
Sementara Jul sendiri yang berada di perusahaan miliknya sedang menatap layar laptop di depannya. Matanya tak berkedip melihat gambar di depan matanya. Tak lama ia tersenyum miring, ia yakin jika saat ini Rasya sedang mencari keberadaan nya dan Via. Pria brengsek itu pasti bingung dan bertanya-tanya kemana mereka saat ini.
"Rasya, kali ini adik ipar mu tak akan membantumu."
Senyum miring melihat kehancuran Rasya nanti. Ia tak akan pernah membiarkan Via menjadi alat untuk mereka semua untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Di tambah Rasya, pria itu memang tidak tau malu memanfaatkan Via untuk kepentingan nya sendiri.
"Aku dan Via yang akan menunggumu hancur Rasya. Pria serakah, seperti mu memang pantas mendapatkan kehancuran."
Sandi dan Farel yang melihat senyum Zain bergidik ngeri. Sudah lama mereka berdua tak melihat wajah Zain yang seperti ini.
*
Rasya tersenyum lebar, ia yakin Via ada di butik milik nya. Ya kenapa dia baru mengingatnya jika Via mempunyai butik. Tak lama kemudian Rasya membelokkan mobilnya menuju butik Via. Setengah jam kemudian Rasya sampai di butik milik Via.
Dari dalam mobil ia bisa melihat Via bersama dengan pelanggannya. Rasya turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam. Ia menatap Via dari jauh, ingin sekali dia memberi pelajaran pada Via. Wanita tak tau di untung itu membuat hidupnya kacau dan was was.
"Kak Rasya.."
Via di kejutkan dengan kedatangan Rasya di butiknya. Ia yakin jika pria ini mempunyai tujuan tertentu.
"Ada perlu apa kak?" Tanya nya lagi, ia masih bisa bersabar jika Rasya tak macam macam dengan nya.
"Apa kau tinggal di sini, aku datang ke rumah mu yang lama kau tak ada di sana."
Via tak menjawab, ia hanya tersenyum tipis melihat Rasya. Sedangkan Rasya sendiri yang melihat senyum Via mengepalkan tangannya. Ia yakin Via sedang mengejeknya saat ini.
"Kenapa kak, apa Bara mengancam akan mengambil semua milik nya yang di berikan padamu. Maaf itu bukan urusan ku, aku sudah menikah dan hidup bahagia dengan suami dan anakku. Kau tak bisa menyetir kehidupan ku lagi."
"Alvia, kau beraninya."
Rasya menatap tajam pada adik iparnya ini. Wanita ini sudah terlalu berani sekarang padanya.
"Jangan lu_"
"Aku tidak akan lupa jika aku dan Arka pernah menumpang di rumah papa. Tapi mereka sendiri yang memintaku untuk tetap tinggal dengan mereka. Aku tau apa tujuanmu datang kesini kak. Pulanglah sampai kapanpun aku tak akan menuruti keinginan mu kali ini. Aku tak mencintai Bara lagi, aku mencintai suami ku."
__ADS_1
Mata Rasya memerah menahan amarah yang menguasai. Alvia benar benar tak tau di untung. Ia lalu mencekal tangan Via dan mengancamnya.
"Ingat Via, kau bukan siapa siapa sebelumnya. Kau adalah janda miskin saat Bara membuangmu. Kau harus nya bersyukur Arsen menikahimu dan mengangkat derajat mu. Dia juga sudah memberikanmu segalanya, apa kau punya malu."
Via mengeratkan giginya emosi mendengar penghinaan Rasya terhadap nya. Ia menatap tajam Rasya yang selalu mengungkit latar belakangnya.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu Rasya. Apa kau punya malu. Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika Bara sudah membuang ku, lalu kenapa kau ngotot ingin aku kembali lagi padanya."
"Kau.."
Tangan Rasya terayun dan saat itu juga ia meringis kesakitan saat tangan nya di cekal seseorang dari belakang.
Arkk..
