Janda Dua Kali

Janda Dua Kali
Masih bersembunyi


__ADS_3

Hah...


"Yang bener, paman sama bibi gak usah ngaco."


Riki gelisah di tempat nya berdiri, kepalanya menoleh ke dalam mencari keberadaan sahabat sejati nya.


Amir mendengus, melihat mata Riki yang kesana kemari mencari anaknya.


"Lo cari aja di dalam, kalau gak percaya," Riki langsung berdiri dan melangkah ke arah kamar Jul.


Clek...


Riki menatap kamar yang kosong, ia lalu berbalik di meja yang tersimpan di sudut. Tak ada parfum dan alat Jul lainnya. Hanya tinggal mejanya saja.


"Lo tega bener Jul. Ninggalin kita lagi ke kota, gua pikir Lo udah gak bakal balik lagi ke sono. Ga seru, ga ada Lo Jul. Lo menikah dan langsung pergi begitu aja, gak pamit sama sahabat Lo Jul."


Hah...


Riki menghembuskan nafasnya perlahan, ia menatap foto Jul yang masih berambut gondrong. Foto itu memang terlihat menyeramkan. Apalagi kamar ini dalam keadaan kosong dan gelap sekarang. Riki bergidik ngeri, tak lama kemudian ia keluar dari kamar Jul.


Bukk..


"Lo kenapa sih Ki, main tabrak aja.?" Amir bersungut-sungut pada Riki yang menabrak tubuh tuanya.


"Kamar Jul seram banget,"


Amir mendelik dan mengusir Riki pulang dari rumahnya. Leha sendiri membawa cangkir kopi untuk mereka berdua.


"Loh Riki mau kemana?"


Riki berbalik dan hendak mengurung kan niatnya untuk pergi. Tapi melihat mata ayah Jul ia melanjutkan lagi langkahnya.


*


Jul menatap gedung yang lumayan tinggi di depannya. Ia menghembuskan nafasnya perlahan dan melangkah masuk ke dalam mengikuti Farel yang sudah berjalan di depannya. Sebelum nya, Jul sudah mengatakan jika Farel tak perlu mengungkap jati dirinya. Kedatangan nya tak boleh di ketahui oleh siapapun dulu, sebelum ia siap.


Farel tak setuju tadinya, tapi karna Jul yang memaksanya, apa boleh buat. Ia hanya menuruti perintah Bos, sekaligus temannya itu.


Farel berjalan perlahan, ia tak biasa di ikuti oleh Bosnya itu. Sementara Jul sendiri mengikuti Farel dari belakang.

__ADS_1


"Selamat datang di kantor Bos,"


Jul memutar bola matanya jengah mendengar sambutan Farel saat membuka pintu ruangannya. Ia menatap ruangan yang ia tinggalkan empat tahun lalu. Ya empat tahun lalu ia mengunjungi perusahaan miliknya. Tapi ia hanya sekedar menengok saja. Selebihnya ia tak perduli, semua nya hanya Farel dan orang kepercayaan nya.


"Selamat datang tuan.." Sandi menyapanya.


"Tidak usah berlebihan aku gak suka."


Baik Sandi maupun Farel tertawa kecil. Aneh saja mereka berdua melihat Bos nya yang super kaku, datang kemari.


"Bos jangan terlalu kaku, mereka semua akan menertawakan mu nanti."


Lagi lagi Jul mendengus mendengarnya, ia menatap tajam keduanya. Mereka berdua menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Jul mendudukkan dirinya di kursi kebesaran nya. Baru dua kali ia menduduki kursi di ruangan ini. Ia seperti aneh baginya. Ia sungguh tak menyangka akan datang kemari. Ia pikir ia akan aman bersembunyi dengan kedua orangtuanya di kampung.


Ya Jul pertama kali datang ke kota saat ia sekolah menengah ke atas. Untuk pertama kalinya ia balapan liar dan memenangkan berbagai pertandingan. Dari situ Jul mengumpulkan uangnya. Tapi siapa sangka, neneknya yang berada di kota meninggal dunia dan semua warisan jatuh ke tangan nya. Tak ada anak selain ayahnya. Ayah nya adalah anak tunggal, tapi ayah Jul memilih tinggal di kampung dengan ibunya.


