Janda Dua Kali

Janda Dua Kali
Perubahan


__ADS_3

"Yon, dari mana Lo.."


Riki mengagetkan mereka berdua. Dan Jul menoleh ke arah Riki, sahabat kurang ajarnya itu.


Hah...


"Jul...."


Jul memutar bola matanya jengah melihat Riki yang shock melihat dirinya. Apalagi mulutnya terbuka lebar siap cilok masuk ke dalam.


"Lo Panjul..?"


Yono terkekeh, melihat wajah Riki yang shock sama seperti dirinya yang melihat Jul pertama kali. Benar benar pangling dengan perubahan nya.


"Gila, Lo tampan bener Jul. Gua yakin, Ratna menyesal udah putusin Lo. Mewek kejer tuh dia ntar liat Lo.."


Jul mendengus, tak ada sangkut pautnya dengan Ratna. Sudah tak ada hubungannya lagi saat ini. Mengingat perubahan dirinya sekarang bukanlah tanpa alasan. Ya karna di kira bapak oleh sang janda. Jul langsung memotong rambut gondrong nya.


"Kamu Panjul,..."Giliran Mpok Idah datang dari dalam.


"Masa Allah Jul, kirain tadi siapa? Mpok bener bener pangling Jul."


Jul mendengus mendengarnya, semua orang benar benar tak mengenalinya sekarang.


*


Via mendesah, ia gulang guling di ranjang nya. Baru satu hari ia disini sudah di teror dengan mantan suaminya.


Tak lama ia bangun, ia akan mengganti kartu SIM card nya. Ia lupa datang terburu buru kemari dan tak ingat untuk mengganti SIM card nya. Semoga saja Bara tidak melacak dirinya.


"Bodoh nya aku,"


Via mengumpat dirinya sendiri yang bodoh. Ia lalu keluar rumahnya, berjalan ke arah kios yang lumayan jauh. Siang tadi ia melihat ada kios di ujung jalan.


"Uh... Aku harus beli kendaraan kalau begini. Masa iya aku harus berjalan kaki terus. Terlalu sering pinjam juga di omelin sama yang punya."


Via menghembuskan nafasnya perlahan, melihat ada tiga pria di depan kios.


"Permisi..."

__ADS_1


Ketiga pria yang sedang duduk, termasuk Jul mengalihkan pandangannya.


Deg....


Jul menatap wajah cantik Via, dadanya jedak jeduk melihat bidadari cantik di depannya. Apalagi Riki, dia sampai membuka mulutnya lebar saking shock nya. Melihat wanita cantik putih mulus tanpa cacat dan jerawat di hadapannya.


"Masa Allah Jul, Nawang Wulan."


Riki berseru, tak lama kemudian Yono menyenggol Riki. Dan Riki melirik kearah pria yang menyenggol lengannya.


Yono mengangkat dagunya pada Riki agar melihat Jul. Dan Riki mengalihkan perhatian nya. Matanya tak berkedip menatap bergantian Jul dan wanita cantik dan depannya ini.


"Ya neng.."


"Ibu jual kartu SIM card,?"


Mpok Idah menggaruk kepalanya, dan itu benar benar gatal, karna mahluk kecil yang suka menghisap.


"Ga ada!"


Bukan pemilik kios yang menjawab pertanyaan Via. Tapi Jul yang menjawabnya. Memang benar, kios Mpok Idah besar. Tapi dia tak menjual SIM card, jelas dia tau setiap hari nongkrong di sini.


Tentu saja ia masih mengenalinya, wong baru tadi siang mereka bertatap muka. Meski rambut dan jambang nya sudah berubah. Tapi tak membuat Via lupa siapa dia. Pria yang menjadi musuh pertamanya saat datang ke kampung.


"Maaf..."


Sekarang giliran Jul yang salah tingkah, saat Via tersenyum manis padanya. Dan kedua sahabatnya itu bengong melihat pria dan wanita yang saling melempar senyum dan sama sama salah tingkah.


Hemm...