"Sekali lagi kau menyentuh istriku, aku akan memotong tangan mu saat itu juga. Apa peringatan ku kemarin kau anggap main main Rasya."
Rasya menatap Jul yang tiba-tiba saja ada di belakangnya.
"Lepaskan tanganku brengsek.."
Brukk..
Mendapatkan perlakuan seperti ini, Rasya mengeratkan giginya emosi. Ia menatap tajam pada Alvia dan Jul bergantian. Mereka berdua memang benar benar sangat keterlaluan, memperlakukannya seperti ini.
"Apa kau sengaja Alvia, menikahi pria yang suka berkelahi, agar kau bisa melawanku seperti ini."
Jantung Via berdetak lebih kencang, mendengar penuturan Rasya. Ia melirik ke arah suaminya yang diam dan menatap nya datar. Ya tujuannya dulu memang seperti itu. Ia ingin Rasya tak mengganggu dirinya.
"Jangan berkata sembarang Rasya."
Via membentak Rasya,dan Rasya yang melihat Via gugup tertawa renyah.
"Lihatlah, kau hanya di jadikan sebagai alat dengan nya. Alvia tak sepolos yang kau pikirkan, dia menikahimu karna punya tujuan tertentu, benarkah Vi."
Via menggelengkan kepalanya, ia lalu menatap wajah suaminya yang menatap nya datar.
__ADS_1
"Keluar,..."
Rasya tersenyum penuh kemenangan, ia menatap via dan tersenyum mengejeknya. Ia yakin sebentar lagi pria yang menjadi suami Via akan murka dan mentalaknya.
Setelah kepergian Rasya, Via menatap Jul yang tak mengalihkan pandangannya pada nya. Tatapan matanya yang tajam membuatnya takut sekaligus berdebar. Apa Jul akan marah, dan akan menceraikannya sekarang.
"Maaf,"
Jul menghembuskan nafasnya kasar, jadi Via memanfaatkan nya. Ia tak menyangka Alvia punya tujuan tertentu menggodanya.
"Ya aku memang sengaja, tapi aku benar benar mencintai mu saat ini, maafkan aku."
Jul berbalik, ia pergi meninggalkan Alvia yang menatapnya. Ada rasa kecewa jika Via mengakuinya telah memanfaatkan dirinya. Padahal Jul benar benar mencintai Via, sedangkan Via. Dia memanfaatkan dirinya untuk lepas dari keluarga almarhum suaminya. Kenapa terdengar jahat sekali dia.
Sementara Via yang melihat wajah kecewa Jul meneteskan air matanya. Ia memang memanfaatkan Jul demi kepentingan nya sendiri. Tapi ia mencintai nya sekarang, dia mencintai pria yang sama sekali tak pernah terpikirkan sebelumnya. Bukan karena dia kaya, tapi karna dia lah pria yang membuatnya nyaman.
Sementara Sarah sendiri yang melihat pertengkaran mereka hanya diam saja. Ia tak ingin urus campur dengan rumah tangga bosnya.
"Sarah, aku pulang dulu, nanti kau tutup butiknya."
"Iya mbak.."
Via mengusap pipinya yang basah, apa Jul benar benar marah padanya. Kenapa ia tak rela jika Jul marah dengan nya dan membencinya.
Sementara di dalam mobil BMW klasik, Jul mengumpat. Ia membelokkan mobilnya menuju ke markas nya.
Sampai di sana Jul di sambut dengan senyum lebar semua anak buahnya. Termasuk Rizka yang menatapnya tak berkedip.
"Bos,..."
Jul melangkah masuk tak menghiraukan panggilan mereka semua. Ia pergi kegudang dan mengambil motor yang selama ini tersimpan rapi. Sementara dari belakang, Rizka tersenyum senang, melihat Zain mengeluarkan motor balapnya.
"Kak, apa kakak akan kembali lagi?"
Rizka bertanya penuh semangat pada Zain. Sementara Zain sendiri tak menggubris nya. Kecewanya terhadap Alvia membuat dadanya sakit jika dia di manfaatkan oleh istrinya sendiri.
__ADS_1
Brum...