Janda Dua Kali

Janda Dua Kali
Tetap tak ingin


__ADS_3

"Apa aku mengenalmu.?"


Rizka tersenyum masam, bagaimana mungkin Zain tak mengingatnya. Sedangkan dia masih mengingat jelas pria di depannya ini. Jangan kan hanya mengingat, ia bahkan tau di mana letak tahi lalat di tubuh Zain.


"Apa kakak melupakan aku, wanita satu satunya di sini."


Jul melangkah dan duduk di sofa, ia melirik ke arah wanita yang mengikutinya. Jul mendengus, ia tak suka ada wanita yang terlalu percaya diri, apalagi dia ingin mendekatinya. Menyesal sekali ia datang kemari tak membawa istrinya.


Mengingat nama istrinya, Jul tersenyum. Ia membayangkan model bagaimana nanti saat ia menghukum wanita nakal itu. Tak lama ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel miliknya.


Menekan situs yang menampilkan layar orange. Ia mencari gaya apa yang cocok untuk nanti malam.


Rizka menautkan kedua alisnya, melihat wajah Zain yang kadang mengkerut dan kadang juga tegang.


"Kak.."


Jul berjengit mendengarnya, ia lalu mengembalikan layar ponsel nya dan memasukan lagi ke saku celananya.


Jul menatap wajah mereka semua, ia baru ingat dia ada di mana.


"Kami ingin Bos balik lagi ke sirkuit."


"Gak, aku datang ke sini bukan untuk kembali lagi. Tapi aku mau mengatakan pada kalian, aku sudah lama keluar. Hampir enam belas tahun aku meninggalkan sirkuit. Maaf aku tak bisa kembali lagi. Aku tak ingin berurusan seperti dulu lagi. Aku sudah cukup bahagia dengan kehidupan ku."


"Lalu untuk apa kau datang kemari kak.?"


"Bukankah kalian yang menyuruh ku datang. Ingat, aku sudah keluar dari sini, jangan paksa aku."


"Kau tak bisa seperti ini kak, ini sama sekali tak adil. Kami menunggu mu bertahun tahun dan kakak dengan entengnya mengatakan sudah keluar."


Brakk...

__ADS_1


Mereka semua berjengit kaget, Farel mengusap dadanya. Semoga saja Bos nya ini tak marah dan benar benar akan meratakan markas mereka. Ya sebelumnya Zain sudah mengatakan akan meratakan markas yang ia bangun sembilan belas tahun lalu. Saat itu Zain masih remaja, dari situ lah kepribadian nya terbentuk. Nakal dan suka bikin onar, itulah Zulkarnain. Hingga di usia nya menginjak usia dua puluh satu tahun ia menghilang dan bersembunyi di kampung.


Tak ada yang tau di mana Zain bersembunyi, hanya dirinya dan Sandi yang tau di mana Zain berada.


"Ingat, aku tak suka dengan pemaksaan. Dan aku juga tak suka di paksa. Aku tak pernah mengatakan kalian harus menungguku."


"Kak,..."


Rizka menatap tak percaya pada Zain. Bagaimana bisa pria yang dulunya mengutamakan balap liar. Sekarang seperti tak sudi, menekan gas di arena.


Ia yakin ada yang di sembunyikan Zain.


"Tak perlu kalian menerka nerka, aku sudah lama meninggal sirkuit. Dan aku sudah menikah, aku tak mau keluargaku mengawatirkan ku."


Mereka semua kaget dan hanya diam dengan keputusan Bos-nya. Mereka pikir mereka akan kembali lagi memacu gas di arena. Ternyata pria itu benar benar meninggalkan sirkuit yang melambungkan namanya. Dan lagi bos nya sudah menikah, ya tentu saja. Bukankah mereka juga sudah banyak yang menikah, bahkan mempunyai anak.


"Bos yakin,"


"Ya,"


Ya ia kecewa dengan apa yang di dengarnya. Ia pikir Bosnya itu masih sendiri. Saat remaja dulu, Zain tak pernah membahas tentang wanita atau pacar. Zain hanya sibuk dengan pedal gas dan tawurannya.


*


Jul berjalan menaiki anak tangga, sudah lebih dari enam jam ia meninggalkan Via. Padahal mereka baru saja pindah ke rumah ini. Apalagi dua hari yang lalu ia tak tidur karna perjalannya dengan Via dari kampung ke kota.


Baru dua hari ia datang ke sini semua sudah membuatnya pusing.


Jul merangkak naik ke atas kasur, yang sebelumnya sudah melepaskan pakaiannya sendiri. Ia memeluk tubuh istrinya dari belakang. Tak lama ia mendengus saat mendengar suara dengkuran halus istrinya.


Jul mengumpat wanita sialan yang baru ia temui tadi. Wanita itu sungguh menyebalkan, gara gara dia yang selalu mengajaknya berdebat, istrinya sudah tertidur duluan. Alhasil, ia tak bercocok tanam malam ini.

__ADS_1


"Via.."


Jul berbisik mesra, berharap sang istri bangun dan menawarinya menanam singkong.


"Sayang..."


Masih tak ada sahutan, ia mencebikkan bibirnya pasrah, melewati malam pengantin baru yang masih anget angetnya. Sudah lima hari menikah dan dia baru dua kali menanam singkong miliknya. Jika Riki tau, dia sudah mengejeknya.


Tak patah semangat, tangan Jul bergerilya masuk kedalam baju tidur milik istri nya. Tangan besar dan kasar itu, menemukan sumber nutrisi. Ia meremas lembut dan memainkan ujungnya.


Alvia melenguh merasakan sentuhan tangan Jul. Tapi kantuk yang Via rasakan tak juga membangunkannya.


Jul membuka selimut dan menelungsupkan kepalanya pada dua buah di depannya. Ia gemas pada Alvia yang tidur pulas. Sedangkan dia tak bisa tidur.


Jul menyingkap baju tidur milik istri nya, dan menyesap kuat salah satu gunung yang menggantung tepat di depan wajahnya.


Uhh...


Via menggeliat, merasakan sensasi geli di alam bawah sadarnya.


Jul mengumpat, bukannya bangun istrinya justru semakin nyenyak tidur nya. Alhasil, dia sendiri yang kepanasan dengan ulahnya sendiri. Tubuh bagian bawah nya menegang.


"Via.."


Hemmm


Jul lagi lagi mendengus, mendengar jawaban istrinya. Sepertinya ini malam tersial untuknya.


Ia pasrah, menarik kembali selimut yang sempat ia singkirkan. Memeluk tubuh Via dan mencium bibir nya yang sedikit terbuka.


Menyusul istrinya ke alam mimpi seperti lebih baik. Jangan sampai singkongnya, akan lebih mengeras lagi seperti tadi siang, yang harus pakai handbody.

__ADS_1


maaf ya Mak, aku ko gak bisa bikin yang komedi🤣 padahal aq orang nya suka melucu. Entah kenapa bikin yang komedi sedikit menguras emosi jiwa. wk wk wk...


akibat pikiran terlalu anu, bikin yang kocak gak nyambung. 😃😃


__ADS_2