Janda Dua Kali

Janda Dua Kali
Ketularan


__ADS_3

Via menutup mulutnya sendiri takut jika suara berisik nya terdengar keluar. Apalagi ini bukan kamar kedap suara. Tentu saja akan sampai ke luar. Saat ia merasakan suaminya begitu liar di bawah sana.


Ah..


Via mencubit keras lengan Jul, dia saja menutup mulut nya agar tak keluar suara nya. Tapi justru suami nya sendiri yang bebas mangap.


Merasa tangan nya di cubit Jul menghentikan gerakannya. Ia menautkan kedua alisnya yang tebal menatap wajah Via bertanya.


"Via ko tangan Jul di cubit. Mas pelanin dikit kalau gitu ya."


Buk...


Via memukul kepala suaminya dengan bantal di sampingnya. Bisa bisanya Jul mengatakan seperti itu. Apalagi ini sedang panas panas nya, dan dia justru menghentikan gerakannya.


Ingin sekali Via, memukul kepala sang suami agar pintar sedikit, dan tidak bodoh.


"Mas Jul bergerak saja, tapi jangan ngeluarin suara, nanti ada yang dengar. Bukankah di luar ada teman mas Jul.?"


Jul mengangguk mengiyakan, ia lupa jika di luar ada Riki dan Yono yang menunggu nya. Tak lama kemudian ia melepaskan diri nya. Ia mengingat perjanjian mereka bertiga tadi. Sedangkan Via merasa heran, melihat suaminya berdiri dan mengambil pakaian nya.


"Kalau begitu Jul keluar dulu, ngusir Riki sama Yono, nanti kita lanjutkan lagi."


Hah...Via kaget mendengarnya.


"Ini gak bisa di biarkan, suaminya ini entah bodoh atau memang ga peka. Masa dia di biarkan nganggur apalagi dia akan sampai puncak sebentar lagi." Via bergumam dalam hati, gemas dengan suaminya sendiri. Apalagi suaminya sudah mengangkat celana nya tinggi, menutupi singkong milik nya.


"Mas Jul, kalau ga di terusin mending kita cerai."


Jul yang mendengar ancaman istrinya langsung gelagapan, mana mungkin ia mau, mereka baru saja menikah dan akan cerai begitu saja.


"Jangan gitu sayang, mas Jul cuma mau usir mereka. Lalu naik begini lagi."


Via memutar bola matanya jengah, mendengar penuturan suaminya. Tak lama kemudian, ia mengerutkan keningnya lagi.


" Via ko singkong Jul jadi lembek?"

__ADS_1


Via melebarkan matanya, mendengar kata suaminya lagi. Ia mengeratkan giginya gemerutuk menahan emosi yang sampai di ubun ubun, suaminya yang bodoh benar benar mengujinya.


Tak lama kemudian Via mendorong tubuh besar Jul. Dan ia segera bangkit dengan tubuh polosnya, menuju ke lemari di samping berjalan acuh. Tak menghiraukan tatapan mata suaminya yang melotot.


Sedangkan Jul sendiri tak percaya melihat tubuh polos istrinya yang sintal. Dia dengan seenaknya berjalan tanpa pakaian di hadapan nya. Tentu saja hal ini membuat bagian tubuh bawahnya berkedut lagi, dan mengembang secepat kilat.


Ia bangkit menarik lengan istrinya, dan mendorong nya lagi ke ranjang Via. Ia lupa jika istrinya ini sudah berpengalaman. Bagaimana nanti jika ia mengatakan pada mantan suaminya, jika dia payah dan lebih unggul darinya. Mengingat semua itu seketika semangat empat lima nya melambung. Batang tumpul yang sudah menggantung loyo berdiri tegak kembali.


Sementara Via kaget saat tangannya di cekal dan ia di dorong lagi ke ranjang miliknya. Apalagi suaminya menindih tubuhnya lagi dengan cepat menyatukan bibir mereka.


Via tak menyangka jika suaminya akan seagresif ini. Bukankah dia bilang singkongnya baru saja menjadi tape. Dan sekarang, ....


