Janda Dua Kali

Janda Dua Kali
Minta di elus


__ADS_3

Via menatap Jul aneh. Pria ini sama sekali tak menghadap ke arah nya, dia membelakangi nya. Dan yang lebih aneh lagi Jul gelisah di tempatnya duduk.


""Tuan kenapa.?"


Jul masih tak bereaksi, ia pura pura tak mendengar ucapan wanita cantik di sebelah nya. Kakinya sama sekali tak bisa diam. Ia menyesal tak langsung pulang tadi. Gara gara ia tak ingin Via menyadari perubahan di tengah pahanya. Ia langsung menyetujui begitu saja jika Via mengajaknya duduk dan minum kopi.


"Jul...."


Ratna datang mengagetkan Jul dan Via. Sementara Jul acuh saja, tak ada rasa cemburu melihat Ratna bersama dengan suaminya.


Via menatap wajah wanita di depannya yang baru saja datang, bersama seorang pria. Tak lama ia mengangkat sebelah alisnya melihat mata wanita itu, menatap tak berkedip pada Jul.


"Ayo dek, kamu mau beli apa?"


Ratna kaget dan menoleh ke arah suaminya. Ia sungguh tak percaya dengan perubahan Jul. Mantan pacarnya ini sungguh sangat tampan. Ia hampir saja tak mengenalinya tadi.


Sementara Jul bernafas lega, mengingat benda di tengah pahanya mulai mengecil.


"Mas mas duluan saja, aku ada yang lainnya yang mau aku beli."


Suami Ratna mengangguk mengiyakan, ia berjalan pulang ke arah rumah mertuanya. Yang tak jauh dari kios tadi.


"Bang Jul..."


Ratna memanggil Jul mesra seperti biasanya. Nada halus dan lembut, yang membuat Jul meleleh tak bisa tidur akibat di tinggal kawin. Entah kalau sekarang mah...


"Ya.."


Jul menjawab acuh, ia sama sekali tak melihat ke arah wanita yang memanggil nya. Bukan karna ia masih cinta lalu marah. Tapi karna wanita cantik di sampingnya ini mengalihkan perhatian nya semua. Bibirnya terkena busa kopi.


Reflek Jul mengulurkan tangannya menghapus noda kopi. Sementara Via, menatapnya biasa.


"Terima kasih.."


Via tersenyum tipis pada Jul, sementara Jul mengangguk membalas tersenyum. Dan interaksi keduanya di saksikan oleh Ratna yang berdiri mematung. Jul sama sekali tak pernah mengacuhkannya. Dan sekarang dia mengacuhkan dirinya. Dan wanita cantik ini siapa nya Jul.


"Bang Jul.."


"Ya.."


Menjawab tapi wajah itu tersenyum pada Via. Ratna yang merasa di acuhkan, kecewa dengan sikap Jul. Ia lalu beralih menatap wanita cantik di sebelah Jul.


"Mbak siapa nya bang Jul,?"


Via menatap wajah Ratna, ia sama sekali tak mengerti. Wanita itu tanpa basa-basi menanyakan nya padanya. Kenapa tak di tanyakan langsung saja sama orang nya. Pikir Via....


" Sayang, ayo pulang...?"

__ADS_1


Via hampir saja menyemburkan kopi yang baru saja ia sesap. Jul memanggilnya sayang,.... Pasti karna wanita cantik ini.


"Ayo..."


Tanpa menunggu lama Via mendarat kan bibirnya pada pipi Jul. Ia tau pasti wanita cantik di depan mereka ini mantan nya. Itu sebabnya ia ingin membantu nya.


Dan Ratna shock, sekaligus tak percaya. Mereka berdua sudah sangat jauh, sementara Jul tak pernah memanggilnya sayang. Apalagi wanita itu mencium pipi Jul di tempat umum.


Via menggandeng tangan Jul yang keringetan. Ia sendiri juga bingung dengan tangan besar itu.


"Tuan tidak apa apa?" Setelah jauh dari kios, Via melepaskan gandengan tangan nya.


"Aku gugup..."


Hah...