Riki berdehem keras menyadarkan kedua nya. Alhasil Via yang lebih dulu menyadari, jika dia menjadi perhatian mereka semua.


"Bisakah tuan mengantar saya membeli SIM card. Hape saya tak ada jaringannya di sini. Saya akan mengganti nya."


Tanpa basa-basi Via meminta agar salah satu dari mereka bersedia membantunya. Ia sungguh tak ingin berhubungan lagi dengan Bara. Apalagi saat ini ponselnya bergetar lagi, pasti itu dari Bara. Via menatap bergantian ketiga pria di depannya.


"Aku antar..."


Riki mencibir melihat Jul yang dengan sigap menawarkan diri. Dia masih Enek kejadian siang tadi yang di tinggalkan di sawah. Alhasil dia pulang jalan kaki, dan sampai rumah magrib.

__ADS_1


Via mengikuti langkah pria di depannya ini. Ia sebenarnya masih malu karena siang tadi yang membentak nya.


Via melirik kearah motor yang lumayan ektrim. Ya motor Jul memang sudah di modifikasi untuk muat gabah dan yang lainnya.


"Naik..."


"Apa jauh, sebaiknya kita berjalan kaki saja. Jika tak terlalu jauh, sekalian sambil melihat suasana kampung."


Ya mana mungkin Via akan naik ke atas motor itu. Motor berbentuk cross, gundul tak ada spakbor belakang. Sudah di pastikan jika ia menumpang di belakang akan menggantikan spakbor motor Jul.


Jul melirik ke arah motor nya, tak lama kemudian ia menyadari kondisi motor butut milik nya.


Lalu ia berjalan ke depan tak menghiraukan Via yang bingung di tempat nya. Menyadari pria itu pergi, Via mengikuti langkah Jul. Bibir nya menggerutu, mengikuti langkah pria itu.


Setengah jam berlalu Via merasa kakinya benar benar pegal. Ia tak pernah berjalan jauh sebelumnya.


Tak ada yang mengeluarkan suara, baik Jul maupun Via. Jul sendiri masih gugup, berjalan dengan wanita cantik. Sementara Via masih malu dengan kejadian siang tadi.


"Tuan, apa masih jauh?."


"Ya..."


Via mendengus mendengar nya. Seketika ia menyesal telah pergi. Lebih baik besok saja meminjam motor tetangganya lagi. Jul masih berjalan lurus, ia tak menoleh sedikitpun pada Via yang berada di belakangnya. Saat sudah sampai....


"Kau bisa membelinya di sana...?" Jul mengerutkan keningnya, menyadari tak ada jawaban dari belakang. Ia lalu berbalik, dan tak mendapati Via di belakangnya. Kemana dia?


Tak lama kemudian Via datang dari jauh, wajah nya memerah akibat capek berjalan jauh. Dan keringat yang membasahi kening Via. Seketika Jul yang melihatnya menjadi panas dingin. Benda yang berada di tengah paha bereaksi. Hanya dengan melihat keringat nya saja dia sudah melembung sempurna. Apalagi jika dia melihat sawah sempit yang tersembunyi.


"Cepetan..."


Via hanya melirik sekilas. Tak tau apa dia sangat lah lelah, pegal kakinya berjalan jauh. Ada satu kilo mereka berjalan dan sekarang dia menyuruh nya agar cepat.


"Tunggu sebentar saya capek, kita duduk dulu.."


"Kau mau kutinggal..."


Via berdecak mendengar nya, ia lalu membeli SIM card dan menggantinya. Sementara Jul, bingung dengan singkong miliknya yang menggembung. Bagaimana ia berjalan, apalagi ini sakit dan nyut nyutan. Tembus dari kepala atas ke bawah.


Jul mengelusnya dengan tangan nya sendiri. Maksud ingin menenangkan singkong miliknya. Tapi dia justru memejamkan matanya. Nikmat luar biasa di elus seperti ini. Dan singkong miliknya tambah membesar, bukannya ia mengecil anteng. Justru ia berkedut dan berontak....

__ADS_1


.


__ADS_2