
Sampai di perusahaan Mahendra Bara keluar dari mobil dengan tergesa gesa. Tangan nya terkepal erat, jika apa yang suami Via katakan itu adalah benar, ia pasti akan membunuhnya.
Banyak karyawan yang menunduk melihat kedatangan Bara. Mereka semua tau jika Bara adalah salah satu pemegang saham di perusahaan Mahendra.
Dan Bara sendiri tak menghiraukan sapaan mereka. Ia melangkah lebar menuju ruang CEO milik Mahendra. Sampai di sana Bara 0 pintu ruang CEO milik Mahendra.
Brakk..
*
Rasya menatap genit pada sekertaris nya, sudah lama ia tergoda dengan wanita cantik yang menjadi sekertaris ayahnya ini. Padahal baru beberapa bulan sang sekretaris bekerja mengganti kan sekertaris yang lama. Tapi sepertinya Rasya, pria yang suka celap celup itu menatap penuh minat pada wanita cantik di depannya ini.
"Tuan berkasnya.."
Seru nya pada Rasya yang duduk di kursi kebesaran CEO. Hari ini memang Mahendra tak masuk kerja. Dia demam dan dia meminta Rasya mengganti kan dirinya sementara di sini.
Rasya sendiri berjengit kaget, ia tersenyum tipis dan berdiri memutar meja mendekat ke arah wanita yang menunduk di depannya ini.
"Siapa namamu..?"
"Ririn tuan," Cicitnya.
Dan Rasya mengangguk mengiyakan, tak lama kemudian ia, mendekatkan wajahnya pada ceruk leher Ririn.
"Wangi mu sangat menggoda,"
Terang saja Ririn meremang mendapatkan sentuhan tak terduga. Apalagi, Rasya meniupkan nafasnya pada ceruk lehernya.
"Sttt.. Tuan.."
Baru pertama kali mendapatkan sentuhan seorang pria. Tubuh Ririn menegang saat tangan Rasya kembali lagi, berani meraba raba bagian tubuhnya yang lain.
__ADS_1
Tubuh Ririn bergetar hampir saja ia jatuh mendapatkan sentuhan tangan Rasya di pahanya. Rasya sendiri langsung memeluk tubuh ramping Ririn dengan tangan nya yang lainnya.
Tak menyia-nyiakan kesempatan bibir Rasya mendarat sempurna di bibir Ririn. Hanya menempel, tapi saat tak ada penolakan Rasya **********. Tangan nya juga berpindah pada bongkahan melon kembar nya.
Brakk.....
Ririn berjengit kaget saat mendengar pintu yang terbuka kasar, begitupun dengan Rasya. Pria itu melotot mendapati Bara yang terlihat menahan amarah.
"Bara..."
Rasya menjauh dan meminta Ririn pergi meninggalkan mereka.
Sementara Bara sendiri berdecih melihat kelakuan Rasya. Ia melirik wanita yang bersama Rasya tadi. Tersenyum miring pada Rasya yang menatapnya,
Bara mendekat pada Rasya.
Bug...
Rasya mengumpat Bara yang tiba tiba memukul nya. Ia menatap Bara, penuh tanda tanya.
Bug..Bug...Brakk...
" Brengsek, apa yang kau lakukan padaku Bara."
Rasya berteriak tak terima, Bara memukul nya kembali hingga ia tersungkur dengan bibir yang berdarah. Di tambah lagi laptop milik ayahnya jatuh ke lantai, dan hancur.
Bara mendekat pada Rasya, ia mencengkeram kerah leher Rasya.
"Katakan padaku apa selama ini kau tak memberikan barang yang ku titipkan pada Via, hah..."
Wajah Rasya pucat pasi mendengar perkataan Bara. Dari mana Bara tau jika ia sama sekali tak memberikannya pada Via. Apa Via yang mengatakan nya. Tidak mungkin, Via tak akan perduli dengan itu. Dan lagi Via tak akan bertanya pada bara jika Bara suka memberinya barang mewah.
__ADS_1
"I_tu.."
"Kau menipuku Rasya, kau bahkan sama sekali tak memberinya salah satunya. Dari sekian banyak uang yang ku berikan padamu. Kau justru masih mengambil apa yang ku berikan pada Via brengsek."
Bug... Brakkk...
Tubuh Rasya menghantam meja kaca, dan hancur berserakan. Bara sama sekali tak memberikan kesempatan untuk Rasya.
Rasya meringis merasakan sakit yang luar biasa. Kepalanya berdarah karna menghantam meja. Rasya menatap penuh permohonan pada Bara. Dan Bara sendiri menatap tajam pada Rasya.
"Ingat Rasya kau harus membayar semua apa yang ku keluar kan untuk mu dan kau juga harus mengembalikan apa yang ku berikan pada mu."
Ancam Bara kemudian pergi meninggalkan Rasya yang tergeletak di lantai dengan kondisi yang menyedihkan.
Ririn menatap kepergian Bara, pria tampan yang baru saja keluar dari ruang CEO milik tuan Mahendra itu terlihat sangat marah. Dan ia juga bisa mendengar apa yang terjadi di dalam. Tak lama kemudian ia melototkan matanya saat menyadari sesuatu. Jangan jangan mereka berkelahi. Buru buru, Ririn masuk ke dalam tuang CEO dan matanya terbelalak saat mendapati Rasya yang tergeletak penuh darah.
"Tuan...."
*
Via menatap tajam suaminya yang masih di tekuk wajahnya. Bukankah dia yang membuat Bara pergi dengan memukulnya lalu kenapa dia yang kusut wajahnya.
"Ada apa,?"
Jul mendengus mendengarnya Via bertanya cuek padanya.
"Jul gak suka kalau Bara datang lagi kemari, apa butik ini begitu berarti."
Dan Via yang mendengar nya hanya mendesah kasar. Ia sendiri juga tak mau mantan suaminya itu datang terus kemari. Sama sekali tak menguntungkan baginya, yang ada juga akan ribut terus dengan nya.
.
__ADS_1
.