Ayahnya meninggalkan kemewahan kota dan tinggal sederhana di kampung. Itu sebabnya ia selalu menjurungkan Jul agar mengelola kontrakan neneknya. Ia justru sibuk dengan balap motor liar. Menjadi remaja yang baru saja mengenal kota metropolitan, Jul menjadi remaja yang nakal. Ia sering tawuran dan berkelahi.


Tak ada hal lainnya yang Jul cari selain bersenang senang. Balapan liar, tawuran dan sering membuat rusuh itu adalah kenakalan Jul enam belas tahun lalu.


Tentu saja Jul menyetujuinya, siapa yang tak tergiur dengan uang jutaan dolar. Ia menyetujuinya begitu saja. Saat balapan itu nyawanya hampir saja melayang. Ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, karna tergiur oleh uang. Ia menggila di sirkuit, saat mencapai finis, motor nya hilang kendali terbalik bersama dengannya.


Dari situ Jul sakit lama, ia memutuskan untuk pulang. Tapi Setelah sembuh ia kembali lagi, menaklukan sirkuit. Sampai ia bosan dan pulang ke kampung.


"Bos, bagaimana dengan rumah yang kau beli,?" Farel membuyarkan lamunan Jul.


"Via gak tau, tapi dia ngajak Jul tinggal di rumahnya sebelum menikah dengan Arsen. Untung saja dia udah mati."


Baik Sandi maupun Farel menautkan kedua alisnya.


"Kenapa?"


" Gak.."


Mana mungkin Jul akan mengakuinya jika ia iri dengan ketampanan Arsen. Mereka pasti akan mengejeknya.


" Ko bisa Bos kecantol dengan Alvia. Padahal masih banyak wanita perawan yang mau sama Bos, Kenap milih janda.?"

__ADS_1


Jul tak menjawabnya, ia hanya melirik sekilas ke arah mereka berdua yang penuh tanda tanya.


"Anak anak seperti nya sudah tau jika Bos kembali lagi kemari. Tadi Miko menelpon, katanya dia melihatmu di stasiun."


"Jangan sampai mereka datang mencariku, aku tak ingin Via dan anakku takut melihat mereka."


"Anak,"


Jul melempar remote control pada Farel yang mengejeknya. Lagi lagi ia mendengus melihat mereka berdua mengejeknya.


"Apa perlu aku mengganti kalian berdua."


"Gak..."


Farel dan Sandi menghentikan tawanya, mereka berdua pergi masing masing. Sandi ke ruang sebelah dan Farel ke ruang depan, duduk sebagai pemilik perusahaan modifikasi motor dan mobil. Dan pemilik perusahaan yang sebenarnya justru sedang bersantai ria.


*


Via membereskan kembali baju dan barang miliknya. Setelah tau jika Arka bersedia tinggal bersamanya, Via tak banyak tanya. Ia pergi ke kamar miliknya dan kamar Arka. Memberatkan baju putranya juga.


Ia hanya harus menyakinkan suaminya jika mereka akan tinggal di rumahnya yang dulu.


Via menghembuskan nafasnya kasar. Sebenarnya ia ingin pergi dari rumah ini tanpa bertengkar dengan kakak iparnya. Tapi Rasya selalu membuatnya naik darah.


"Ma, Om tadi beneran kan mau ajarin Arka beladiri.?"


"Bukankah tadi Arka juga sudah bertanya.?"


Bocah kecil itu mengangguk lalu tangan kecil membantu membereskan barang milik nya juga.


"Via,.."


Via dan Arka kaget.mendengar suara nyaring memanggil nya.


"Papa..."


"Apa maksud mu membawa pergi Arka dari rumah ini.?"


Ayah mertua Via menatap tajam pada Via. Apalagi melihat Via dan Arka memasukkan mainan cucunya di dalam kardus. Seketika emosi nya memuncak melihat nya.

__ADS_1


__ADS_2