"Mas Jul mau apa?"


Via kaget saat merasakan bibir Jul semakin turun ke bawah. Dan tak lama kemudian Jul benar benar menemukan rumput liar.


"Mass..."


Dua tahun menjanda dan setengah tahun tak pernah pulang, tiba-tiba saja suaminya pulang dalam keadaan tak bernyawa. Via baru merasakan bercinta sepanas ini. Padahal baru tadi panas tubuhnya anjlok ke bawah dan sekarang naik drastis kembali.


" Yon, ko Panjul lama ya. Tadi bilang apa dia ke kamu?" Riki menatap sahabatnya. Sedari tadi tangan nya tak berhenti bergoyang kesana kemari, menepuk nyamuk yang menggigit tubuhnya.


"Surah tunggu di sini katanya."


Tapi sepertinya Yono menyadari lebih dulu. Telinga tajamnya mendengar suara jeritan dan ******* seperti nya. Ia menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran bodoh nya. Kenapa juga harus berdiri di sini, seperti orang gila. Sedangkan yang di tunggu tak mungkin keluar.


"Ayo balik Ki, sepertinya Jul akan capek."


Yono melangkah meninggalkan Riki yang masih belum paham.


" Yon, ko Lo pergi aja, gimana dengan Panjul. Dia belum bilang tempatnya di mana."


Yang di panggil tak menjawab, ia melangkahkan kakinya tak menghiraukan Riki sendiri dan memanggilnya.


Riki mendengus melihat sahabatnya tak sekata. Ia menggerutu bibirnya, melihat Yono pergi, itu artinya Yono tak jadi nongkrong bareng. Tak lama kemudian ia mendengar suara desah, seperti suara Panjul sahabatnya.

__ADS_1


Riki menatap pintu di depannya, tak lama kemudian ia mendengar lagi suara laknat itu.


"Sialan Lo Jul,"


Riki berteriak lalu berbalik dan pergi meninggalkan rumah Via. Sepanjang jalan ia menyumpahi Panjul.


"Dasar bujang lapuk, ngerjain gua, sialan emang tuh anak. Awas saja besok, gue bejek bejek Lo, teman ga ada akhlak.


Brakkk...


Bulan yang berada di ruang tipi berjengit mendengar pintu di tutup kencang.


"Bang Riki kenapa sih,?"


Riki menatap pada istrinya, tak lama kemudian ia tersenyum lebar. Untung saja ia punya istri, coba kalau tidak, bisa mandi sabun dia.


Riki menarik tangan istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.


"Bang Riki mau ngapain,?" Bulan bertanya, saat merasakan tangan suaminya masuk ke dalam daster yang di pakainya.


Riki tak menjawab nya, ia melancarkan aksinya pada istrinya. Meloloskan daster bulan. Tangan nya juga dengan cekatan melepaskan kain yang menempel di tubuhnya sendiri.


Desah bulan saat Riki menyesap salah satu bersaudara itu. Dan mendengar suara istrinya. Riki semakin terbakar, tangan nya berpindah ke bawah, dan ia mengerutkan keningnya mendapati milik istri nya yang lebih tebal dari biasanya.


"Sayang ko ini jadi agak bengkak.?"


Bulan melotot kan matanya, tak lama kemudian ia mendorong tubuh suaminya.


"Maaf bang, bulan lagi datang bulan. Abang tunggu seminggu lagi."


Riki melotot tak percaya mendengar nya. Ia lalu menunduk melihat batang yang sudah berdiri tegak. Ia mengepalkan tangannya saat mengingat Panjul yang membuatnya seperti ini. Ia lupa jika semalam saja, istrinya sudah mengatakan jika dia sedang tak bisa di sentuh.


"Ah sialan..."


Riki mencari pakaian miliknya dan akan pergi ke kamar mandi. Terpaksa ia harus mandi pake sabun malam ini.

__ADS_1


"Sialan Lo Jul..."


__ADS_2