Seketika Via tersenyum tipis melihat Jul yang salah tingkah. Rupanya pria di depannya ini tak segarang dengan badan yang bertato. Apalagi rambut gondrong nya itu, sebelum di pangkas. Ternyata itu hanyalah topeng menurut nya. Yang nyatanya sikapnya sangat lembut.


"Ya sudah ayo.!"


Tak lama kemudian mereka berjalan lagi berdua.


"Maafkan saya dengan kejadian tadi siang. Nama saya Alvia, anda sendiri siapa?"


"Zulkarnain"


Jul mengantar kan Via sampai ke rumahnya. Ia tak mengindahkan Via yang katanya bisa sendiri.


"Tuan..."


"Panggil mas saja,"


Via tersenyum tipis, entah kenapa ia melihat Jul yang lucu. Pria itu benar benar membuatnya gemas.


"Mas Jul, mau minum kopi."


"Kopi lagi?"


Via benar benar tertawa dengan kepolosan Jul. Ia menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu pria di depannya ini.


"Mas Jul kenapa?"


"Apa Via bisa menidurkan singkong Jul. Dari tadi Jul sudah mengelusnya, dan dia tidur hanya sebentar saja. Terus menggembung lagi."


Via mengerutkan keningnya mendengar penuturan Jul. Menidurkan singkong miliknya. Ah mungkin kucingnya di namakan singkong. Aneh tak ada nama yang lain apa?


"Baiklah, nanti aku akan menidurkan nya."

__ADS_1


"Sekarang, saya gak bisa tahan."


Kening Via tambah mengkerut, mendengarnya.


"Ayo sini, malu kalau di sini."


Eh Eh Jul membawa Via masuk dan mengunci pintu rumah Via. Ia mendudukkan dirinya dan menekan bahu Via agar duduk di sebelahnya.


" Mas mau apa, kata_"


" Iya sini, tangan nya."


Via masih bingung, ia mengulurkan tangannya begitu saja menuruti perintah Jul. Tak lama kemudian matanya terbelalak, saat tangan nya mendarat di tengah paha pria yang baru di temuinya ini. Gila...


Via langsung menarik kembali tangannya. Ia berdiri dan berkacak pinggang, matanya melotot pada Jul.


"Bapak jangan kurang ajar sama saya ya.."


"Ko bapak lagi, panggil nya."


Jul ikut berdiri, ia benar benar tak mengerti pada Via. Yang katanya mau membantu, bohong dia.


"Terus tadi apa maksud mas Jul. Nyuruh Via ngurut itu begitu?"


"Bukan, hanya ngelus, tadi Jul elus dia tidur lagi. Tapi cuma sebentar, dan bangun lagi."


Via tambah bergidik mendengarnya, ia yakin Jul pria tak normal. Dia pasti orang gila Via, oh ya ampun...


"Ya sudah kalau tidak mau Jul pulang,"


Via menatap horor pada Jul, ia tak menyangka jika akan di pertemukan dengan pria tak normal, lebih tepatnya gila. Mana ada pria yang normal akan menyuruh ia mengelus burungnya. Sungguh pria yang ini jauh dari siang tadi, yang seperti berwibawa serta Maco. Dan malam ini ia baru tau jika otaknya kurang,...


Jul menggerutu sepanjang jalan pulang. Ia hanya meminta nya agar di elus. Dan bukan menanam ubi nya. Riki bilang tak apa jika cuman di elus. Yang penting tanamnya nanti sama istri sahnya.


" Ini lagi, gak pernah bangun kenapa sekarang bangun dan berubah. Biasanya cuma pagi pagi dan mau tidur. Dan lagi kenapa Via harus marah. Bukannya dia sudah janda, Jul saja yang bujang ting ting tak malu. Sialan, sakit banget..."


Sampai di rumah nya, Jul langsung berbaring di ranjang nya. Ia mengelus pangkal pahanya yang berontak. Sambil membayangkan wajah cantik Via.


" Duh ko tambah cenut cenut di elus."


Jul kelabakan, yang merasakan panas di seluruh tubuh nya. Bukan panas karna terkena api. Tapi panas dingin seperti terbang dan enak yang ia rasakan.


"Jul.."


Dor... Dor...


.

__ADS_1


.


__ADS_2