpengalaman. Mengingat nya saja ia merasa memang benar benar gatal.
Via menurunkan kakinya dan bangun lalu pergi ke kamar mandi. Sedangkan Jul sendiri masih di alam mimpi. Setelah percintaan panas nya dengan istrinya hingga menjelang subuh ia terkapar dan langsung tidur.
"Neng Via, udah seger aja pagi pagi udah keramas."
Via tersenyum kecut, ia lupa jika ini di kampung. Pasti sebentar lagi, ia akan menjadi seleb oleh warga sekitar.
Pak Bayu berjalan mendekati Via, ia menatap wajah cantik rupawan milik Via. Pantas saja Panjul tergila gila padanya. Cantik gini, mukanya juga glowing. Biar janda empat kali juga pasti banyak yang mau.
"Neng Via ko mau nikah sama Panjul. Dia anaknya urakan loh neng, suka bikin ribut. Kelihatannya kalem, tapi kalau udah datang emosinya, warga di sini gak ada yang berani mendekat."
Via tak bergeming, ia masih berdiri mendengarkan ucapan pria di depannya ini. Lagi pula ia ingin tau bagaimana keseharian suaminya selama ini.
__ADS_1
"Neng Via, cantik."
Plakkk...
Bayu berjengit saat tangan nya di pukul keras oleh seseorang. Ia membalikkan tubuhnya dan melihat mata Jul yang hampir keluar.
"Berani menyentuhnya," Bayu menggelengkan kepalanya dan mundur lalu secepat kilat ia pergi dari hadapan Jul dan Alvia.
Sementara Via tersenyum tipis saat melihat suaminya yang baru bangun, rambutnya masih terlihat acak-acakan. Itu yang membuat Via ingin menyeret suaminya masuk ke dalam lagi. Bercinta seperti semalam yang mereka lakukan. Tak lama kemudian suaminya melangkah ke samping dan pergi, tapi ia lebih dulu mencegah suaminya yang pergi meninggalkannya begitu saja.
"Mas Jul mau kemana,?"
"Pulang,"
"Loh ko pulang, jangan bilang dia mau ngadu sama ibu dan bapak nya." Gumamnya lagi.
Via berlari secepat kilat menghadang suaminya, dan tanpa aba aba ia memeluk tubuh suaminya dan menyatukan bibir mereka. Jul sendiri kaget, apalagi wanita paruh baya yang baru saja sampai. Matanya melotot melihat anak dan menantunya saling menempel.
Via langsung melepaskan tautan bibirnya dan berbalik.
"Bu..."
"Kalian ini gak tau malu, ini di luar," Via salah tingkah, kepergok mesum dengan anaknya. Apalagi Jul sendiri langsung mendekati ibunya. Ia tersenyum tipis, jangan sampai suaminya menceritakan tentang semalam.
"Jul mau pulang, ambil baju." Via bernafas lega, ia pikir suaminya akan menceritakan percintaan panas mereka semalam.
"Aku ikut..",
Via bergelayut manja di lengan suaminya. Sementara ibu Jul, menatap putra dan menantunya tak percaya. Ia yang notabene adalah mertua di abadikan begitu saja oleh Alvia. Ia menggelengkan kepalanya, begitu melihat anak dan istrinya sudah menjauh.
"Mas.. Ini kamar mas Jul." Via meneliti kamar yang lebarnya empat kali tiga meter tersebut. Kamar ini memang khas kamar pria. Tak banyak barang berharga milik suaminya. di kamar ini hanya ada lemari pakaian minimalis milik suaminya.
__ADS_1
Via menghembuskan nafasnya perlahan. Ia menatap mata suami yang baru saja ia nikahi.
"Mas, besok kita ke kota,"
Mendengar istrinya mengatakan itu, Jul menghentikan tangan nya, saat akan mengambil baju ganti miliknya. Ia berbalik dan menatap wajah Via.
"Aku tidak mau."
Via kaget mendengarnya, apa maksudnya, suaminya tak bersedia pindah ke kota.
"Mas.."
"Aku tak menyukai tinggal di kota," Seketika air mata Alvia merembes keluar. Ia pikir suaminya akan bersedia pergi ke kota bersamanya. Itu sebabnya ia dengan mati matian menggoda dan menjebak Zulkarnain. Ternyata dia tak ingin pindah ke kota bersamanya.
Via mengusap wajahnya yang basah secepat kilat. Ia tak ingin Jul mengetahui nya. Biarkan saja ia yang akan pergi ke kota sendiri kalau begitu. Sebenarnya ini bukan salah suaminya. Seharusnya ia menanyakan padanya saat akan menikah dengan nya. Apakah ia bersedia pergi ke kota bersamanya atau tidak.
Sungguh ia terlalu bodoh dengan hal ini. Ia pikir Jul akan mengikuti kemanapun ia pergi.
"Via.." Jul mengagetkan Alvia yang melamun, via menatap wajah suaminya yang baru saja memanggilnya.
"Ya mas,.."
"Mas mandi dulu, kamu tunggu di kamar nya mas ya.."
Via mengangguk mengiyakan ucapan suaminya. Tak lama kemudian suaminya pergi meninggalkan nya sendiri.
Via mendudukkan dirinya di ranjang suaminya. Tak lama ia terkekeh geli, mengingat ia yang baru saja mengenal Zulkarnain. Pria yang baru ia kenal nya tiga hari yang lalu. Apalagi ia yang bersikap seperti ulat bulu pada Jul, menggodanya dengan keahliannya.
Dan lagi saat ini ia ada di rumah mertua nya. Via lagi lagi terkekeh kecil, mengingat betapa tak sopan nya ia datang ke rumah mertuanya dengan tangan kosong. Apalagi ibu mertua nya tadi, seperti nya ingin ke rumahnya. Dan dia justru meninggalkan nya begitu saja lalu pergi ke rumahnya tanpa permisi.
"Via, kau memang benar benar sangat gila. Bagaimana mungkin kau bertindak bodoh seperti ini. Ini bukan di kota Via, tapi di kampung."
__ADS_1
Via bergumam lirih, nasibnya kenapa selalu buruk. Menikah dengan Bara, tapi Bara selingkuh dari nya. Lalu menikah lagi dengan Arsen, suaminya yang jarang pulang karna dia membela negara. Dan sekarang, ia sendiri tak yakin dengan saat ini. Apakah ia akan menjadi janda untuk ke tiga kalinya.