
Jul mengendarai mobil BMW dengan kecepatan tinggi. Ia rindu dengan mobil dan motor nya. Mobil tua koleksi miliknya, masih tersimpan rapi. Farel dan Sandi memang paling bisa di andalkan.
Ia memarkirkan mobilnya di halaman rumah mertua Via. Sementara tukang kebun yang melihat ada mobil antik langsung menyimpan gunting rumputnya, menghampiri mobil berwarna hitam dan mengkilat.
"Pak jangan asal pegang, mau bapak di denda oleh pemiliknya."
Pria paruh baya tersebut menarik kembali tangannya. Ia menoleh ke arah Surti yang mengagetkannya.
"Cuma pegang masa iya mau rusak." Surti mendelik tajam pada pria di depannya ini. Suaminya ini di kasih tau ngeyel.
*
"Pa, Via cuma mau hidup mandiri. Maafkan Via yang tak memberitahukan pernikahan Via terlebih dahulu."
"Benar kata Rasya, kau memang wanita tak tau di untung. Kau menikah lagi tanpa memberitahukan kami. Kau tau Via, almarhum Arsen adalah abdi negara. Apa kau sengaja melakukan ini agar kau juga bisa mendapatkan gaji terusan dari almarhum suami mu."
Via menggeleng tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Sejak kapan mertuanya mempermasalahkan uang yang tak seberapa. Bukankah jika Via sudah menerimanya, akan di berikan pada ibu mertuanya.
Sementara ibu mertuanya langsung membawa Arka keluar dari kamarnya. Melihat suami dan menantunya ini beradu mulut.
" Pa, Via sama sekali tak memikirkan hal itu. Jika papa keberatan saat Via mengambilnya, Via akan memberikan tanda tangan Via agar gaji terusan papa yang mengambilnya."
"Kau pikir aku mata duitan Via."
Jul menautkan kedua alisnya mendengar suara bentakan, apalagi pria itu menyebut nama Via.
"Lihatlah Pa, dari dulu Rasya juga tak setuju jika Arsen menikah dengan nya. Sudah kelihatan wanita itu memang tak tau malu. Dia hanya memanfaatkan Arsen saja, maklum saja dia janda Pa, pintar menggoda pria kaya."
Tangan Via terkepal erat mendengar hinaan yang keluar dari mulut Rasya. Ia mendongak menatap wajah Rasya tajam. Lalu tersenyum miring, pada pria di depannya ini.
"Bukankah kau sendiri yang gencar menjodohkan janda ini."
Rasya melotot kan matanya, ia tak menyangka Via membalikkan kata kata nya. Via tersenyum sinis ke arahnya.
"Aku tanya, untuk apa kau ngotot ingin aku menikah lagi dengan Bara. Apa kau mendapatkan bonus, itu sebabnya kau kecewa aku menikah dengan orang lain." Lanjutnya lagi.
"Kau..."
Tangan Rasya terayun hendak menampar Alvia. Tapi tangan nya di cekal dari belakang. Dan itu adalah Jul.
Argh...
" Sudah ku bilang jangan berani menyentuhnya."
__ADS_1
Brukk...
Jul mendorong tubuh Rasya ke lantai. Sementara mata tajamnya menatap pria paruh baya di depannya.
Mahendra menatap mereka bingung. Ia tak mengerti dengan semua ini. Apa benar Rasya meminta Via kembali lagi bersama Bara. Dan pria di depannya ini, apakah dia suami baru Via.
Jul sendiri menggerutu, pantas saja anak dan cucunya tampan, bibitnya saja bermerek.
"Kau suaminya Via,?"
"Ya.."
Jawaban singkat yang keluar dari bibir Jul membuat pria paruh baya itu mendesah kasar. Apalagi Rasya, ia tak menyangka bahwa pria ini adalah suami Via.
" Apa maksud mu Via, kau jangan berbohong pada orang tua.?"
"Apa maksud mu kak, bukankah dari tadi aku sudah mengatakan jika Zulkarnain adalah suami Via."
Ia tak menyangka Via menikahi preman seperti nya, ia pikir Via berbohong padanya tadi. Apalagi mereka akan membawa Arkana bersamanya.
"Papa gak setuju jika kalian membawa Arka bersama kalian. Arka tetap akan tinggal di rumah ini. Papa tidak yakin kalian bisa mengurusnya."
Jul menatap tajam pada pria paruh baya yang menghinanya.
"Kau..."
Bug... Uhukkk...
Mereka semua terkesiap melihat Rasya terkapar di lantai dingin. Jul menendang Rasya saat dia akan memukulnya.
"Sudah ku bilang, jangan macam macam denganku.?"
Apalagi Mahendra, pria paruh baya itu langsung shock. Melihat gerakan cepat Jul. Matanya tak berkedip melihat wajah Jul.
Sementara Via langsung menarik tangan suaminya.
"Pa, ma, maafkan Via. Lagi pula Arka juga sudah setuju akan tinggal bersama Via."
Mahendra menatap penuh tanda tanya pada pria di depannya ini.
"Siapa namamu..?"
Jul dan Via menoleh ke arahnya. Sementara Rasya sendiri bingung untuk apa menanyakan nama preman seperti nya, sama sekali tak penting.
__ADS_1
"Zulkarnain."
Jul melangkah keluar sambil menggandeng tangan istrinya. Ia berjalan mencari putra sambungnya.
" Mas bagaimana dengan mainan Arka."
" Kita akan membelinya." Alvia menggerutu, dia pikir mainan Arka sedikit. Akan membelinya kembali. Dia pikir uang tinggal nyetak apa.
" Mama, Om."
Arka berlari pada kedua nya, lalu memeluk kaki Jul.
"Om, kapan kita akan ke rumah Om?" Via mengerutkan keningnya mendengar penuturan Arka.
"Bukan ke rumah Om, tapi ke rumah mama? yang dulu Ka."
Jul tak menyahut, ia mengambil koper milik istri nya, dan memanggul nya. Rasya sendiri tak percaya melihat Jul yang memanggul koper, padahal tinggal di tarik saja bisa.
Kampungan...
Jul menatap datar pada pria yang berjalan melewatinya.
Rasya menatap mobil yang terparkir di halaman rumah orang tuanya. Mobil BMW klasik berwarna hitam dan sangat mengkilat. Ia berjalan mendekati dan tiba tiba saja Jul mendahuluinya. Dia membuka bagasi dan memasukan koper milik istri nya lalu kemudian menutupnya kembali.
Rasya menatap remeh pada pria yang menjadi suami Via.
"Kau tau berapa sewa mobil ini,? Kau bekerja satu tahun baru bisa membayar sewanya."
Jul menatap sinis, dan mengejek Rasya.
" Sayang sekali, untuk apa aku menyewanya. Jika aku pemilik sebenarnya."
"Wah mobil Om keren,"
Arka berlari dan langsung masuk kedalamnya. Sementara Via juga tak kalah terkejutnya. Mobil siapa yang Jul bawa kemari. Apalagi ini bukan sembarang mobil, apa suaminya merampok orang dan mengambil mobilnya.
"Ayo sayang.."
Jul membukakan pintu dan menyuruh Via masuk. Via melangkah berat, takut jika benar mobil ini hasil curiannya. Jul mendengus melihat Via meragukannya. Tak lama ia mendorong Via masuk dan menutup pintu mobil nya.
Ia lalu melirik ke arah Rasya dan tersenyum lebar.
"Kau tak bisa mengalahkan ku kakak ipar.."
__ADS_1
Tangan Rasya terkepal erat mendengar penuturan Jul. Ia yakin, Bara tak akan membiarkan Via begitu saja.